Melahirkan Technopreneur dari Kampus

Technopreneur. i.ytimg.com

BANYAK orang tertarik bicara tentang technopreneur. Tak sedikit yang memandang technopreneur “sekadar” sebagai penggabungan pemanfaatan teknologi informasi (TI) dengan kewirausahaan (entrepreneur). Tentu ini salah kaprah di dalam pemaknaannya. Jika salah kaprah ini tidak diluruskan, khawatir akan mengerdilkan makna technopreneur yang sesungguhnya.
Padahal, technopreneur tidaklah sesempit itu. Di berbagai literatur didapatkan gambaran bahwa technopreneur secara sederhana diartikan sebagai entrepreneur/wirausaha yang mendasarkan usahanya pada basis ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Meskipun pada esensinya sama, terdapat sedikit pembedaan antara entrepreneur dan technopreneur.
Technopreneur biasa juga disebut sebagai entrepreneur “modern”. Berbeda dengan entrepreneur “tradisional” yang sering menuju kesuksesan pengembangan bisnis dengan jaringan, pemilihan demografi pasar sasaran, dan tak jarang “lobi”, maka hal penting dalam pengembangan technopreneur adalah teknologi inovatif dalam menghasilkan produk yang berdaya saing. Yang perlu digarisbawahi di sini, teknologi inovatif bukan semata-mata berupa teknologi informasi (TI), melainkan semua bentuk teknologi di berbagai aspek.
Sebagai contoh, sektor pertanian merupakan salah satu lahan wirausaha yang mahakaya. Berbagai teknologi inovatif di sektor ini merupakan modal luar biasa untuk bisa diolah menjadi aplikasi bisnis yang tak hanya menyejahterakan para pelakunya, tapi juga dapat menyejahterakan masyarakat. Di bidang teknologi pemuliaan tanaman, misalnya, telah dihasilkan benih unggul, seperti semangka tanpa biji, jambu klutuk tanpa biji, atau pepaya mini yang bisa diadopsi sebagai basis wirausaha.
Di bidang perikanan, melalui teknologi manipulasi kromosom, kita bisa membiakkan ikan nila gesit dengan keturunan hampir 100% pejantan, juga pembiakkan nila nirwana yang memiliki bobot lebih tinggi dari ikan nila pada umumnya. Pengembangan teknologi “kemasan cerdas” yang dapat mendeteksi kebusukan ikan, sangat bermanfaat dalam memberikan kemudahan dan jaminan mutu bagi bisnis produk-produk perikanan.
Contoh lainnya adalah teknologi “pemingsan” udang/ikan yang sangat bermanfaat bagi para eksportir dalam membawa udang/ikan ke negara tujuan. Nantinya di negara tujuan, dengan teknologi pula udang/ikan tersebut bisa “dibangunkan” kembali. Teknologi ini menjadi strategis karena di berbagai negara, udang/ikan hidup nilainya jauh lebih mahal dibanding dengan yang sudah mati.
Di bidang peternakan, teknologi yang dapat “menyetel” kadar omega-3 dalam telur ayam menjadi inovasi yang dapat diadopsi peternak sehingga memberi nilai tambah tersendiri. Belum lagi penggunaan berbagai teknologi di bidang kehutanan, mulai dari silvikultur hingga teknologi hasil hutan telah memberi nilai tambah tak sedikit bagi para technopreneur di bidang kehutanan. Melalui serangkaian penelitian, dihasilkan teknologi pembuatan produk plastik dengan memanfaatkan sagu.
Plastik ini tergolong ramah lingkungan, makanya kemudian dikenal dengan istilah “bioplastik” karena sifatnya yang relatif cepat dihancurkan oleh mikroba dalam tanah. Indonesia dengan sumber daya alam yang melimpah dan sinar matahari sepanjang tahun, berpotensi menjadi produsen bioplastik dunia. Bahan baku sagu pun melimpah pula.
Soal bahan baku yang melimpah, Indonesia adalah tempatnya. Melimpahnya bahan baku rumput laut, misalnya, mendorong lahirnya produk-produk unik mulai sabun mandi, pelembap wajah, sampo, tabir surya, pasta gigi, masker, krim pembersih dan perawatan wajah, hingga pengharum ruangan dari rumput laut.
Tak berhenti sampai di situ, rumput laut pun dapat diolah sebagai campuran beragam produk pangan, di antaranya cokelat, bakso, sosis, kue, biskuit, roti, mi, es krim, saus, kecap, serta daging olahan tanpa tulang (nugget). Tentu teknologi inovatif sangat dibutuhkan dalam pengembangan produk-produk tersebut.
Dari gambaran di atas, tampak bahwa teknologi selain bisa meningkatkan produktivitas juga mampu melakukan efisiensi. Di perguruan tinggi tersimpan berbagai kekayaan intelektual yang luar biasa melimpah. Ribuan hasil penelitian perguruan tinggi maupun badan-badan riset di Tanah Air merupakan potensi strategis untuk diolah menjadi aplikasi bisnis yang dapat menyejahterakan masyarakat.

Tantangan
Ada tantangan lain yang harus dijawab dunia perguruan tinggi. Selain dituntut menghasilkan berbagai inovasi teknologi, perguruan tinggi juga dituntut perannya dalam menggenjot lahirnya technopreneur-technopreneur di negeri ini.
Peran mencetak manusia kreatif, inovatif, siap menghadapi tantangan, berani menembus risiko, serta terbiasa berpikir mencari solusi ada di tangan perguruan tinggi. Berbekal keilmuan yang didapatkan di bangku kuliah serta tekad kuat menjadi seorang wirausahawan, tak sedikit sarjana-sarjana yang berhasil melahirkan bisnis-bisnis unik dan kreatif. Mereka adalah technopreneur-technopreneur muda yang kehadirannya diharapkan dapat menggairahkan perekonomian negeri ini.
Tanpa bermaksud mengesampingkan sektor lain yang tentu saja telah memberikan kontribusi bagi perekonomian negeri ini, tetapi tampaknya dalam menggenjot lahirnya technopreneur-technopreneur negeri ini, kita mesti tetap berpijak pada jati diri kita sebagai negeri agraris-maritim. Kemajuan bisnis di bidang IT tentu bukan satu-satunya bentuk kesuksesan yang perlu diduplikasi oleh technopreneur-technopreneur negeri ini.
Memang Daniel Pink dalam bukunya The Whole New Mind (2006) mengabarkan bahwa sektor-sektor yang bisa dikembangkan oleh negara-negara maju yang sulit ditiru oleh negara-negara lainnya adalah bidang-bidang art, beauty, design, play, story, humor, symphony, caring, empathy and meaning. Dengan demikian, masihkah kita akan ngotot mencoba peruntungan di sektor ekonomi kreatif termasuk di dalamnya bidang IT, sementara di sektor yang bisa dikatakan sebagai penopang “hidup dan matinya” bangsa, yakni pertanian (dalam arti luas, termasuk maritim di dalamnya) saja selama ini kita belum maksimal berbuat?
Pertanyaan ini penulis lontarkan bukan bermaksud menghalangi bergulirnya harapan akan moncernya prospek ekonomi kreatif (termasuk IT), melainkan lebih kepada upaya balancing agar euforia ekonomi kreatif itu tak berujung pada jurang penyesalan, mengingat berbagai tantangan pembangunan ekonomi sesuai dengan potensi bangsa ini, yakni agraris dan maritim, hingga kini masih menunggu tangan-tangan kreatif anak-anak bangsa. n