Langkah Strategis Budaya Ulun Lappung

Ilustrasi budaya ulun Lappung. 4.bp.blogspot.com

PEMAHAMAN tentang pembangunan berbasis moral sejak masa lalu hingga dewasa ini dapat juga mengacu pada hasil penelitian Puslitbang Kehidupan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama yang telah melakukan penelitian beberapa tahun silam tentang Hubungan Pemahaman Keagamaan dan Etos Kerja Ekonomi Masyarakat Islam.
Hasilnya diperoleh kejelasan, dalam Islam terdapat nilai-nilai dan etos kerja ekonomi secara normatif, seperti "bekerja keras merupakan panggilan keimanan dan sekaligus ibadah". Tujuannya, agar terwujud kesejahteraan individu dan masyarakat lahir dan batin, dunia dan akhirat. Begitu pula, pemahaman masyarakat Islam dalam aspek ekonomi dan ibadah sosial secara umum dapat memberikan motivasi dan dukungan pada etos kerja ekonomi yang tinggi.
Motivasi dan dukungan tersebut tampak lebih besar di perkotaan yang berprofesi di bidang perdagangan dibandingkan di perdesaan yang umumnya berprofesi di bidang pertanian. Sementara dalam hal pendanaan, akses ke perbankan juga makin kondusif dengan kehadiran bank dan lembaga keuangan mikro yang berlabel syariah dan penggunaan istilah islami. Peran alim ulama dalam memberikan motivasi peningkatan etos kerja di kalangan masyarakat Islam, tentu saja dapat dioptimalkan jika disertai pelatihan dengan panduan yang memuat teori-teori ekonomi dan nilai-nilai dasar etos kerja berbasis ilmu ekonomi Islam.
Pengungkapan makna pembangunan berbasis moral berbasis filosofis dan empiris ternyata dapat diinventarisasi dan diawali dari melakukan langkah-langkah strategis untuk pemberdayaan sosial dan ekonomi bagi organisasi dan lembaga sosial keagamaan, antara lain sebagai berikut. Pertama, mengembangkan etos kerja sosial dan ekonomi berdasarkan nilai-nilai islami. Dalam hal ini dengan memajukan pendidikan guna mencerdaskan kehidupan umat dan bangsa ini. Kedua, mengembangkan produktivitas organisasi dan lembaga sosial keagamaan dengan spirit kewirausahaan yang tangguh dan berdaya saing tinggi di bidang sosial dan usaha ekonomi. Ketiga, membangun kemitraan antarorganisasi dan lembaga sosial keagamaan dalam pemberdayaan sosial dan ekonomi melalui pelatihan pengelolanya dan pendampingan. Dalam hal ini, dibutuhkan penelitian aksi yang partisipatif. Keempat, Kementerian Agama dan kementerian lain yang terkait bersama organisasi dan lembaga sosial keagamaan perlu menyosialisasikan dan mendesiminasikan panduan pumberdayaan sosial dan ekonomi bagi organisasi serta lembaga sosial keagamaan, sebagai modal dasar gerakan membangkitkan semangat dan etos kerja sosial dan ekonomi berbasis nilai-nilai islami. Kelima, sebagai langkah dan upaya yang bernilai strategis, kiranya aktivitas itu dapat dimulai dari pengembangan koperasi dan usaha mikro dan kecil berbasis masjid. Dan lebih lanjut, sebagai keluaran dijadikan umpan balik sehingga cita-cita atau tujuan masyarakat bisa diharapkan agar dapat mengarah pada kemajuan, baik yang bersifat sosial, ekonomi, dan budaya yang berbasis moral dan spiritual sehingga manusia Indonesia pada masa depan dapat lebih beretika, bermoral, dan religius. n