Krakatau dan Sejarah Peradaban Lampung

Ilustrasi letusan gunung krakatau. www.merdeka.com

KONON, menurut wewakhahan, saat ditidurkan nenek sambil cekhita tumbai waktu di zaman HO di tanah Lappung ada lima puyang sakti, masing-masing memiliki nama sesuai dengan nama tempat berkedudukan.

Puyang pertama makhluk yang bijak, memiliki ilmu yang dalam, memiliki tingkat kedekatan dengan Tuhan atau Sang Hyang Gukhu dan memiliki kesaktian dapat meramal masa depan, karena kelebihan yang dimiliki, puyang ini mendapat kehormatan tinggal di gunung tertinggi di Lampung, Gunung Pesagi. Karena kedudukannya yang tertinggi membuatnya jadi pemimpin dari puyang yang lain.

Puyang kedua, memiliki olah kanuragan yang bagus, dan apa pun yang dikatakan akan menjadi kenyataan, ia menguasai angin dan air, puyang berjenggot putih ini bernama Tanggamus, tinggal di puncak Gunung Tanggamus.

Puyang ketiga yang rajin bekerja, menjaga tumbuh-tumbuhan dan ternak, bernama Seminung, tinggal di puncak Gunung Seminung. Puyang keempat, bermuka manis dan murah senyum, dia yang bertugas menjaga perdamaian, bernama Rajabasa, tinggal di puncak Gunung Rajabasa. Dan terakhir makhluk yang suka marah, tapi punya kesaktian tinggi, bernama Makatau/tidak tahu, yang juga disebut Krakatau, yang selalu berpindah-pindah tempat, hidup sebagai pengelana.

Semula mereka hidup bersama mengatur semesta. Namun, karena Krakatau tak punya dan tidak tahu di mana tinggal, dia sering berlaku sesuka hati merebut wilayah empat puyang yang lain. Masing-masing, secara sendiri-sendiri, tak bermusuhan dengan Krakatau, tapi keempatnya cenderung mengalah.

Namun, karena perilaku pengelana Krakatau sudah tidak dapat ditoleransi, akhirnya keempat makhluk sakti yang lain bermusyawarah untuk menyatukan ilmu menghadapi pengelana Krakatau. Ketika Krakatau datang di Seminung, ia telah ditunggu oleh keempat makhluk sakti yang lain. Mereka beradu ilmu. Karena harus menghadapi empat makhluk sakti sekaligus, Krakatau jadi tak berdaya. Ia kalah dalam pertempuran kesaktian. Setelah kalah oleh keempat makhluk itu, Krakatau dilempar ke tengah laut.

Krakatau akhirnya hidup di tengah laut, dia terus berusaha untuk memulihkan kesaktiannya yang sudah dicabut oleh keempat makhluk sakti yang lain. Namun, keempat makhluk sakti juga tidak tinggal diam. Mereka sadar Krakatau punya kemampuan untuk kembali. Mereka berempat terus mengawasi tengah laut dari puncak gunung tempat kedudukan masing-masing. Bila mereka melihat Krakatau sudah mulai berhasil membangun kembali kesaktiannya, ditandai dengan munculnya gunung di tengah laut, yang semakin lama akan semakin tinggi, maka keempat makhluk akan kembali menyatukan kesaktian untuk menghancurkan Krakatau. Dan kejadian seperti itu terus terulang.

Letusan Krakatau, bila dilihat dari hikayat itu, dapat diartikan sebagai penghancuran kesaktian Krakatau oleh keempat makhluk penunggu gunung yang ada di Lampung. Karena kemunculan Krakatau selalu memiliki sifat destruktif, menimbulkan wabah penyakit, menimbulkan ketakutan, dan sebagainya. Tujuan penghancuran itu jelas agar terjadi keseimbangan di alam semesta. Dengan kata lain, letusan Gunung Krakatau merupakan cara untuk menjaga keseimbangan alam semesta. Bila Krakatau terus membesar dan tidak dihancurkan (tidak meletus) akan membahayakan semesta.

Tentu ini hanya sebuah legenda pengantar tidur dan kita tidak bisa memercayai begitu saja mitos atau hikayat tersebut. Namun, setidaknya kita bisa mengambil nilai-nilai yang ada dari hikayat itu bahwa orang Lampung memiliki perangai seperti keempat gunung, yaitu bijak, kuat dalam persaudaraan, suka bekerja keras, pemberani, murah senyum dan tidak menyimpan dendam, tetapi dapat sangat tegas untuk menjaga harmoni kehidupan. Itu semua menjadi karakter orang Lampung.

Bila karakter itu sudah tidak dipertahankan oleh orang Lampung sendiri, mereka akan kehilangan “kesaktian”, yaitu egois, menjadi beban masyarakat, dan tidak memiliki perisai hidup. Bila orang Lampung sudah kehilangan karakternya, akan menjadi korban letusan peradaban. Maka lihatlah sekarang, betapa banyak orang Lampung yang tak pandai bercakap khat Lampung.

Nilai-nilai yang lain yang patut untuk kita pelajari dari Krakatau adalah perlunya menyatukan perbedaan yang ada untuk menghadapi bahaya bersama. Sub-sub kultur yang ada di Lampung perlu bekerja sama bahu-membahu untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Lampung. Pola kerja sama itu terumuskan mulai dari piil pesengiri, sakay sambayan, nengah nyappukh yang menjadi pedoman sikap tindak masyarakat Lampung.

