Krisis Kemanusiaan dan Teror Global

Ilustrasi teror global. slidesharecdn.com

KRISIS kemanusiaan skala besar terus saja mengganggu perdamaian dunia. Pada 2016 ini perang saudara di Suriah dan Yaman, serangan terhadap kaum Rohingya di Myanmar, dan teror yang dilancarkan Islamic State (IS) dari Pakistan hingga Jerman menyentak kesadaran kolektif komunitas internasional.
Semua ini merupakan kekerasan yang mengungkapkan realitas global saat ini dengan potensi dampak besar terhadap komunitas internasional secara keseluruhan. Lebih dari 60 juta orang menjadi pengungsi dengan darurat kemanusiaan yang kompleks saat ini melebihi kemampuan dunia internasional pasca-Perang Dingin memahami dan mengatasi pembantaian, teror, dan tindakan antikemanusiaan lainnya. PBB dan kelompok-kelompok regional telah berupaya keras, tetapi mereka gagal mencegah terjadinya proliferasi tragedi-tragedi kemanusiaan ini.
Di Aleppo, Suriah, perang proksi antara rezim Presiden Bashar al-Assad dan kaum pemberontak telah menyebabkan ribuan orang tewas, puluhan ribu lainnya cedera dan kehilangan tempat tinggal, dan menyisakan kota yang hancur lebur. Pasukan rezim Suriah yang dibantu Rusia, Iran, dan milisi Syiah dari Lebanon serta Irak, mengganyang secara brutal kelompok pemberontak yang dibantu Turki, AS, dan negara Arab Teluk.
Perang di Aleppo sudah selesai dengan disepakatinya perjanjian gencatan senjata yang diikuti evakuasi penduduk dan militer dari Aleppo Timur dan Kota Foua serta Kefraya di Provinsi Idlib oleh pihak-pihak yang bertikai. Namun, ini tidak berarti tragedi kemanusiaan di Suriah tidak akan terjadi lagi. Sasaran berikut pasukan rezim Suriah adalah Kota Idlib, barat laut Suriah, yang masih diduduki kaum pemberontak.
Dengan demikian, krisis kemanusiaan sebagaimana yang terjadi di Aleppo akan juga terjadi di sana. Memang perang saudara di Suriah masih akan berlangsung lama mengingat wilayah di utara dan timur laut Suriah masih dikuasai kelompok pemberontak Kurdi Suriah (Tentara Demokratik Suriah), dan Kota Palmyra, Raqqa, serta Deir az-Zawr yang masih diduduki IS.

Kompleksitas Persoalan
Di Yaman, perang saudara antara kelompok Houthi dan tentara yang loyal pada mantan Presiden Ali Abdullah Saleh melawan tentara yang setia pada Presiden Abed Rabboh Mansour Hadi yang dibantu koalisi Arab, yang dimulai sejak Maret 2015, masih berlangsung. Akibatnya, 8.000 warga sipil tewas, 3 juta orang jadi pengungsi, dan sekitar 18 juta orang membutuhkan bantuan kemanusiaan.
Kendati pihak koalisi Arab pimpinan Arab Saudi telah menggunakan senjata canggih, tidak ada tanda-tanda lawan mereka akan menyerah. Sementara itu, IS memanfaatkan momentum ini dengan melancarkan serangan mematikan terhadap sasaran-sasaran militer di Yaman bagian selatan, yang menyebabkan ratusan orang tewas. IS juga telah muncul di Afghanistan dan Pakistan, bersaing dengan Taliban. Bulan lalu mereka menyerang sasaran militer Pakistan di Provinsi Baluchistan, yang menewaskan puluhan orang.
Munculnya IS ini otomatis menambah kompleks persoalan terorisme di Pakistan dan perang saudara di Afghanistan yang telah berlangsung selama 15 tahun. Konsentrasi pemerintahan Afghanistan terhadap Taliban dan pemerintahan Pakistan terhadap kelompok teror Tahrik-e Taliban Pakistan membuat IS leluasa bergerak untuk menciptakan horor baru. Di Turki, teror dilancarkan IS dan Partai Pekerja Kurdistan (PKK). Ratusan orang tewas di berbagai kota. IS meneror Turki sebagai balas dendam atas keterlibatan Turki memerangi mereka di Suriah.
Sementara itu, PKK melancarkan serangan sebagai upaya menuntut wilayah otonomi bagi etnik Kurdi di tenggara Turki. Sepanjang IS masih eksis di Suriah dan Irak serta tidak ada penyelesaian masalah Kurdi di Turki, teror masih akan berlangsung di negeri itu. Penembakan Duta Besar Rusia untuk Turki Andrey G Karlov oleh seorang polisi Mevlut Mert Altintas di Ankara pada 19 Desember lalu tak lepas dari keterlibatan Rusia dalam perang Suriah, khususnya perang di Aleppo.
Beruntung Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memiliki kesepahaman bahwa serangan ini dilakukan pihak yang menginginkan memburuknya hubungan Turki-Rusia. Kalau tidak, hubungan kedua negara ini dapat berkembang menjadi krisis sebagaimana tahun lalu, saat Turki menembak jatuh pesawat tempur Rusia di perbatasan Suriah-Turki. IS juga menyerang sasaran di Mesir, Nigeria, dan Jerman.
Bulan lalu, IS melakukan serangan bom bunuh diri terhadap Gereja Koptik—menewaskan puluhan orang—sebagai balas dendam atas dukungan Gereja Koptik pada rezim Presiden Abdul Fattah el-Sisi yang mengudeta pemerintahan Ikhwanul Muslimin pimpinan Presiden Muhammad Mursi. Sementara itu, di Nigeria, pemerintahan Presiden Muhammadu Buhari belum bisa menaklukkan Boko Haram yang tak henti-hentinya melancarkan teror terhadap institusi-institusi sipil, masjid, dan gereja. Belasan ribu orang tewas sia-sia.

