2013-07-12 12:46:00
Jalur Alternatif Sp. Gayam-Ketapang Rusak Parah

KALIANDA (Lampost.co): Menjelang Lebaran 1434 H, kondisi jalan alternatif Simpang Gayam-Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan, sepanjang 12 kilometer masih rusak parah. Padahal saat terjadi kepadatan dan antrean panjang disekitar pelabuhan Bakauheni, jalan raya tersebut menjadi jalur alternatif utama menuju Bandar Lampung dan jalan lintas pantai timur (Jalinpantim) Simpang Lima, Kecamatan Ketapang.

Selain jalan alternatif, persiapan untuk kelancaran arus mudik Lebaran di jalan raya simpang Palas tembus Jalipantim Bunut, Kecamatan Sragi, juga masih mengancam keselamatan pengguna jalan raya. Sebab dari 15 kilometer jalan milik provinsi itu, terpantau sekitar 2 kilometer kerusakannya cukup parah, terutama ruas jalan raya Desa Sukapura, Kecamatan Sragi atau sebelum kantor camat Sragi dari simpang Palas.

Pantauan Lampung Post, Kamis (11-7), pada dua ruas jalan provinsi tersebut belum ada upaya perbaikan dari pemerintah. Banyak badan jalan yang digenangi air karena kedalaman lubang dibadan jalan tersebut mencapai 60 sampai 70 centimeter. Lebih parah lagi di jalan alternatif. Jalan sepanjang 12 km yang melintasi Desa Tetaan, kecamatan Penengahan, dan desa Karangsari, Sri Pendowo, Bangunrejo, serta Desa Ketapang, kecamatan Ketapang sulit menemukan badan jalan yang mulus. Hampir seluruh badan jalan mengalami kerusakan cukup parah.

Sedangkan pengamatan di ruas jalinsum dan jalinpantim kabupaten Lampung Selatan, upaya perbaikan pada dua jalur mudik tersebut sudah dilakukan sejak sebulan yang lalu. Namun perbaikan pada ruas jalan nasional tersebut terkesan tidak maksimal. Pasalnya perbaikan tambal sulam tersebut menyisakan pekerjaan yang belum selesai. Seperti pada ruas jalinsum Dusun Harapan, Desa Sumur, kecamatan Ketapang, beberapa titik badan jalan yang sudah dikupas aspalnya tidak ditutup aspal kembali, sehingga mengancam keselamatan pengguna kendaraan roda dua.

Sejumlah warga yang berdomisili di jalan alteratif tersebut berharap pemerintah segera memperbaiki jalan secara permanen. Tidak seperti sebelum-sebelumnya, perbaikan jalan hanya tambal sulam dan asal-asalan, sehingga jalan cepat rusak, padahal perbaikan belum ada tiga bulan..

"Bahkan belum sampai satu bulan jalan ini sudah rusak lagi. Bagaiman tidak cepat rusak..lha wong yang lewat truk-truk besar, perbaikannya hanya tambal sulam tanpa menggunakan bantuan alat berat yang memadai sesuai kapasitas jalan," ujar salah satu warga Desa Karangsari, kecamatan Ketapang, Edi (40), kemarin.

Akibat kerusakan jalan tersebut, ungkap Edi, tidak hanya kerap menimbulkan kecelakaan lalulintas, namun rawan aksi tindak kejahatan, terutama pada malam hari."Apalagi menjelang lebaran, tentunya banyak pemudik yang membawa kendaraan tidak hafal kondisi jalan. Bisa saja mereka menjadi korban akibat jalan rusak. Kalau gak jatuh ditodong," imbuhnya.

Untuk itu, Ia bersama pengguna jalan dan warga lainnya mengharapkan pemerintah serius melakukan perbaikan di jalan alternatif tersebut."Jalan ini pernah diperbaiki setelah kami menggelar aksi dengan memblokir jalan alternatif pertengahan tahun lalu. Namun perbaikannya asal-asalan, jadi sudah rusak lagi," tutupnya.

Hal serupa juga diharapkan pengguna jaan raya Simpang Palas-Jalinpantim Bunut, kecamatan Sragi. Mereka mendesak pemerintah segera memperbaiki jalan tersebut. Pasalnya, jalan hotmix yang kondisinya bergelombang dan berlubang cukup dalam kerap menimbulkan lakalantas.“Kami berharap instansi terkait segera memperbaiki jalan tersebut. Sebab, sudah banyak yang menelan korban akibat jalan rusak,” kata Jamrullah (41) salah seorang warga Desa Palas Pasemah, kecamatan Palas, kemarin.

Alex Diantoni (23), warga lainnya menghimbau pengguna jalan, terutama para pemudik kendaraan bermotor yang belum paham kondisi jalan, agar berhati-hati saat melintasi ruas jalan raya Desa Sukapura, kecamatan Sragi. Pasalnya saat turun hujan seperti sekarang ini, jalan tidak kelihatan rusak karena lubang-lubang jalan yang menganga lebar digenangi air.

“Saya sebagai warga sangat menyayangkan perbaikan jalan selama ini terkesan asal jadi. Hal itu dapat terlihat jalan sudah rusak, padahal belum lama diperbaiki," harap warga desa Sukaraja, kecamatan Palas ini.

Menurutnya, untuk menekan terjadinya lakalantas, sebagian masyarakat pernah melaksanakan gotong royong untuk menambal badan jalan yang berlubang dengan tanah dan batu. Namun, upaya itu tidak bertahan lama, saat hujan turun, tanah dan batu yang digunakan untuk menutupi badan jalan tersapu air. "Warga sudah berupaya menutup jalan yang berlubang, namun sia – sia. Kami berharap pemerintah segera melakukan perbaikan," harap Alex. (KRI/L3) Foto: Aan Kridolaksosno

komentar facebook