Istana Isyaratkan Buka Kembali Studi Pemindahan Ibu Kota

Mensesneg Pratikno (mengenakan batik)/ANT/Yudhi Mahatma

Jakarta -- Wacana pemindahan Ibu Kota Indonesia ke Palangkaraya kembali mencuat. Menteri Sekretaris Negara Pratikno mengatakan akan membuka kembali studi mengenai hal itu.

"Itu kan cerita lama, sudah lama. Kita akan membuka lagi studi mengenai itu," kata Pratikno di Kemenko Polhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Senin 20 Maret 2017.

Pembukaan kembali studi lama dianggap penting karena memindahkan Ibu Kota Negara bukan perkara gampang. Mantan Rektor Universitas Gajah Mada itu menegaskan, butuh studi mendalam sebelum mengambil keputusan.

Pemerintah akan melakukan studi mengacu kepada berbagai studi lama. "Katanya dulu ada studi itu. Jadi kita sedang mau cari. Karena sudah diperdebatkan, jadi kita mau cari sekarang," tegas dia.

Wacana pemindahan Ibu Kota Indonesia ke Palangkaraya bukan barang baru. Wacana ini sudah dikemukakan sejak Presiden pertama Indonesia Sukarno pada 1950-an.

Gubernur Kalimantan Tengah Sugianto Sabran bahkan mengaku siap mewujudkan wacana pemindahan Ibu Kota negara ke Palangkaraya. Hal ini pernah disampaikan Sugianto kepada Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro.

"Kami tidak main-main untuk mendukung rencana pemerintah pusat. Kalau memang butuh, kami sangat siap jadi Ibu Kota Negara," kata Sugianto saat menyambangi Kantor Bappenas di Menteng, Jakarta Pusat, Rabu 11 Januari.

Sugianto menilai wacana ini logis. Pemindahan Ibu Kota bisa mengurangi beban Jakarta yang padat. Ia menilai, Jakarta tak akan sanggup memikul beban sebagai Ibu Kota dalam 20 tahun ke depan.