Media Sosial, Hoax, dan Budaya Narsisme

Ilustrasi media sosial. nusakini.com

MARCK Zuckerberg, siapakah yang tidak familier dengan nama ini? Dialah si inventor Facebook (FB). Berkat temuannya itu, Mark menjadi salah satu miliarder muda di dunia. Menurut data Forbes 2017, kekayaan bersih suami Pricilla Chan ini 51,8 miliar dolar AS.
Facebook temuan Mark kita ketahui adalah media sosial (medsos). Sebenarnya tak hanya Facebook. Masih ada yang lain semisal Twitter (yang juga populer). Namun, dibanding Twitter, Facebook setingkat di atas kepopuleran Twitter. Juga punya beberapa kelebihan. Apa saja? Twitter punya keterbatasan jumlah karakter status (hanya 160 karakter). Tak heran status Twitter disebut mencuit. Twitter tidak memiliki inbox yang dapat berkontak langsung dengan pemilik akun lain secara privasi.
Bagaimana dengan Facebook? Karakter postingan Facebook tak dibatasi. Pernah saya membaca status facebooker yang panjang dan andai di-print out bisa berlembar-lembar kertas HVS ukuran A4. Pada Facebook terdapat fitur inbox sehingga kita bisa berkomunikasi secara langsung dengan pemilik akun lain secara pribadi.
Meskipun berbeda secara fitur, keduanya tetap sama-sama medsos yang memiliki kegunaan sama, antara lain mencari kawan (pertemanan), mem-posting foto/video/status, berjualan, bahkan mencari jodoh. Saya jadi teringat cerita kawan. Kata dia, ada temannya yang berkenalan dengan perempuan di Facebook. Mereka cocok, menikah, dan sekarang tinggal di Tiongkok. Kisah-kisah seperti itu harus diakui ada dan mungkin banyak. Perlu pendataan lebih lanjut untuk mengetahui angka pastinya.
Mengenai kegunaan medsos seperti mem-posting foto, video, update status, berjualan—secara ringkas saya menggolongkannya ke ranah berbagi informasi. Nah, ini dia yang harus dijabani. Kesannya sepele, tetapi faktanya tak seringan itu, karena informasi kan beragam dan ada dampaknya. Mari kita runut.
Dimulai dari Ahok. Siapa yang tidak tahu dia? Gubernur nonaktif Jakarta yang saat ini sedang disidang dalam kasus dugaan penistaan agama. Semua proses sampai menuju sidang bermula dari video yang di-posting Buni Yani di Facebook. Video tersebut lantas di-share. Isi video adalah pidato Ahok saat berkunjung ke Kepulauan Seribu.
Di hadapan warga (entah bagaimana) dia menyebut-nyebut soal Al-Maidah Ayat 51. Buni Yani (seperti diberitakan banyak media) mengaku menerima video tersebut lalu menerjemahkannya. Selanjutnya, di meng-upload ke Facebook dan akhirnya tersebar luas. Setelah dicek perlahan dan mendetail, ada perbedaan. Dalam video asli, Ahok menyebut kata “pakai” Al-Maidah 51, sementara versi Buni Yani tidak ada kata “pakai”.
Walaupun begitu, publik sudah terlanjur tersulut dan terjadilah aksi bela agama sampai beberapa kali. Para peserta aksi (yang dimotori ormas Islam) meminta supaya Basuki Tjahaja Purnama dipenjara. Entah bagaimana akhir kisah Ahok ini, saya tak tahu.
Lainnya, masih berhubungan dengan kasus Ahok. Tanggal 4 Desember 2016 juga digelar aksi kebangsaan. Dikutip dari pikiran-rakyat.com, hajatan besar bertema Kita Indonesia ini dimotori sejumlah pimpinan partai politik Indonesia dan tokoh nasional yang tergabung dalam Aliansi Kebangsaan Indonesia (AKI). Sejumlah organisasi masyarakat, budayawan, dan organisasi keagamaan turut serta untuk menguatkan toleransi. Aksi yang positif karena hendak kembali menegaskan salah satu ciri khas bangsa kita yang telah diakui dunia, yakni toleransi beragama.
Sayangnya, ada pihak-pihak yang kurang senang. Mereka memodifikasi foto aksi damai tadi dan menyebarnya melalui Facebook. Saya tidak tahu apakah banyak yang (sadar) tertipu atau tidak, sebab fakta aslinya tak seperti itu. Kemudian kasus anggota DPR RI, Eko Patrio. Dia sempat dipanggil Polri karena pernyataannya mengenai bom panci dinilai sebagai pengalihan isu. Usut punya usut, nama Eko telah dicatut oleh media tidak jelas.

