Kampus Global Ujian Aptisi

Ilustrasi perguruan tinggi. pmb.st3telkom.ac.id

MAU tidak mau, suka tidak suka, Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) diuji kemandiriannya untuk berkompetisi dengan perguruan tinggi negeri (PTN). Apalagi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) memaksa lulusan PTS mampu bersaing agar bisa diterima di pasar dunia kerja.

Kemandirian perguruan tinggi swasta (PTS) di Lampung memasuki pasar global itu kini berada di tangan Ketua Aptisi baru, Firmansyah Alfian. Asosiasi harus bisa menjawab permasalahan kekinian di kampus swasta. Berdasarkan data situs BAN-PT Kemendikbud, ditemukan sembilan program studi (prodi) di beberapa PTS di Lampung sudah kedaluwarsa dan 15 prodi lainnya dalam proses reakreditasi.

Perguruan tinggi swasta di Lampung harus segara didorong dan dibantu menaikkan akreditasi. Aptisi diharapkan berbuat banyak memfasilitasi anggotanya meraih penilaian baik dari Badan Akreditasi. Akreditasi menjadi cerminan kampus memiliki pengajar memadai dan ditunjang fasilitas pendidikan lengkap.

Kita berharap Aptisi mendorong PTS berkembang pesat. Jika semua PTS yang tergabung dalam Aptisi bersatu memperbaiki diri, bukan tidak mungkin cita-cita mendapatkan penilaian rata-rata B dapat terealisasikan.

Tanpa predikat prodi yang baik, maka kampus swasta di Lampung akan kalah bersinar dengan PTS di daerah lain, terutama Pulau Jawa yang begitu dekat dengan Lampung. Mimpi menjadikan Tanah Lada sebagai destinasi pendidikan seperti Yogyakarta akan jauh panggang dari api.

Selain permasalahan akreditasi, kualitas dosen di PTS juga kerap menjadi pertanyaan. Berdasarkan data di laman Dikti per 21 Agustus lalu, 1.864 dosen PTS di Lampung belum tersertifikasi. Baru 338 dosen dari total 2.203 dosen swasta di provinsi ini berstatus profesional.

Dengan minimnya pengajar sertifikasi itu bagaimana kampus akan melahirkan lulusan yang mampu bersaing di MEA. Pengajar berkualitas dan profesional adalah modal utama mewujudkan pendidikan tinggi paripurna.

PTS dan Aptisi harus menggenjot sertifikasi dosennya, termasuk menambah jumlah pengajar hingga jenjang doktor. Kedua lembaga ini bisa menggandeng pemerintah untuk menyekolahkan dosen hingga strata tiga.

Kesan Aptisi belum memberikan manfaat besar bagi PTS harus dikikis. Asosiasi ini jangan menjadi lembaga berstruktur tapi miskin kinerja. Lembaga ini juga bukan perkumpulan pemimpin perguruan tinggi semata tanpa solusi atas permasalahan kampus swasta. *