Harga Kemanusiaan
Setelah melancarkan teror terhadap Prancis dan Belgia tahun lalu, pada 2016 ini kembali Prancis dan Jerman menjadi sasaran. Yang terbaru ialah serangan IS di Berlin, Jerman. Sebuah truk berkecepatan tinggi menabrak kerumunan orang di bazar Natal Berlin, menewaskan 12 orang dan melukai 48 orang. Serangan itu mirip dengan serangan IS di Pantai Nice, Prancis, Juli silam, menewaskan 86 orang.
Insiden itu sangat merugikan Kanselir Jerman Angela Merkel—karena membiarkan sejuta pengungsi masuk ke Jerman—yang akan ikut pemilu tahun depan melawan kubu oposisi, kelompok Islam fobia, dan Partai AfD yang populis serta antiimigran. Kalau demikian, kubu oposisi bisa menang pemilu yang akan membawa dampak besar bagi Eropa dan pengungsi Timur Tengah.
Irak pun belum bebas dari tragedi kemanusiaan. Kendati telah terlibat perang saudara selama 13 tahun yang menciptakan jutaan pengungsi, IS masih bercokol di Mosul. Tampaknya pasukan Pemerintah Irak yang dibantu serangan udara AS akan dapat menaklukkan Mosul. Namun, harga kemanusiaan yang harus dibayar cukup besar. Karena IS menjadikan manusia sebagai perisai hidup, serangan koalisi terhadap IS selain akan menghancurkan kota itu secara fisik, juga akan menjatuhkan banyak korban manusia. Apalagi, bila milisi Kurdi (Peshmerga) yang ikut menyerang Mosul tetap ngotot akan menganeksasi Mosul ke dalam teritori mereka.
Perang saudara pasukan Irak melawan Peshmerga akan tak terhindarkan. Yang juga mesti dicatat ialah eksistensi Al-Shabab di Somalia. Kelompok Al-Qaeda itu sampai sekarang masih melancarkan perompakan terhadap kapal asing di perairan Aden, menyerang pemerintah di ibu kota Mogadisu, dan melakukan teror di Kenya, tetangga Somalia, sebagai balas dendam atas keterlibatan Kenya memerangi mereka.
Operasi-operasi Al-Shabab itu telah membuat pemerintahan Somalia lumpuh, menewaskan ribuan orang dan jutaan lain mengungsi. Hal yang sama terjadi di Libya. Memang pasukan pemerintah telah berhasil mengenyahkan IS di basis mereka di Sirte. Namun, kelompok Islam militan belum mati. Mereka berpindah ke lain tempat dan melancarkan teror di mana-mana. Inilah yang menjelaskan mengapa ratusan ribu orang nekat meninggalkan Libya untuk menyeberang ke Italia dengan risiko mati tertelan ombak di Laut Tengah yang ganas.
Terakhir ialah masalah etnik Rohingya. Baru-baru ini mereka menjadi sasaran amuk militer Myanmar. Cerita pilu etnik Rohingya telah berlangsung bertahun-tahun, tetapi pemerintah Myanmar menolak mengakui keberadaan mereka. Berbagai tindakan diskriminatif telah mendorong ribuan orang Rohingya bertaruh nyawa di lautan untuk mencari suaka di negara lain.
Sepanjang isu Rohingya tidak terselesaikan, krisis kemanusiaan masih akan berlangsung di Myanmar. Mudah-mudahan 2017 yang segera akan menjelang menjadi tahun yang lebih baik. Banyak faktor penyebab krisis kemanusiaan, tetapi nafsu kuasa, kecemburuan etnik, radikalisme religius, kesenjangan sosial dan ekonomi, dan hegemoni negara besar merupakan faktor-faktor kunci dalam krisis kemanusiaan dan teror global yang sedang berlangsung saat ini. n