Manfaat Memberikan Kepercayaan pada Anak

Kepercayaan. i2.wp.com

SAAT pertama kali memasukkan anak ke lingkungan pendidikan usia dini, tak sedikit orang tua yang khawatir kala ingin meninggalkan si kecil di sekolah. Akhirnya, banyak orang tua khususnya para ibu yang harus menunggui anak-anak mereka saat sedang belajar.
Ternyata, hal tersebut harus dihindari para orang tua karena justru menghambat perkembangan karakter kemandirian dan rasa percaya diri anak. "Kalau di sekolah kami, orang tua justru kami larang menunggu anak-anaknya," ujar Kepala TK Citra Melati, Kedaton, Bandar Lampung, Dini Pratiwi, diwawancarai di sekolahnya, Kamis (16/3/2017).
Meskipun demikian, ada beberapa orang tua yang langsung mengungkapkan kekhawatirannya seperti khawatir anaknya tidak bisa makan sendiri atau makannya tidak habis, hingga kekhawatiran si kecil menangis saat sedang belajar.
Menurut Dini, seharusnya orang tua jauh lebih memberikan kepercayaan kepada anak. Sebab, hal itu justru akan meningkatkan kepercayaan diri mereka. "Kalau orang tua ada di sekitar sekolah, justru anak-anak kurang percaya diri, dan mengandalkan orang tua mereka yang bisa membantu sewaktu-waktu sehingga jadi kurang kreatif," kata Dini yang juga Ketua IGTK Kecamatan Kedaton, Bandar Lampung, ini.
Selain memberikan kepercayaan kepada anak, menurut Dini, orang tua juga harus lebih memberikan kepercayaan kepada para guru di sekolah si kecil belajar. Orang tua dapat memantau perkembangan si kecil dengan secara langsung berdiskusi dengan guru.
Dengan cara itu, menurut Dini, guru akan terpacu untuk selalu bekerja sama dan menjalin komunikasi yang baik dengan para orang tua. Termasuk ketika ada masalah yang dihadapi anak-anak di sekolah, menurut Dini, orang tua sebaiknya memberikan kepercayaan kepada guru untuk membantu menyelesaikan masalah si kecil.
Sebab, sekolah sudah semestinya menjadi tempat menyelesaikan masalah yang biasa dialami anak-anak saat di rumah. Seperti ketika anak sulit makan sayur atau tidak disiplin bermain, sudah seharusnya orang tua menyampaikan masalah tersebut kepada guru, sehingga guru dapat mengarahkan anak saat dalam kegiatan bermain dan belajar di sekolah.
"Kalau di rumah mereka sulit makan sayur, kami di sekolah akan selalu memberi tahu mereka tentang pentinya makan sayur dan mengajak mereka makan sayur bersama teman-temannya sehingga menjadi termotivasi," ujar Dini.
Begitupun dengan masalah lain seperti anak kurang disiplin, guru akan membimbing mereka dengan meminta si kecil menjadi pemimpin upacara atau menjadi petugas untuk menanamkan kedisiplinan dan tanggung jawab pada diri anak.

Peran Orang Tua
Meski harus memercayakan pendidikan anak kepada guru, saat di sekolah peran orang tua juga sangat penting, yakni mendampingi anak-anak saat di rumah. "Orang tua itu guru saat anak-anak di rumah," kata Dini.
Sebagai guru, orang tua harus selalu memberikan contoh yang baik kepada anak-anaknya, seperti tidak berbicara kasar dan taat dalam menjalankan ibadah. "Anak-anak masih dalam tahap meniru. Mereka akan sangat cepat meniru orang-orang yang ada di sekitar mereka khususnya orang tua," ujar Dini.
Peran orang tua di rumah, menurut Dini, adalah mendampingi anak-anak mempraktikkan hal-hal yang sudah diajarkan di sekolah, seperti menghormati orang yang sedang berbicara dan secara karakter keagamaan orang tua harus mendampingi si kecil melaksanakan ibadah, membiasakan anak mengucap dan menjawab salam, dan saling menyayangi.
Orang tua juga harus menghindari kesan guru sebagai sosok yang ditakuti anak-anak. "Jangan menakut-nakuti anak akan dimarah guru jika anak tidak mau makan atau melakukan hal lainnya, karena anak justru akan malas ke sekolah dan sulit dekat dengan gurunya," kata Dini.
Sudah semestinya orang tua menunjukkan hubungan yang baik dengan guru-guru di sekolah sehingga anak merasa nyaman ketika bersama guru yang menjadi orang tua mereka selama di sekolah.