Jokowi Terbaik untuk Asia-Australia!

H. Bambang Eka Wijaya

BERDASAR tiga indikator, nilai tukar rupiah 2016 menguat 2,41%, pertumbuhan ekonomi 5,02% (yoy), dan penerimaan publik setinggi 69%, Bloomberg menempatkan Jokowi sebagai presiden terbaik 2016 di antara delapan negara Asia-Australia: Jokowi, Park Geun-hye, Rodrigo Duterte, Xi Jinping, Shinzo Abe, Narendra Modi, Najib Razak, dan Malcolm Turnbull.
Sementara itu, Presiden Korea Selatan Park Geun-hye oleh Bloomberg ditempatkan sebagai presiden terpayah, dengan kemerosotan nilai tukar won 2,87%, pertumbuhan ekonomi hanya 2,6%, dan tingkat penerimaan publik hanya 4%. Penilaian tersebut bersumber pada riset Bloomberg dan Gallup dari Januari 2016 hingga November 2016.
Sedangkan Presiden Filipina Rodrigo Duterte yang punya tingkat penerimaan publik tertinggi mencapai 83%, dengan pertumbuhan ekonomi negerinya 7,1%, tersandung ketakstabilan nilai tukar peso yang melorot hingga minus 5,29%. (Kompas.com, 31/12/2016)
Penilaian terhadap Jokowi itu bersumber pada riset Bloomberg dan Saiful Mujani Research dan Consulting dari Juli 2015 sampai Oktober 2016. Bloomberg juga menyebutkan Jokowi cukup piawai dalam berpolitik, terbukti mampu merangkul dua pertiga kursi di parlemen. Program tax amnesty juga berhasil mengukir prestasi untuk membiayai pembangunan infrastruktur.
Belum lagi dalam peningkatan kesejahteraan sosial melalui Program Keluarga Harapan (PKH) yang ditangani Kementerian Sosial, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), telah berhasil dipersempit ketimpangan sosial dari September 2015 pada indeks rasio gini 0,402, menjadi 0,397 per Maret 2016. Hal ini memberi isyarat masyarakat lapisan terbawah yang jadi sasaran PKH mulai bangkit dari kondisi terpuruknya.
Untuk kelanjutan peningkatan kesejahteraan lapisan terbawah ini, pada 2017 pemerintah hendaknya fokus pada penciptaan lapangan kerja serta pengamanan lapangan kerja yang terbuka dari tenaga kerja asing (TKA), terutama asal Tiongkok yang memanfaatkan fasilitas bebas visa. Jangan sampai terulang para turis yang memanfaatkan bebas visa diam-diam menyelinap jadi pekerja di proyek-proyek yang dilaksanakan investor asal Tiongkok.
Sudah saatnya setiap investor diwajibkan membangun proyeknya bekerja sama dengan pelaksana domestik, untuk jaminan tenaga kerja lokal. Dengan pelaksana lokal itu manual semua instrumen dicetak dalam Bahasa Indonesia agar bisa ditangani pekerja lokal. Manual dengan huruf dan bahasa mereka membuat pekerja lokal jadi penonton. ***