Manusia Istimewa

Susilowati, wartawan Lampung Post

"KANG, njenengan kok sering ngilang, ke mana to?" Tole menodong Kang Santri.
"Yang ilang aku apa kamu, Le. Aku sering di gardu, tapi pas kamu di rumah, jadi kita enggak ketemu."
"O gitu yo, Kang, kalau enggak ketemu njenengan itu ada yang kurang, Kang. Kering, garing, gitu Kang."
"Walah lebay juga kamu, Le. Kalau kurang, ya tambahi. Kalau kering, ya disiram, kok repot."
"Tepat, Kang, saya kurang ilmu dan butuh siraman rohani. Njenengan orang yang pas untuk itu."
"Ndak usah gitu, Le, justru saya ini sedang malu, malu karena kekurangan dan kebuntuan ilmu saya."
"Oalah, Kang. Kalau panjenengan saja merasa kurang, apa lagi saya."
"Le, kita ini orang ela-elo dan bukan apa-apa serta bukan siapa-siapa."
"Bukan kita, Kang, tapi saya saja. Kalau Kang Santri itu tidak sama dengan saya. Kang Santri kan orang berilmu."
"Kata siapa, Le. Kita itu sawang sinawang, saling pandang. Pada dasarnya kita sama, Le. Apa sangat bisa jadi dirimu sesungguhnya lebih mulia dariku, Le. Hanya Allah yang berhak menganugerahkan kepada hamba-hamba pilihan-Nya."
"Ya enggak gitu, Kang."
"Dengarkan, Le, aku serius. Dari kita manusia yang diciptakan Allah dalam sebaik-baik bentuk ini, ternyata tidak menjamin manusia mendapatkan kemuliaan tanpa seizin Allah. Tapi, kalau Allah menghendaki, Dia akan menganugerahkan kemuliaan tersebut kepada hamba-hamba yang dikehendaki dan dipilih-Nya. Dan kita, Le, khususnya aku, jauh dari itu. Kita manusia biasa saja yang banyak dosa juga enggak istimewa."
"Terus orang yang istimewa itu siapa, Kang?"
"Ya sangat banyak, Le. Manusia pilihan jelas Kenjeng Nabi. Dan, ada sebagian manusia yang mendapat keistimewaan termasuk para ulama, waliyullah juga orang-orang yang dipilih menjadi keluarga Allah."
"Keluarganya Gusti Allah maksudnya, Kang?"
"Iya, Le. Ada dari golongan manusia yang menjadi ahlillah, keluarganya Allah, yaitu para penghafal Alquran. Dan, mereka adalah orang-orang pilihan."
"Weleh, Kang, Alquran 30 juz itu dihafal, bisa membaca tiap hari saja sudah untung."
"Itulah Le, yang membuat kita tidak jadi orang istimewa, karena kita takut dengan cita-cita dan pekerjaan yang istimewa. Mendengar 30 juz untuk dihafal saja sudah kaget, belum lagi membaca dan menghafalnya. Tapi, ya kita berusaha, semoga di sisa usia kita bisa dekat dengan Alquran."
"Amin ya robbal alamin, Kang."