Membangun Bangsa dengan Gotong Royong

Ilustrasi. kompasiana.com

TANDA syukur mungkin yang tidak akan pernah putus dari urat nadi ini, tanda yang tidak akan pernah sirna dengan hilangnya waktu, tanda yang akan selalu tampak walau telah berlalu, dan tanda yang akan selalu terngiang di dalam relung kalbu walau sudah termakan usia entah berapa sekarang.
Perayaan Tahun baru adalah suatu budaya merayakan berakhirnya masa satu tahun dan menandai dimulainya hitungan tahun selanjutnya. Lazimnya tiap tanggal 31 Desember diperingati sebagai hari penutupan tahun dan masuknya tahun baru. Begitu pun dengan tahun 2016 ini, maka bertepatan dengan akan masuknya tahun 2017, maka izinkan penulis memberikan catatan selama satu tahun yang sudah dilewati dan sedikit memberikan sumbangsih untuk urun rembuk menjaga keutuhan dan persatuan NKRI.
Pendidikan yang sempat mengalami gonjang-ganjing moratorium pada akhirnya Presiden Jokowi tetap melanjutkan USBN dengan dalih mengukur tolok ukur tingkat pendidikan tiap generasi penerus, tapi abai dalam melayani dan memfasilitasi kebutuhan dasar tiap satuan tingkat pendidikan, terutama mereka penyelenggara dan peserta pendidikan yang jauh dari jangkau wilayah, mata atau jangan–jangan tidak terpikirkan Pemerintah Pusat sebagai pengemban amanah sentralisasi.
Kesehatan pun tidak luput dari berbagai problem yang mendera dan semakin menderu warga yang tidak memiliki akses untuk mendapatkan pelayan prima sebagai warga yang dilindungi pemerintah. Bagaimana pemerintah pemegang tambuk kedaulatan kekuasaan begitu sangat jauh memperhatikan mereka kaum mustad afin yang tidak berdaya terhadap fisik mereka ketika sakit menghampiri. Dengan makin gencarnya berbagai program pemerintah dalam mengentaskan berbagai penyakit, diharapakan tiap pelayan kesehatan mampu menjalankan dengan baik sebagai sumpah amanah terhadap dunia kesehatan.

Masalah Ekonomi
Kemiskinan dan pengangguran yang saling kejar dan tidak terlampau jauh jaraknya seakan uang bermata dua, maka sudah selayaknya dan sepantasnya kemiskinan dan pengguran mesti ditangani bersama tiap stakeholder di negara ini. Sebagai keberlanjutkan menjalankan roda pemerintahan agar tidak goyah dan karam di tengah kekeringan gurun.
Ekonomi sebagai pelumas pembangunan pun sesungguhnya masih sangat terkait erat dengan hal tersebut, karena bagaimana pun semua bidang tersebut membutuhkan materi sebagai penggerak pengabdian pemerintah terhadap pemegang kedaulatan sesungguhnya dengan. Ekonomi dunia yang sedang lesu akhir-akhir ini mesti dicarikan solusi oleh pemerintah agar ekonomi dalam negeri yang sangat bergantung pada jalannya perekonomian global harus berputar arah untuk menghindari kolaps di tengah ekonomi Nusantara yang sedang bergeliat tapi sumber kas negara defisit.
Keadilan dan penegakan hukum masih memegang peranan kunci sebagai panglima tertinggi yang tidak mengenal siapa dan apa terhadap tiap individu pelakunya. Banyaknya pelanggaran terutama maraknya korupsi uang rakyat mengindikasikan selama ini penegakan hukum di negara masih lemah jika tidak ingin dikatakan jauh dari harapan walaupun mereka pelakunya makin banyak yang mendekam di jeruji. Tapi, ibarat puncak gunung es, masih banyak pelanggar hukum dengan varian penggaran yang berbeda–beda sesuai dengan perannya.
Politik dan kekuasaan setali dua uang sangat dekat dengan sumber kekuasaan, tapi sangat rentan hancur jika dipegang mereka bermuka dua (munafik) demi kesenangan, dirinya, kelompok, dan kroninya. Apalagi sekarang sistem desentralisasi sangat mudah hingga penyaluran dananya dipegang oleh desa, maka sudah dapat dipastikan jumlah pesakitan dimejahijaukan. Bukan bermaksud mendoakan dan apatis tiap penyelenggara daerah dan desa, tapi melihat pola dan cara yang selama ini dimainkan oleh pusat yang tertular hingga masyarakat desa sudah dapat ditebak akan membeludakkan penghuni ruang jeruji.
Terakhir dan pendorong moral pemerintah dan warga negara adalah agama. Apa pun agamanya tiap warga bangsa penulis yakin tidak akan mengajarkan pemeluknya merusak dan menghilangkan hak tiap insan walaupun itu berbeda keyakinan dengan kita. Maka, sudah sewajarnya umat beragama menyelami nilai–nilai ajaran agamanya dengan kaffah bil hikmah dengan menjunjung toleransi beragama umat lainnya.
Kasus–kasus apa pun yang selama ini menyeret agama di dalamnya sesungguhnya para penista agamanya sendiri. Kenapa demikian, karena dalam agama samawi tidak mengenal pengrusakan dan kekerasan atas nama agama, tapi kerusakan hakiki selama ini selalu menyertakan agama sebagai tameng kebobrokan pemeluknya.

Peran Agama
Agama diharapkan memegang peranan lebih dari bidang lainnya dengan maksud menjaga dan meluruskan yang bengkok dan keluar dari rel kebenaran jemaah. Karena apa pun bidangnya jika tidak berpedoman agama dia akan rusak, tapi tidak dibenarkan juga menjadikan agama sebagai alat mencapai tujuan. Dari sini dibutuhkan kejelian masyarakat umum untuk mampu membedakan mana yang menyeret agama dan mana yang menjadikan agama sebagai rambu–rambu kehidupan.
Sangat diharapkan di pengujung tahun ini pemerintah dan pelaku civil society saling membahu membangun bangsa demi kemaslahatan bersama. Bergotong royong dan tenggang rasa adalah kunci jalanya menuju masyarakat modern yang beradab dan bermoral pastinya.
Semoga negara Indonesia mampu keluar dari kerusakan dan kehancuran bangsa, warganya hidup rukun, pemimpin duduk bersama membicarakan dan menjalankan amanah demi kesejahteraan tiap warga bangsa, medianya sebagai pilar pengawas menjalankan tugasnya dengan apik tanpa melihat siapa dan kepentingan apa, tapi melihat apa dan bagaimana rakyat yang diwalikinya tercerahkan dengan informasi yang berbobot dan berbibit unggul.
Dan, akhir penulisan ini, penulis ingin sekali umat Nusantara lestari dan jaya di tengah penduduk dunia hingga pada akhirnya bermartabat dan budaya kesopanan dan kegotongroyongan. Amin.