Jokowi Beberkan Hasil Kerja Selama Dua Tahun di Depan Ketum Parpol

Presiden Joko Widodo memberi sambutan di HUT PDI-P/MTVN/Yogi Bayu Aji

Jakarta -- Presiden Joko Widodo mengambil momentum perayaan HUT ke-44 PDI Perjuangan untuk menyampaikan capaiannya dua tahun ini. Acara itu dihadiri para ketua umum partai politik.

Presiden mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2016 cukup baik. Ia berharap, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini setidaknya 5,1 persen.

Presiden mengatakan, pada triwulan kedua 2016, pertumbuhan ekonomi di Tanah Air mencapai 5,18 persen. Triwulan ketiga turun menjadi 5,02 persen.

Dia mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup membanggakan bila dibandingkan negara lain seperti Malaysia, Jepang, Rusia, Brasil, dan Meksiko. "Kita jauh lebih baik," kata Presiden, Selasa (10/1/2017).

Menurut Presiden, Indonesia ada di posisi ketiga dalam negara-negara yang tergabung dalam The Group of Twenty (G-20). Meski menyadari pertumbuhan ekonomi kecil, Presiden mengatakan, capaian ini mesti disyukuri karena secara global ekonomi sedang melambat.

Presiden mengatakan, tantangan terberat yang dihadapi Indonesia adalah ketimpangan. Beberapa tahun lalu, gini rasio Indonesia 0,41. Dua tahun ini turun, tetapi hanya sedikit, menjadi 0,397.

Dibandingkan Tiongkok, India, Filipina, Malaysia, Thailand, gini rasio Indonesia lebih baik. "Tetapi hal satu ini, masalah kesenjangan, patut kita waspadai," ujar Presiden.

Tantangan lainnya berkaitan dengan pengangguran. Dibandingkan tahun sebelumnya, menurut Presiden, angka pengangguran menurun 0,31 persen. "Meski (turun) sedikit, ini prestasi yang perlu kita sampaikan karena negara lain naik."

Kemiskinan juga menjadi tantangan. Dia mengatakan, angka kemiskinan pada Maret 2016 turun 0,36 persen.

Kebijakan apa yang akan diambil pemerintah menghadapi tantangan tersebut? Presiden menyampaikan, pemerintah mengkaji kebijakan ekonomi berasas Pancasila, ekonomi gotong royong, berkeadilan, dan merata.

"Karena percuma kalau pertumbuhan ekonomi tinggi tetapi tidak merata, hanya dinikmati segelintir orang," ujar Presiden.

Ia mengatakan, pembangunan mesti dimulai dari pinggir, dari pulau terdepan, dari desa. Itulah yang dimaksud Presiden ekonomi Pancasila. Ia mengambil contoh proyek di Entikong.

Desember dua tahun lalu, Presiden mengaku ke Entikong dan menemukan gedung-gedung pemerintah di sana seperti kandang. Ia memerintahkan Kementerian Pekerjaan Umum merobohkan kandang dalam dua pekan dan membangun kembali dalam dua tahun.

"Ini bukan masalah kemewahan, bukan harus bagus, tetapi ini etalase terdepan negara yang jadi kebanggaan, harga diri, dan martabat kita," tegasnya.

Sebulan lalu, Presiden mengaku meresmikan proyek di Entikong. Presiden membuktikan dengan menampilkan foto proyek di Entikong di layar panggung. "Kalau saya tidak membawa gambar, ada yang meragukan."

Presiden menjamin, kantor pemerintahan di Etikong lima kali lebih baik. Begitu juga dengan pembangunan di Nusa Tenggara Timur. Presiden juga menunjukkan foto disaksikan para ketua umum partai.

Di Pulau Miangas dan Natuna, Presiden mengaku sudah membangun bandara.

Pembangunan desa, lanjut Presiden, terus dikebut. Pada 2015, dana desa mencapai Rp20,5 triliun. Tahun ini naik menjadi Rp60 triliun. Ia yakin, besarnya dana desa tahun ini membuat pembangunan di desa semakin nyata.

Soal ketimpangan harga semen dan bahan bakar minyak di Pulau Jawa dengan Papua, Presiden mengaku sudah menerapkan satu harga. "Ini masalah keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia."

Tol laut belum berjalan 100 persen. Tahun ini, ia bertekad menambah rute, sehingga harga bahan pokok di pulau terdepan turun.

Sedangkan Kartu Indonesia Pintar dan Kartu Indonesia Sehat, hingga akhir 2016 telah dibagikan sebanyak 17 juta dan 88 juta. Terkait reforma agraria (landreform), Presiden mengatakan, pemerintah akan memberikan 12 juta haktare lahan untuk rakyat, adat, dan koperasi.

Perayaan HUT ke-44 PDI Perjuangan di Jakarta Convention Center, Jakarta Pusat, dihadiri Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh, Ketua Umum Partai Hanura Oesman Sapta Odang, elite PPP Djan Faridz dan Romahurmuziy, Ketua Umum PKPI Hendropriyono, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, dan Sekretaris Jenderal Partai Golkar Idrus Marham.