Lampung Barat Terus Tingkatkan Produksi Padi

Petani mulai menanam padi di lahan persawahan di Liwa Lampung Barat, Kamis (9/2/2017). Tahun ini Pemkab Lambar menargetkan produksi padi sebesar 155.909 ton atau 5,20 ton/ha. LAMPUNG POST/ELIYAH

LIWA --Pemkab Lampung Barat melalui dinas terkait membenahi sentra-sentra pertanian terkait peningkatan produksi padi di kabupaten tersebut. Sebab, luas lahan pertanian persawahan Lambar saat ini hanya mencapai 13.443 ha.
Adapun perluasan lahan melalui program cetak sawah telah selesai sejak empat tahun lalu. “Lambar tidak memiliki potensi persawahan untuk cetak sawah baru,” ujar Sekretaris Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Lambar Kholiq, mendampingi Kadis Amirian, Kamis (9/2/2017).
Kholiq mengatakan peningkatan produksi pertanian pangan tersebut, Pemkab fokus pada peningkatan produksi yang dilakukan melalui upaya pembenahan infrastruktur pertanian. “Pembenahan itu, antara lain rehabilitasi irigasi, jaringan irigasi tersier, embung, dan pengembangan sumber-sumber air lainnya di tingkat kelompok-kelompok tani,” kata dia.
Hal itu dilakukan baik melalui dana yang bersumber dari tugas pembantuan maupun DAK bidang pertanian. Hal ini untuk menjamin ketersediaan air bagi kebutuhan tanaman padi para petani.
Kholiq menjelaskan produksi padi Lambar tahun lalu mencapai 136.864 ton atau 50,01 ton/ha dari luas lahan 13.443 ha dengan jumlah luas tanam 30.761 ha (musim tanam plus musim gaduh). “Dilihat dari data itu, ketersediaan beras di Lambar tahun 2016 mencapai 68.055 ton. Kebutuhan beras per kapita adalah 137,9kg/kapita/tahun atau sebanyak 40.149 ton.”
Artinya, tahun lalu Lambar mengalami surplus beras sebanyak 27.636 ton. Kemudian pada 2017 Pemkab menargetkan produksi padi sebesar 155.909 ton atau 5,20 ton/ha.
Hal itu dicapai dari luas lahan pertanian sebanyak 13.443 ha dengan target luas tanam 31.057 ha. Sementara target luas panen mencapai 29.982 ha dan target produksi mencapai 5,20 ton/ha.

Program Pendukung
Kholiq menambahkan untuk mencapai target produksi tersebut, Pemkab mengadakan berbagai program pendukung, antara lain dengan progam bantuan benih padi inhibrida seluas 750 ha. “Kemudian perbaikan sumber-sumber air berupa DAM parit 5 unit dan pembangunan embung 2 buah. Kemudian rehabilitasi irigasi tersier, demplot padi unggul varietas baru 1 ha, juga demplot pengembangan padi organik seluas 1 ha di setiap kecamatan,” ujar dia.
Selanjutnya ada juga pengadaan bantuan traktor tangan, pengadaan sarana pengendalian organisme pengganggu tanaman, serta sekolah lapang pengendalian hama terpadu padi sawah untuk tiga kelompok tani dalam rangka pembekalan kepada para petani. “Lalu pengadaan stok pestisida dalam pengamanan produksi dan pengawasan pupuk dan pestisida. Hal itu untuk mengantisipasi peredaran pupuk dan pestisida palsu. Pemkab juga fokus pengembangan tanaman kopi yang merupakan salah satu tanaman unggulan.”
Namun, Kholiq juga mengatakan hortilkultura selama ini belum mendapat perhatian serius untuk pengembanganya dikarenakan masih bersifat agrobisnis. Untuk mendukung program pengembangan kemandirian produk hortikultura itu, kini Pemkab telah melakukan sejumlah upaya, antara lain memberikan bantuan sarana produksi budi daya tanaman cabai seluas 100 hektare untuk sembilan kelompok tani.
Kemudian, bantuan sarana produksi budi daya tanaman jeruk buah seluas 50 ha untuk tujuh kelompok. Lalu, pelatihan pengendalian hama terpadu tanaman hortikultura untuk dua kelompok tani. Lalu, demplot budi daya cabai rawit 1 ha dan demplot bawang merah 1 ha.