Jendela Lampung Peduli Anak Putus Sekolah

Anak-anak tengah mengikuti kegiatan belajar mengajar di Rumah Baca yang digagas komunitas Jendela Lampung. n LAMPUNG POST/ZAINUDDIN

BANDAR LAMPUNG -- Banyaknya angka anak putus sekolah serta minimnya fasilitas dan kesadaran masyarakat tentang pendidikan membuat sekelompok pemuda di Lampung membuat komunitas Jendela Lampung. Komunitas yang berdiri sejak November 2014 tersebut selama ini konsentrasi untuk mengurusi pendidikan anak dengan beragam kegiatan.
Sekretaris Umum Jendela Lampung Rhomadhona mengatakan saat ini sedikitnya 80 anak yang aktif bergabung mengikuti kegiatan Jendela Lampung. Salah satu kegiatan rutin yang dilakukan komunitas tersebut adalah memberikan jam tambahan kepada anak-anak di lingkungan TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Bakung, Telukbetung Barat, Bandar Lampung, yang bernama Rumah Baca setiap Minggu pada pukul 10.00 hingga pukul 12.00. Mereka juga mengajarkan cara membaca, menulis, dan menghitung bagi anak-anak yang belum sekolah.
TPA Bakung menjadi pilihan karena daerah ini menjadi salah satu kawasan kumuh dan termarginalkan. "Di TPA Bakung banyak anak putus sekolah dan kaum marginal, mereka memiliki keterbatasan tapi punya keinginan untuk belajar. Anak-anak butuh jam tambahan belajar di sekolah," kata Dona, biasa dia disapa.
Di Rumah Baca tersebut anak-anak mengikuti jam tambahan belajar atau les sama dengan mata pelajaran yang ada di sekolah, seperti Matematika dan Bahasa Indonesia.
"Kelasnya kami pisah, mulai dari kelas 0 untuk yang belum bisa baca sampai anak-anak SMP," ujarnya, Jumat (10/2/2017).
Dona berharap melalui kegiatan itu dapat meningkatkan semangat belajar dan minat baca kepada anak. "Niat utamanya supaya anak-anak gemar membaca dan senang dengan buku," kata dia.
Layaknya tempat les, di Rumah Baca yang didirikan oleh komunitas Jendela Lampung, anak-anak juga diberikan materi dan soal-soal khusus ketika menjelang ujian semester. "Kami berikan contoh-contoh soal untuk dikerjakan. Selain itu, kami juga memberikan jam belajar khusus," katanya.
Setelah anak-anak mengikuti les di Rumah Baca Jendela Lampung, perlahan-lahan mereka menunjukkan dampak positif. Mulai dari perubahan perilaku, sikap, bahkan yang awalnya belum bisa membaca kini mulai pandai membaca. "Banyak perubahan, terutama perilaku ke arah yang lebih baik. Dari yang tidak bisa pegang pensil, kami arahkan, sekarang jadi bisa," ujar Dona.
Banyak tantangan yang dihadapi untuk membujuk anak agar mau datang dan belajar di Rumah Baca. Minimnya kesadaran serta fasilitas yang terbatas membuat mereka harus bekerja ekstra supaya anak tertarik untuk datang.
"Kadang kami datangi rumah anak-anak untuk membujuk mereka supaya mau datang dan belajar," katanya.
Dona berharap lewat komunitas tersebut dapat membuka cakrawala anak-anak agar suka membaca buku. Selain itu, ia juga berharap ke depan tidak ada lagi anak putus sekolah. Kemudian semangat belajar dan minat anak untuk membaca lebih dari sebelumnya.
"Melihat anak-anak yang awalnya belum bisa membaca menjadi bisa tentu menjadi hal yang menyenangkan, apalagi mereka semangat untuk belajar dan membaca buku," kata Dona.