Jangan Cemari Prestasi Polri 2016!

H. Bambang Eka Wijaya

PRESTASI Polri selama 2016 layak dicatat gemilang, setidaknya dengan dua simpul. Pertama, Polri mampu meredam ketegangan akibat pemaksaan untuk acara salat jumat di jalanan Bundaran HI, yang berkat pendekatan Kapolri Tito Karvavian akhirnya disepakati menjadi Aksi Damai 212 doa bersama untuk bangsa yang diikuti jutaan umat Islam di Lapangan Monas.
Kedua, mampu menyingkap hanya dalam waktu satu hari misteri perampokan dengan penyekapan 11 orang yang menewaskan enam korban di Pulomas, Jakarta, awal pekan ini. Memang keberhasilan itu tak terlepas dari rekaman CCTV di rumah korban hingga dengan mudah polisi cepat mengenali salah satu pelakunya yang berkaki pincang.
Atau juga kecerobohan para pelaku yang meninggalkan banyak sidik jari di TKP sehingga bisa dipastikan siapa saja pelakunya. Tapi, kecepatan polisi menemukan persembunyian pelaku, lalu melumpuhkan dan menangkapnya, merupakan prestasi yang layak dihargai.
Sebagai simpul banyak prestasi polisi sepanjang 2016, kedua hal itu mudah untuk diingat dan ditonjolkan. Namun, bukan berarti prestasi lain tak kalah penting. Semisal Densus 88 Antiteror yang sepanjang 2016 banyak membongkar jaringan teroris di Tanah Air.
Episode terakhir Densus 88 Antiteror berhasil menyingkap serangkaian rencana serangan bom di akhir tahun sehingga sampai hari besar Natal barusan, kalau di banyak negara lain terjadi serangan bom teroris secara beruntun menewaskan banyak orang, segala puji dan syukur ke Ilahi Rabbi, Indonesia sejauh ini lolos dari serangan sama berkat rencana teroris terlacak Polri.
Terlebih lagi prestasi kepolisian di Lampung, yang oleh warga Jakarta dan sekitarnya sempat dijuluki sebagai daerah sarang begal. Sepanjang 2016, Polda Lampung bekerja keras menyapu bersih kawasan-kawasan yang ditengarai sebagai sarang begal. Hasilnya lumayan, bukan hanya kejahatan begal berkurang signifikan di daerah Lampung, melainkan juga kesan negatif di daerah lain bahwa Lampung sarang begal, juga menurun.
Atas semua prestasi yang layak dibanggakan sepanjang 2016 itu, alangkah disayangkan kalau akhirnya dicemari oleh hal sepele yang amat naif dan bisa mendegradasi dari posisi Polri yang ideal itu. Salah satunya, yakni tidak hadirnya sejumlah mantan pejabat kepolisian di Sumatera Selatan memenuhi panggilan untuk pemeriksaan KPK. (Kompas.com, 28/12/2016)
Tentu sangat disayangkan jika hal negatif yang sepele itu menabiri pandangan masyarakat terhadap prestasi Polri sepanjang tahun. ***