Jalan Seumur Jagung

Susilowati, wartawan Lampung Post

"LE, mau ikut enggak?"
"Ke mana, Yun?
"Antar adikku ke Rajabasa, mau pulang kampung."
"Naik motor?"
"Enggak, naik mobil Akang."
"Boleh, aku ganti pakaian dulu ya."
"Jangan lama-lama, Le, nanti adikku ketinggalan bus."
"Tenang, lima menit aku sudah masuk mobil."
***
"Akang jalannya kok sudah rusak to, kan beberapa minggu lalu kita lewat jalan ini baru diperbaiki, kenapa sekarang sudah rusak?"
"Ya jangan tanya saya dong, Le. Tanya sama yang pemborong jalan kenapa bisa sampai seperti ini."
"La, saya enggak tahu siapa yang mborong.”
"Akang kan sering keliling ke daerah lain, ke Kalianda, ke Tanjungbintang, ke Lampung Tengah, Lampung Timur, apa jalannya juga cepet rusak?"
"Kalau yang bikin orang Indonesia, masih sama, Le."
"Kok Akang jadi menghina orang Indonesia sih, nanti di-bully orang nanti."
"Ya, ini kenyataan, Le. Di semua daerah umur jalan sama umur jagung itu beda tipis. Baru dibuat sudah rusak dan repotnya ini enggak ada yang bertanggung jawab."
"Seharusnya kan ada yang bertanggung jawab to, Kang?"
"Ya, itu secara prosedur, tapi kenyataannya hampir semua jalan yang kita lintasi lebih lama rusaknya daripada baiknya."
"Terus kita kan bayar pajak, kita punya hak dong untuk nuntut."
"Hehehe, kalau mau nuntut rame-rame ya ayuk, tapi nuntut ke mana? Setiap perbaikan jalan kan enggak ada papan proyeknya, jadi kayak siluman saja, tahu-tahu ada yang memperbaiki meski baiknya seumur jagung."
"Kadang malah kurang dari umur jagung, Akang," Makyun yang dari tadi diam ikut nimbrung.
"Ya, entahlah sispa yang salah, pemborong, perancang, pelaksana proyek, atau semuanya. Yang pasti kita dibuat nrimo dengan yang ada."
"Coba buat jalan yang benar, yang awet, biar enggak bentar-bentar dandan jalan."
"Ya, mungkin kalau jalan enggak rusak jadi enggak ada proyek, makanya dibuat jalan asal jadi."
"Kenapa enggak berpikir kalau jalan awet, duitnya bisa dipergunakan untuk yang lain, supaya daerah kita ini kelihatan majunya, kelihatan ada orang pintarnya."
"Maksudnya? Kok kelihatan orang pintar?"
"Kan hanya orang-orang pintar yang bisa membangun jalan yang awet dan tangguh. Kalau orang enggak pintar, ya seperti ini."
"Ini juga orang pintar yang bikin, Le."
"Pinter apa, pinter minteri, pinter ngolah proyek, pinter nyunat uang rakyat, pinter lobi supaya semua orang diam, dan memebiarkan jalan tak berkualitas untuk masyarakat."