Jangan Antikritik

Dian Wahyu Kusuma, wartawan Lampung Post

RAMADHAN KH tampaknya kurang puas dengan penulisan biografi mantan Presiden RI Soeharto. Alasannya, si narasumber tidak mau “ditelanjangi” atau masih ada yang ditutupi. Kepuasan batinnya tidak pul saat bukunya terbit. Ia pikir masih ada kekurangan dari buku berjudul Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya.
Di buku yang dirilis 1989 inilah Soeharto bicara banyak hal, termasuk Surat Perintah 11 Maret (Supersemar). Ramadhan KH menilai belum bisa mengorek perasaan Pak Harto. Pastinya ini menjadi poin penting, menjadi tantangan bila menulis biografi supanya tidak ada yang disembunyikan.
Menulis biografi menjadi penting. Siapa pun kita pasti ada nilai positif yang dapat diambil pelajaran atau kalau ada pengaruh negatif, perbuatan tidak baik itu menjadi refleksi-renungan kepada pembaca supaya tidak berulang. Menulis biografi bisa menjadi pilihan untuk sekadar berbagi dengan keluarga besar ataupun suvenir bagi saudara atau rekan untuk lebih saling mengenal. Saat ini media sosial menjadi sangat berkembang, sehingga membuat netizen fobia dengan unsur-unsur tertentu.
Seperti buku Jokowi Undercover akhir 2016 lalu sudah beredar di dunia maya, tapi belum saya baca. Layaknya pemimpin pastilah akan mendapat banyak kritikan. Kalau memang tidak puas dengan tulisan artikel di media massa balas dengan artikel pula. Begitu juga dengan menulis buku, bila tak sepaham, terbitkanlah buku sanggahan. Situs www.cnnindonesia.com menyebutkan bahwa memang ada unsur kebencian dalam buku tersebut saat mewawancarai kerabat penulisnya.
Kalau penulis buku Jokowi Undercover yang dicoba dilaporkan atas nama UU ITE, pastinya banyak pejabat yang akan berlindung dari UU ini. Meski masih banyak polemik, pelapor lebih banyak pejabat dan pengusaha dibanding masyarakat bawah.
Layaknya Presiden RI sebelumnya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menerima kritikan ketika diceritakan buku Gurita Cikeas dan jilid duanya Cikeas Kian Menggurita. Sang penulis George Junus Aditjondro yang belum lama ini wafat mungkin akan selalu dikenang dengan karyanya.
Budaya menulis menjadi lebih intelektual dibandingkan budaya lisan. Dalam buku Kajian Lintas Media Kelisanan dan Keberaksaraan dalam Surat Kabar Terbitan Awal di Minangkabau (1859—1940-an) oleh Sastri Sunarti yang terbit 2013 lalu menunjukkan budaya menulis di Sumatera Barat sudah lama dilakukan.
Pujangga dan penyair banyak pula muncul dari Sumatera Barat. Begitu juga dengan pahlawan nasional seperti Bung Hatta. Dengan tulisan dan kritikan menjadi momen penting saat pemangku kepentingan di negara ini yang mulai melenceng dari tupoksinya. Makanya, jangan berhenti menulis!