Jejak Sejarah dan Tradisi Berladang

Ilustrasi berladang. kuartil.files.wordpress.com

PENELUSURAN jejak megalitik saya lakukan melewati jalur penjelajahan yang sama yang sebelumnya diambil oleh para Paminggir Semangka saat mereka melakukan penjelajahannya pada tahun 1765 untuk menghancurkan desa pemburu kepala di Wai Mintjang. Berikutnya, ketika perjalanan ke daerah Semangka, ternyata penelitian yang dilakukan itu menjadi sia-sia, terutama peristiwa yang terjadi di Talangpadang.
Ada penduduk yang sangat mengetahui daerah itu berdasarkan jejak permukiman dulu di wilayah Ilahan. Baru di sekitar Kota Agung, diperoleh data yang diceritakan oleh Batu Bedil mengenai sebuah batu aneh yang berbentuk senapan yang diletakkan oleh setan di tengah hutan di masa silam.
Setelah dilakukan beberapa usaha penelusuran megalit, pernah ditemukan pemandu yang dapat membawa peneliti ke tempat yang dimaksud. Bagi peneliti, setiap petunjuk sangatlah penting yang dapat menunjukkan jejak penduduk asli yang terusir dari wilayah tersebut. Penjelajahan pertama ke pegunungan ini berhasil dilaksanakan dan dapat diketahui di mana tempat tinggal suku Abung selatan pada zaman dulu. Dalam perjalanan menuju Tandjung Karang ke Kota Agung, di tengah perjalanan terdapat wilayah Pringsewu.
Setelah itu, terletak pemukiman Tandjung Kemala, Tiuh Memon, dan Tandjung Heran. Di wilayah ini, terdapat jalan kecil yang bercabang menuju arah barat laut yang melintasi Wai Mintjang setelah kira-kira 2,5 km. Hingga Tandjung Heran wilayah terus menanjak, tetapi daerahnya agak datar.

Bercocok Tanam
Tepat di balik wilayah tersebut, kini daerahnya bergunung-gunung. Jalan menuju ke daerah tersebut sebagian merupakan hutan sekunder yang cukup lebat. Di luar Wai Mintjang, terdapat beberapa keluarga dari kalangan suku Jawa yang menetap di tiga rumah bambu yang dibangun berdekatan. Tampaknya, mereka menanami lahan dengan sejumlah kecil tanaman kopi dan lada di sebelah sepetak sawah kering.
Di seberang aliran sungai kecil, terdapat jalan yang mengarah ke tepi Wai Muara Abung. Jembatan kayu yang lapuk menuntun jalan ke seberang tepi utara, yang kemudian terletak kampung Gedung Agung, Penantian dan Muaradua. Tiga pemukiman tersebut termasuk ke wilayah Marga Rebang yang juga ditinggali oleh Rebang-Melayu yang berpindah dari wilayah utara dalam beberapa generasi terakhir. Setelah beberapa jam kemudian, total sekitar dua setengah jam jauhnya dari Tiuh Memon, kami sampai di kampung yang telah maju bernama Pulau Panggung.
Permukiman ini dulunya merupakan Umbulan yang hanya ditempati pada masa bercocok tanam. Namun, kini menjadi suatu kampung yang belum memiliki rumah-rumah yang kokoh, seperti perkampuan Muaradua, Gedung Agung, dan Penatian. Rumah-rumah ini dibangun dengan bambu. Wilayah Pulau Panggung sangatlah bergunung-gunung. Tempat ini sendiri terletak setinggi 300 m dari permukaan laut.
Tepat di balik pemukiman ini kami tiba di Wai Ilahan. Di sini masih terdapat aliran sungai yang berasal dari hutan primer. Airnya mengalir sangat deras di antara bebatuan, sering juga berbuih. Sebuah jalan setapak menuju ke tepi di sisi turunan yang curam. Sungai ini hanya bisa dilewati menggunakan batang kayu yang besar.
Di tepi yang lain, kami berjalan menanjak sekitar tiga puluh meter, hampir vertikal dengan pinggiran sungai yang ditumbuhi tetumbuhan yang sangat lebat. Setelah itu, terdapat jalan setapak yang curam menuju utara ke pegunungan yang tertutupi oleh hutan primer. Jalannya sering dipenuhi oleh tumbuhan alang-alang yang berasal dari pembukaan ladang dahulu. Setelah sekitar satu jam perjalanan, kami tiba di sebuah umbul, gubuk sederhana dari lempengan bambu yang dihuni oleh orang Rebang. Selanjutnya diketahui, wilayah antara Wai Ilahan di bagian selatan dan Wai Uluk Ngaherong di utara merupakan termasuk daerah gunung Tangkit Kuripan dan bukit kaki gunung tersebut. Puncak gunung Kuripan memiliki ketinggian 625 m. Bentang ketinggiannya di mana orang Rebang tinggal, terletak setinggi 450 m. Sejak bertahun-tahun, orang Melayu selalu menanami ladang mereka dengan tanaman lada di punggung gunung tersebut. n