Kedewasaan Partai Beringin

Logo Partai Golkar. dok. lampost.co

ARINAL Djunaidi terpilih menjadi Ketua DPD I Partai Golkar Lampung dalam Musyawarah Daerah Luar Biasa (Musdalub) yang digelar Rabu (14/12/2016). Mantan Sekretaris Provinsi Lampung itu menang aklamasi karena menjadi satu-satunya calon yang maju.
Nama-nama yang semula sempat bermunculan sebagai calon ketua, menyatakan mundur. Musdalub pun berlangsung cepat dan singkat. Pemilihan ketua partai yang bisanya berlangsung panas dan penuh konflik, sama sekali tidak tampak dalam suksesi di Hotel Sheraton. Pemilihan ketua juga jauh dari aroma politik uang.
Publik dapat memaknai musdalub ini berlangsung demokratis dan menampilkan wajah Golkar yang dewasa sesuai usianya. Citra Golkar diharapkan kembali naik dengan berlangsungnya pemilihan ketua yang sejuk dan damai. Apa yang terjadi di Golkar bisa menjadi contoh bagi partai yang kini masih berkonflik.
Terpilihnya Arinal menjadi penanda Partai Beringin telah bersepakat bulat mengakhiri konflik berkepanjangan. Konflik yang bermula dari dualisme kepemimpinan di tingkat pusat ini terjadi hingga daerah, termasuk Lampung.
Konflik kemudian membuat Golkar tidak bisa berkompetisi dalam Pilkada Serentak 2015. Kondisi ini membuat suara dus citra Golkar terpuruk di masyarakat. Saat partai lain menempatkan kadernya sebagai kepala daerah, Golkar hanya gigit jari.
Di Lampung, perpecahan terasa kala pemberhentian Ketua Partai Golkar Lampung M Alzier Dianis Thabranie dan digantikan Plt Lodewijk F Paulus. Sempat ada ricuh berebut kantor DPD I hingga diwarnai pemukulan. Kasus ini sudah ditangani Polda Lampung dan menyeret sejumlah politikus Golkar.
Peristiwa terbakarnya kantor DPD II Partai Golkar Lampung Selatan diperkirakan juga tidak lepas dari konflik internal. Meskipun hingga kini penyebab kebakaran belum bisa dipastikan apakah kecelakaan atau kesengajaan.
Berbagai rentetan peristiwa itu jika terus terjadi akan menjadi pengganjal Golkar menapak masa depan. Jika konflik ini tidak diakhiri, partai yang pernah menjadi pemenang pemilu tahun 2004 tersebut tidak bisa bersaing dengan partai lain.
Bertemunya Arinal dengan Alzier di ajang musdalub menjadi simbol rekonsiliasi. Alzier menunjukkan sikap legawa dengan hadir di musdalub. Ia pun mencabut gugatan pelengseran jabatannya di Pengadilan Negeri (PN) dan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Langkah politikus senior ini disambut baik jajaran pengurus dan kader.
Arinal pun memilih Alzier untuk masuk menjadi tim formatur guna menyusun pengurus DPD I Partai Golkar Lampung periode 2016—2021. Sebagai kader senior, masukan mantan Ketua Golkar itu sangat penting. Kerja sama keduanya membesut Partai Beringin tentu menciptakan suasana internal partai jauh lebih kondusif.
Lantas apa makna rekonsiliasi Partai Golkar bagi publik? Jelas di tengah terpaan isu perpecahan dan ancaman runtuhnya nilai-nilai kebhinnekaan, rekonsiliasi tersebut amat menyejukkan rakyat yang telah jengah dengan permainan dan intrik elite.
Harus tegas kita ingatkan, partai adalah pilar demokrasi, mereka pemegang legal formal pendidikan politik bangsa ini. Partai harus menjadi contoh, bahkan pelaku utama dari tegaknya persatuan dan kesatuan demi tercapainya kesejahteraan untuk semua, bukan biang konflik dan perpecahan. n