HSNI Keluhkan Kurangnya Kuota BBM Nelayan di Lamtim

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesi (HNSI) Lampung Timur terpilih, Bayu, Senin (13/3/2017), usai Muscab, menyatakan akan meperjuangkan kuota BBM nelayan. (Foto:Lampost/Agus s)

SUKADANA--Kuota Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar untuk nelayan di Kecamatan Labuhanmaringgai, Lampung Timur, yang disediakan pemerintah dikeluhkan ribuan nelayan karena kuota tidak mencukupi.
Selain itu jaring trawl (dogol) di laut Labuhanmaringgai masih marak beroprasi. Hal itu diungkapkan Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesi (HNSI) Lampung Timur terpilih, Bayu, Senin (13/3/2017), usai Muscab.
Bayu mengatakan selama kepemimpinannya lima tahun kedepan, HNSI akan memperjuangkan nelayan Lamtim terkait susahnya mendapatkan solar sebagai bahan bakar perahu nelayan. Dengan jumlah 1.300 nelayan yang ada di Kecamatan Labuhanmaringgai hanya mendapatkan kuota solar sebanyak 288 ribu liter melalui Setasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) seharusnya kuota yang dibutuhkan ribuan nelayan yaitu 500 ribu liter per hari. "Sangat kurang, ini menjadi PR pemerintah," ujar Bayu.

Selain itu, Bayu bersama anggotanya akan menyelesaikan persoalan jaring trawl (dogol) yang masih menjadi sorotan pemerintah, dan masih banyak digunakan nelayan setempat.

Menurut Ketua HNSI, perlu waktu menghentikan jaring trawl dan harus ada solusi pergantian jaring. "Kalau ganti jaring berarti nelayan butuh modal lagi yang bisa puluhan juta rupuah," ujarnya.