Kematian Tak Wajar, Keluarga Lapor ke Polda dan Kompolnas

Kematian Helmi bin Tantowi (35), terduka pelaku pencurian, dilaporkan ke Kompolnas oleh keluarga karena dinilai tak wajar. (Ilustrasi)

METRO--Kematian Helmi bin Tantowi (35), warga Kampung Haduyang Ratu, Kecamatan Padangratu, Lampung Tengah, Sabtu (3/12/2016), yang diduga hendak mencuri sepeda motor di pusat pertokoan Cendrawasih, Metro, pada tiga hari sebelumnya, dipertanyakan pihak keluarga.
Pasalnya, berdasarkan foto di sebuah instagram, saat dilakukan pengamanan sekitar pukul 10.00, terlihat jelas Helmi masih sehat dan masih bisa berjalan sendiri walau diapit oleh polisi lalu lintas dan seorang Satpam.
Ibrahim (42), kakak korban, mengatakan kematian adiknya sangat tidak wajar. Luka yang dialami Helmi, di antaranya luka pada kaki kiri dan kanan, mata luka lebam, dan di kepala terdapat retak, sehingga harus dioperasi. Ia menduga luka-luka tersebut bukan akibat pukulan dari massa.
"Ketika diamankan petugas, Helmi masih bugar bahkan di instagram (rio_dinata.ap), Helmi masih menatap, mata, wajah, mulut dan kepalanya tidak ada yang lebam apalagi berdarah. Ini berbeda dengan apa yang keluarga lihat di rumah sakit. Wajahnya, dari pelipis hingga mulut banyak mengucurkan darah segar. Bahkan, menurut petugas medis, Helmi mengalami keretakan batok kepala dan pendarahan otak.

Menurut Ibrahim, instagram yang mengunggah foto Helmi saat ditangkap itu milik polisi yang pertama kali menyelamatkan Helmi dari amukan massa.
Peristiwa tersebut terjadi pada Rabu (30/11/2016 ) sekitar pukul 10.00. Oleh anggota lantas tersebut, Helmi diserahkan ke Polres Metro. Sekitar pukul 14.50, Helmi baru dibawa ke RS Ahmad Yani Metro dan sudah tidak sadarkan diri. Sekitar pukul 18.30, keluarga mendapat kabar bahwa Helmi sudah di RSU Abdul Moeloek Bandar Lampung atas rujukan dari RSUAY Metro dengan diantar empat anggota polisi.

"Helmi mengalami luka yang sangat fatal, karena batok kepalanya banyak yang retak, pendarahan luar biasa banyak. Atas kesepakatan keluarga dan berdasarkan arahan pihak rumah sakit maka harus dioperasi," jelas Ibrahim yang diamini M. Toha, Abdurahman, dan Paksi Negara selaku kakak-kakak Helmi.
Karena membutuhkan operasi segera, keluarga sepakat agar Helmi dirujuk ke RS Imanuel Bandar Lampung. Setelah dilakukan operasi, Helmi masih dirawat dengan kondisi tetap tidak sadarkan diri.
Pada Sabtu (3/12/2016), Helmi menghembuskan nafas terakhir.
Karena penasaran, keluarga mencoba mencari tahu penyebab luka-luka yang dialami Helmi. "Dari pukul 10.00 sampai dengan 14.50, polisi belum melakukan pemeriksaan. Kalau alasannya belum sadarkan diri karena luka-luka, mengapa tidak dibawa ke puskesmas atau rumah sakit," ujar Ibrahim.
Ibrahim menegaskan pihaknya telah melaporkan Polres Metro ke Polda Lampung dengan bukti laporan Nomor: STTPL/1542/XII/2016/Lpg/SPKT. Laporan tersebut telah ditembuskan ke Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas).
Laporan ini, menurut Ibrahim, mendapat respons positif dari Polda Lampung pada 9 Desember 2016 dengan Nomor: B/601/SUBDIT I/XII/2016/ Ditreskrimum, tentang Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penelitian Laporan. "Keluarga mencari keadilan, apakah betul akibat brutalnya massa pada saat itu, atau karena pihak lain," jelas Ibrahim.