Komunikasi itu Ibarat Virus

Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Raden Intan Lampung Khomsahrial Romli. Lampung Post/Rudiyansyah

DISTORSI komunikasi atau kesalahan penyampaian dalam berkomunikasi semakin sering terjadi di masyarakat. Penggunaan media sosial (medsos), baik Facebook, Twitter, YouTube, dan lain-lain yang tak terbendung, menjadi satu celah munculnya distorsi komunikasi tersebut.
Sebagai upaya pengontrol komunikasi, Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) kini kerap menjadi amunisi penjerat seseorang yang dianggap melakukan kesalahan komunikasi. Sementara pemerintah belum optimal menyosialisasikan undang-undang tersebut.
Kasus gubernur nonaktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, menjadi salah satu contoh kesalahan komunikasi. Bermula dari unggahan video di media sosial, kasus Ahok menyita perhatian publik sebagai kasus penistaan agama.
Membahas permasalahan komunikasi yang semakin banyak terjadi, wartawan Lampung Post Wiwik Hastuti dan Rudiyansyah berkesempatan mewawancarai pakar ilmu komunikasi yang juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Raden Intan Lampung Khomsahrial Romli di ruangannya, beberapa waktu lalu. Berikut petikan wawancaranya:

Bagaimana Anda menilai peran komunikasi dalam masyarakat saat ini?

Peran komunikasi di masyarakat sangat besar. Ada salah satu teori yang menyebut kalau Anda ingin menguasai dunia, kuasailah media dan komunikasi. Seperti Amerika saat berseteru dengan Uni Soviet, Amerika memiliki kemampuan media dan komunikasi yang sangat bagus kala itu, hingga dapat memecah belah Uni Soviet. Jadi peran komunikasi sangat tajam.
Tetapi, sekarang ini saya melihat banyak sekali distorsi komunikasi. Komunikasi banyak yang hanya dilakukan sepenggal yang akhirnya artinya menjadi berbeda. Masyarakat harus hati-hati menggunakan bahasa komunikasi.

Apa yang menjadi penyebab terjadinya sebuah distorsi dalam berkomunikasi?

Penyebabnya karena seseorang tidak memiliki ilmu dalam komunikasi, padahal komunikasi itu performance = ability + motivation. Jika kemampuan komunikasinya kurang, orang akan cenderung asal bicara tetapi tidak ada dasarnya. Itulah penyebab distorsi, ada penyimpangan atau pembelokan bahasa. Hasilnya mereka bisa kena Undang-Undang ITE sehingga dalam menggunakan bahasa saat komunikasi harus runtut. Seseorang harus tahu apa itu input, proses, output dan outcome-nya. Seseorang juga harus mengetahui berkomunikasi dengan siapa, karena ada komunikasi interpersonal, personal, komunikasi feedback (umpan balik), dan efektif.

Pejabat DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) saat ini tengah terjerat masalah hukum karena pembicaraannya yang kemudian diunggah di media sosial dan mendapat respons luar biasa dari masyarakat. Apa yang menurut Anda menjadi penyebab? Lalu bagaimana seharusnya pejabat saat berbicara dengan pers atau audiens?

Kuncinya kalau mau menjalin komunikasi yang baik itu harus fokus. Kalau bicara tentang ikan jangan menyimpang, kalau menyimpang akan terjadi pembiasan dalam komunikasi. Seharusnya pejabat jangan bicara ke mana-mana, yang akhirnya terjadi pembiasan seperti pada kasus Ahok.
Walaupun tidak sengaja, jika sudah mengucapkan, orang lain akan menafsirkannya. Jadi kalau berbahasa harus fokus tentang apa. Jangan berbicara yang tidak kita ketahui, apalagi mengarang. Sebab, komunikasi itu seperti virus. Jika salah sedikit, semua orang akan mengetahui dan merespons, apalagi bicara di media. Pejabat harus bisa membagi komunikasi intern dan ekstern (untuk luar), jangan sampai membuat orang lain tersinggung.

Bagaimana Anda menilai gaya komunikasi para pejabat di Lampung?

Saya rasa para pejabat di Lampung baik dan kondusif dalam berkomunikasi. Kalau tidak baik itu artinya komunikasi mereka meresahkan masyarakat atau istilah saat ini menimbulkan kegaduhan. Di Lampung, komunikasi para pejabatnya masih sangat kondusif, pejabat masih mengeluarkan statement dengan baik.

