Kopi Panas Umi dan Sepinya Menara Siger

Umi Gulsum (45), pedagang warung kopi, melayani pembeli di lapaknya di halaman Menara Siger Desa Bakauheni, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan, Selasa (6/3/2017). Umi setiap hari mengais rezeki di Menara Siger untuk membantu suaminya. LAMPUNG POST/ARMA

WANITA paruh baya itu menuntaskan adukan terakhir seduhan kopi di atas meja. Sejurus kemudian segelas kopi pesan itu telah sampai ke hadapan si pembeli. Tidak lupa, senyum hangat turut mengiringi antaran minuman panas itu.
“Silakan, Mas,“ ujar wanita paruh baya itu.
Wanita berkerudung oranye dan berkaus hitam itu Umi Gulsum namanya. Setiap hari ia membuka dan menjaga warung kopi kecilnya tersebut. Meskipun tidak ramai, Umi begitu ia disapa tetap semangat dalam mengais rezeki.
Selasa siang (6/3/2017). Halaman Menara Siger di Desa Bakauheni, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan, tempat warung kopi Umi beroperasi sepi pengunjung. Begitu pula warung Umi, tidak begitu banyak pembeli singgah menghampiri.
Meski demikian, raut wajah wanita empat anak itu tetaplah murah senyum kepada siapa pun. Sesekali ia juga menawarkan barang dagangannya yang lain kepada pemesan kopi yang baru saja menandaskan seruputan pertama kopi hitam seduhan Umi.
Umi kini menginjak usia 45 tahun. Ia menjajakan minuman kopi dan panganan lainnya membantu sang suami yang hanya bekerja serabutan. Untuk melengkapi warung yang telah berdiri selama tujuh tahun itu, Umi juga berjualan soto khas Jawa Tengah.
Pada hari biasa, Umi mengaku tidak begitu banyak mendapat untung dari warungnya itu. Sebab, banyak dan sedikitnya keuntungan amat bergantung jumlah pengunjung objek wisata Menara Siger tersebut. Meski sepi pengunjung, Umi tetap bersemangat.
"Kalau Senin hingga Jumat pengunjungnya nyaris tidak ada. Jika Sabtu dan Minggu ramai. Jelas sepi atau ramainya pembeli warung ini sangat dipengaruhi jumlah pengunjung Menara Siger," kata dia saat ditemui di warungnya, kemarin.
Hasil dari warung kopi kecilnya itu, Umi mengaku di saat sepi pembeli, pendapatannya sehari-hari hanya mampu mengumpulkan Rp50 ribu—Rp60 ribu. Namun, di saat ramai pembeli penghasilannya bisa mencapai Rp200 ribu hingga Rp300 ribu.
"Walaupun Wisata Siger Lampung ini sepi, saya tetap menjalankan rutinitas berjualan. Setiap pagi saya harus membuka warung kopi ini mulai pukul 07.30 sampai pukul 16.00," ujar wanita asal Serang, Banten, itu.
Umi berharap Monumen Lampung itu dibanjiri pengunjung. Sebab, dengan demikian dagangan miliknya laris dan habis terjual. Nyatanya, hingga kini Menara Siger sepi. Padahal, dalam sehari Umi harus menyisihkan uang membayar sewa lapaknya tersebut.
"Harapan saya kalau bisa tempat ini bisa ramai kembali seperti dulu saat baru-baru dibuka. Sebab, jika kondisinya seperti ini terus, bisa-bisa gulung tikar. Apalagi saya harus membayar sewa lapak sebesar Rp250 ribu," ujar Umi. (D1) Armansyah