Hanya dengan menjalankan pedoman dalam nilai filisofis tersebutlah Lampung akan terus ada, makmur dan sejahtera.
Nilai-nilai kearifan lokal, yang secara bersama-sama telah disarikan dan telah diterima menjadi Pancasila sebagai dasar berbangsa dan bernegara perlu terus dijaga dan dilestarikan. Apalagi saat ini, ketika dunia sudah tanpa batas, dan dunia yang tanpa batas itu dengan kemajuan teknologi informasi, berada dalam genggaman orang per orang, melalui smartphone.

Dunia tanpa batas dan dalam genggaman orang per orang itu di satu sisi dapat mempererat jalinan kemanusiaan. Namun, di sisi lain justru dapat membuat lemahnya relasi sosial dan menguatnya disintegritasi bangsa. Oleh sebab itu, Pancasila yang bersumber dari niai-nilai kearifan lokal perlu benar-benar dijaga.
Kita layak besyukur dengan apa yang digagas oleh almarhum Taufik Kiemas dan kemudian dilanjutkan oleh Bapak Zulkifli Hasan, untuk memasyarakatkan empat pilar, yaitu Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, UUD 1945, dan NKRI. Keempatnya adalah azimat negara dan bangsa Indonesia.

Belajar dari nilai-nilai di atas, saya ingin mengatakan bahwa adanya pelestarian budaya baik melalui Festival Krakatau, atau saat ini gagasan tentang Museum Krakatau atau apa pun yang terkait dengan Krakatau, tidak bisa terlepas dari kondisi sosial-budaya dan adat istiadat Lampung. Letusan Krakatau bukan hanya tragedi kemanusiaannya karena menewaskan empat puluh ribu orang lebih. Tapi letusan Krakatau juga telah menghilangkan artefak sejarah serta simbol-simbol budaya adat Lampung, mulai dari manusia pelaku sejarah dan budaya, juga kerusakan alam dan produk-produk budaya yang ada di atasnya. Hancurnya sumber daya alam berupa pepohonan berdampak pada hilangnya produk budaya herbal, produk kesenian berbahan dasar tumbuhan, dan sebagainya.

Oleh sebab itu, sebuah gagasan untuk menjadikan letusan Krakatau sebagai monumen perlu juga diikuti dengan upaya merekonstruksi budaya, tata nilai yang ada di Lampung pada masa lalu. Dengan demikian, pembangunan monumen Krakatau tersebut tidak akan kehilangan rohnya, yaitu Krakatau adalah bagian dari sejarah peradaban manusia yang hidup di sekitar gunung tersebut.

Menurut sejarah, sebelum letusan Krakatau tahun 1883, lima marga dari Way Handak (Rajabasa, Legun, Kekhatuan, Dantaran, Ketibung) atau yang sekarang disebut Kalianda, daerah yang paling parah terkena dampak letusan Krakatoa/Krakatau, secara historis masyarakat adat lima marga tersebut asalah merupakan rombongan putra-putra bangsawan Sekala Bkhak yang disebut juga jelma bani Sekala Bkhak. Mereka bergerak dari Paksi Pak Sekala Bkhak di Liwa dengan dipimpin oleh para pang tuha. Mereka pergi meninggalkan Sekala Bkhak untuk mencari negeri baru (ngebujakh lain miccakh, artinya meneruskan kebesaran kerajaan dn bukan menjauh dan memisahkan diri). Rombongan itu kemudian bermukim dan mendiami Way Handak. Orang-orang pilihan itu kemudian banyak yang menjadi korban letusan Gunung Krakatau. Dan sangat mungkin, bila mereka tidak menjadi korban letusan Gunung Krakatau, adat dan budaya Lampung akan semakin jauh tersebar.

Dari kisah orang-orang hebat di Way Handak itu, terkait akan sigagas nya pendirian sebuah muaeum maka isaya berpandangan bahwa membuat museum Krakatau, atau juga langkah pembinaan budaya yang selama ini intens dilaksanakan pemerintah mengadakan Festival Krakatau, juga perlu lebih bisa mengeksplorasi nilai-nilai yang dibawa dan tumbuh berkembang bukan hanya di wilayah Way Handak/Kalianda, tetapi juga mencakup upaya menggali dan mengembangkan serta menjaga dan memperkenalkan budaya Lampung agar bisa menjadi ikon kebanggaan budaya Lampung.

Sekali lagi, Krakatau bukan hanya sebagai benda, tetapi juga menyimpan sejarah peradaban manusia yang perlu kembali digali demi kesinambungan sejarah bagi anak cucu.
Dengan diresmikannya Museum Krakatau, kita berharap bukan hanya menghadirkan bangunan museum dengan segala isinya, melainkan akan terbangun juga living museum. Museum hidup yang di dalamnya berisi pola perilaku, tata nilai, adat dan budaya masyarakat di sekitar Gunung Krakatau.

Living museum akan mengingatkan kita semua bahwa alam semesta dengan manusia yang menghuninya merupakan satu-kesatuan yang tak terpisahkan. Manusia dapat memanfaatkan alam dengan cara-cara yang bijak, tapi juga punya kewajiban untuk merawat dan menjaga alam. Harmonisasi manusia dan alam semesta merupakan utang kita pada anak cucu. *