Saat ini banyak dampak negatif dari sebuah komunikasi, terutama yang dilakukan di media sosial yang akhirnya membuat seseorang dapat terjerat hukuman pidana karena melanggar UU ITE. Bagaimana pendapat Anda terkait fenomena itu dan bagaimana supaya masyarakat tidak kebablasan dan justru terjebak karena faktor komunikasi?

Sulit memang untuk menghindarkan UU ITE. Apalagi background pengguna media sosial kita berbeda-beda, ada yang tidak tamat SD, tukang satai, semua profesi dan latar belakang ada. Sementara UU ITE tidak disosialisasikan secara maksimal, terutama di media sosial itu sendiri. Seharusnya pemerintah gencar menyosialisasikan UU ITE di media sosial, jadi ketika mereka membuka medsos, mereka akan tahu batasan-batasan yang harus dilakukan.

Menurut Anda karakter pengguna media sosial saat ini lebih seperti apa?

Karakter masyarakat kita yang gemar menggunakan media sosial saat ini adalah lebih banyak ingin tahu. Bukan sok tahu, tetapi mereka memang pengin tahu. Sebagai contoh setiap hasil pertandingan bola, meskipun mereka menonton secara langsung, mereka masih akan mencarinya di media sosial, banyak kasus lainnya, karena mereka ingin tahu sehingga aktif menggunakan medsos.

Apakah kemampuan komunikasi secara langsung yang belum baik, akhirnya membuat sebagian postingan masyarakat di media sosial juga cenderung membuat konflik?

Saya rasa bisa buruk bisa tidak, tetapi komunikasi yang buruk ini yang biasanya memancing konflik. Tetapi, saya rasa masyarakat lebih bicara apa adanya. Tidak semuanya memancing konflik. Tergantung kita, apakah ingin memancing konflik atau seperti apa.

Saat ini IAIN Raden Intan tengah mempersiapkan Fakultas Ilmu Komunikasi, apa yang mendorong digagasnya fakultas tersebut?

Kami mendorong Fakultas Ilmu Komunikasi karena semua sektor saat ini membutuhkan SDM yang memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Mulai dari semua dinas dan instansi, pegawai BUMN membutuhkan komunikasi. Kami melihat animo masyarakat masuk ilmu komunikasi saat ini juga sangat tinggi karena masyarakat mengetahui semua lini dan segmen pasar membutuhkan kemampuan komunikasi.


BIODATA
Nama : Prof Dr H Khomsahrial Romli, MSi
Kelahiran : Gunungsugih, Lampung Tengah, 9 April 1961
Pekerjaan : Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi IAIN Raden Intan Lampung

Pendidikan
Pendidikan Formal:
1. Sekolah Dasar Negeri (SDN) 3 Sukadana Lampung Tengah Lulus 1974
2. Sekolah Menengah Pertama Negeri Sukadana Lampung Tengah Lulus 1977
3. Sekolah Menengah Atas Metro Lulus 1982
4. S-1 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jurusan Pendidikan
Luar Sekolah Universitas Lampung Lulus 1987
5. S-2 Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran Bandung
Bidang Kajian Utama Ilmu Komunikasi Lulus 2003
6. S-3 Program Doktor Pascasarjana Universitas Padjadjaran Bandung
Bidang Kajian Utama Ilmu Komunikasi Lulus 2008
7. Guru Besar Ilmu Komunikasi Pengukuhan Desember 2009

Pendidikan Nonformal (Kursus, Pelatihan, Penataran, dan Lokakarya)
1. Penataran P4 Tipe A Provinsi Dati I Lampung Angkatan XXIII, 1986
2. Pelatihan Himpunan Ahli Kependudukan dan Lingkungan Hidup Indonesia di Unila, 1987
3. Pelatihan Borang Akreditasi di IAIN Pekanbaru, 2000
4. Pelatihan Tenaga Instruktur BMT di Bogor, 1999
5. Pelatihan Cendekia Motivator di Bogor, 2006
6. Pelatihan Perbankan Syariah di Jakarta, 2007
7. Diskusi Ilmiah Komunikasi Massa, Kajian Ilmu-ilmu Sosial Jakarta, 2003
8. Diskusi Ilmiah Perencanaan Pembangunan Tanggamus di Kotaagung, 2007
9. Pelatihan Karakter Bangsa di Jakarta, 2010
10. Pelatihan Assessor BAN-PT di Jakarta, 2010

Penghargaan
1. Satyalancana Karya Satya 10 Tahun pada 2003 dari Presiden RI.
2. Penghargaan sebagai tokoh masyarakat di Provinsi Lampung tahun 2009 dari Gubernur Lampung.
3. Satyalancana Karya Satya 20 Tahun pada 2010 dari Presiden RI.