Jangan Asal Naik!

Iyar Jarkasih, wartawan Lampung Post

MENYAMBUT 2017, masyarakat dibuat terkejut dengan maraknya kenaikan sejumlah sektor yang menjadi kebutuhan vital. Harga bahan bakar minyak (BBM), tarif listrik, tarif penerimaan negara bukan pajak (PNBP) seperti SIM, STNK, pengesahan STNK, STCK, TNKB, hingga harga cabai pun ikutan melonjak.
Bertajuk pencabutan subsidi, tarif listrik 900 va kini betarif normal. Begitu juga dengan bahan bakar jenis pertalite dan pertamax naik Rp300/liter. Padahal, untuk BBM jenis premium yang konon masih disubsidi pemerintah, pasokannya kini perlahan mulai menyusut.
Tidak hanya itu, harga cabai meroket hampir di seluruh daerah di Tanah Air, termasuk Lampung. Di Sai Bumi Ruwa Jurai, baik harga cabai merah atau cabai rawit masing-masing naik berkisar Rp10 ribu/kg. Kenaikan tersebut membuat masyarakat, terutama dari kalangan ekonomi ke bawah shock. Mereka tidak menduga jika kado di awal tahun ternyata cukup pahit.
Di media sosial, keluhan soal kenaikan tersebut marak terlontar. Salah satunya seorang teman yang menulis di akun miliknya, "Hadiah Tahun Baru 2017 untuk rakyat, BBM naik, listik naik, STNK, BPKB, dan sembako naik. Pemerintah kebingungan cari sumber uang atau masih kurang puas dengan uang yang ada."
Tidak hanya dibebani dengan semakin tingginya pengeluaran, masyarakat juga kini dibuat resah. Di Lampung, misalnya, tidak lama setelah pemerintah menaikkan harga BBM, muncul temuan dari Hiswana Migas soal adanya BBM oplosan di sejumlah daerah. Sudah harus membayar mahal, masyarakat pun dicekoki kualitas produk yang buruk.
Tak hanya BBM, pascapencabutan subsidi listrik, pemadaman justru sering terjadi, khususnya di Bandar Lampung. Salah satunya di bilangan Way Kandis. Pemadaman terjadi selepas magrib dengan durasi sekitar 2—3 jam selama tiga hari berturut-turut.
Semestinya, kebijakan menaikkan harga kebutuhan-kebutuhan vital dapat diimbangi dengan pelayanan yang baik. Jangan sampai masyarakat terkesan hanya menjadi objek penderitaan.
Pemerintah harus mampu mengontrol dan menjamin agar kualitas dan pasokan BBM tetap baik. Begitu juga soal pelayanan kelistrikan, pelayanan pembayaran pajak, hingga ketersediaan suplai komoditas seperti cabai.
Sangat tidak adil. Sudah dibebani harga tinggi, tapi masih juga menyusahkan masyarakat. Ibarat pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga. Atau seperti yang teman saya bilang, "Naik boleh, tapi jangan asal naik!"