Abal-abal dan Terverifikasi
Tajuk Lampung Post (Lampost, 31 Desember 2016) yang mengutip Kominfo menyebut hampir 800 ribu situs di Indonesia menyebarkan berita bohong (hoax) atau kebencian. Yosep Stanley Adi Prasetyo (kini Ketua Dewan Pers) pernah mengatakan hanya segelintir media online yang sudah terverifikasi Dewan Pers dan dinyatakan sebagai media profesional.
Dirangkum dari berbagai media, jumlah media online yang terverifikasi Dewan Pers sepanjang 2016 mengalami kenaikan. Pada Januari 2016 terdapat 211 yang profesional dari 2.000 media online yang ada, sedangkan di akhir tahun (Desember) 2016 ada 234 media terverifikasi dari 43 ribu media yang ada. Terhadap hal ini, Stanley menyatakan keheranannya—mengapa banyak media abal-abal di Indonesia?
Di Thailand, Malaysia, Filipina, dan Amerika Serikat tidak banyak seperti ini. Untuk itu, pihak Dewan Pers akan menertibkan dengan membuat sistem suatu media yang terverifikasi ada barcode. Dikatakannya lagi, media online abal-abal membahayakan demokrasi dan kebebasan berpendapat. Media abal-abal bekerja tak sesuai kode etik. Terbit tidak rutin dan tidak punya penanggung jawab yang jelas. Media online versi ini kerap dipakai untuk kepentingan tertentu, seperti pemerasan.

Antara Narsisme dan Aktualisasi Diri
Lantas apa hubungannya dengan (budaya?) narsisme dan aktualisasi diri? Ini pandangan pribadi saja. Narsisme adalah hal (keadaan) mencintai diri sendiri secara berlebihan (kbbi.web.id). Dilihat dari perspektif ilmu ekonomi, manusia mempunyai beberapa kebutuhan. Versi Abraham Maslow salah satunya membagi lima kebutuhan, yakni fisiologis, rasa aman, rasa memiliki dan kasih sayang, penghargaan, dan aktualisasi diri.
Narsisme bagi saya lebih condong ke negatif meski secara kasta dia tergolong sebagai bentuk aktualisasi diri. Orang narsis senang dan selalu fokus kepada dirinya. Nah, medsos semacam Facebook atau Twitter ini merupakan sarana untuk menyalurkan kenarsisan mereka.
Mereka tahan berjam-jam setiap hari online di medsos. Mem-posting segala sesuatu. Padahal, yang di-posting belum tentu penting dan berguna. Termasuk di sini, informasi dari media abal-abal. Padahal lagi, isi laporannya belum tentu benar. Ya, namanya juga abal-abal.
Parahnya, banyak pengguna medsos di Indonesia masih rendah literer medianya sehingga mereka tidak paham apakah berita yang mereka sebar itu berasal dari media online profesional, kredibel, dan sesuai kaidah jurnalistik atau bukan alias abal-abal. Pokoke share lalu ada yang like dan komen dan rasanya bahagia sekali.
Mereka para pengguna medsos tidak berpikir dampaknya. Pernah saya mendapati aku seorang kawan yang di-tag foto-foto korban perampokan di Pulomas. Astaga! Foto tersebut tentu asli, tapi apakah si pemilik akun yang menge-tag (walau dia bukan sumber pertama) tidak berpikir betapa sedihnya keluarga korban kriminalitas ketika mereka melihat foto-foto itu tersebar di Facebook dan menjadi viral? Di manakah hati nuraninya? Apakah hanya demi mendapatkan like dan komen sampai tega menginjak dan menambah kemalangan orang lain?
Saya kira yang dibutuhkan sekarang adalah pendidikan berupa literer media untuk masyarakat dan etika bermedsos. Sebab, melalui cara itulah, dapat menjadi penangkal ampuh. Benang merahnya, mengapa media abal-abal yang menyebar hoax di Indonesia bisa tumbuh subur atau terus meningkat? Lantaran orang Indonesia masih rendah tingkat literer medianya sehingga tanpa mengecek, mereka langsung share saja. Narsis sih boleh, update sih boleh, eksis juga oke. Tetapi, pikirkanlah ke depannya, dampaknya. Sebab, medsos bukan punya Anda seorang. n