Jalan Benar Napi Teroris

Ilustrasi napi. cdn.tmpo.co

TERORIS menjadi ancaman serius, sangat serius, yang terus mengintai kedamaian negeri ini. Mati satu tumbuh seribu adalah ungkapan yang pas untuk menggambarkan kesuburan Indonesia sebagai ladang terorisme.
Kaum berideologi kekerasan itu tumbuh dan menyebar luas. Sudah puluhan bahkan ratusan teroris tertangkap hingga ada yang ditembak mati. Tetapi muncul teroris baru dengan keahlian dan keberanian membangun jejaring di Tanah Air.
Terbaru, Densus 88 Antiteror Mabes Polri menggerebek terduga teroris di Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat. Dua hidup dan dua lagi tewas tertembus timah panas sebelum sempat beraksi pada malam perayaan Tahun Baru. Sebelumnya, polisi juga menangkap tujuh orang terkait jaringan teroris Bahrun Naim.
Sementara di Lampung, meski belum ditemukan indikasi jaringan teroris, Bumi Ruwai Jurai waspada karena menerima titipan satu narapidana teroris lagi. Sebelumnya dua napi teroris lebih dulu dititipkan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Metro.
Tuah Febriwansyah alias Fachri dititipkan di LP Kelas 1A Rajabasa, Bandar Lampung, Jumat (23/12/2016). Napi ini sebelumnya mendekam di LP Salemba Jakarta lalu dipindahkan ke Rajabasa untuk menjalani sisa hukumannya.
Dihukum 5 tahun penjara karena dia simpatisan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) atau Negara Islam Irak dan Suriah dan didenda Rp100 juta oleh Pengadilan Negeri Jakarta Barat pada Februari 2016.
Fachri membina, mengarahkan, sekaligus merekrut simpatisan ISIS di negeri ini. Bahkan menjadi pengurus, pengumpul, serta penyaluran dana kegiatan ISIS. Dia melakukan propaganda berbau suku, agama, ras, dan antargolongan.
Kepindahan narapidana teroris di Lampung ini harus disikapi serius. Aparat wajib lebih fokus mengawasinya. Sebab, bisa jadi di dalam tahanan menyebarkan virus radikalisme baru kepada warga binaan.
Petugas LP memiliki tanggung jawab membina teroris agar kembali ke jalan yang benar. Ketika menghirup udara bebas, mereka bisa diterima kembali masyarakat dengan melaksanakan ajaran rahmatan lil alamin.
Terorisme tumbuh subur di Indonesia berakar pada ideologi radikal ekstrem, penyimpangan ajaran agama, dan kemiskinan absolut. Pembasmian terorisme tidak harus represif, tapi mempersempit ruang geraknya.
Tugas negara menempuh langkah preventif mengintensifkan kontraterorisme. Perang jangka panjang terhadap terorisme tidak bisa terus-menerus mengandalkan kehebatan polisi. Menyejahterakan rakyat adalah langkah efektif. Rakyat juga harus memahami agama secara komprehensif, sebab itu ide terorisme tidak laku. n