Membersihkan Medsos dari Hoax!

H. Bambang Eka Wijaya (Lampost.co)

BANYAK grup perlawanan netizen terhadap penyebaran hoax—berita palsu, fitnah, ujaran kebencian—di media sosial yang tumbuh belakangan ini, pada Car Free Day Jakarta, Minggu (8/1), bersatu mendeklarasikan Masyarakat Anti-Hoax dan sosialisasi dampak negatif hoax.
Kegiatan pada Car Free Day itu diharapkan bisa menarik minat masyarakat agar memakai media sosial secara positif dan tidak menyebarkan berita palsu. "Harapannya, banyak yang akan tergerak bergabung dalam inisiatif memerangi hoax pada masa depan, bisa melalui media, ormas, dan jalur-jalur lain," ujar Ketua Masyarakat Indonesia Anti-Hoax Septiaji Eko Nugroho. (Kompas.com, 8/1)

Wadah baru ini merangkul sejumlah grup anti-hoax, antara lain Forum Antifitnah, Hasut, dan Hoax (FAFHH), fanpage dan grup Indonesian Hoax Buster, fanfage Indonesian Hoaxes, dan grup Sekoci. Semua grup terdapat di Facebook.

Selain di Jakarta, deklarasi Masyarakat Indonesia Anti-Hoax digelar serentak pada hari yang sama di Surabaya, Semarang, Solo, Wonosobo, dan Bandung. Setiap daerah bergerak independen sesuai pendekatan yang diperlukan. Gerakan ini juga menggandeng tokoh-tokoh sebagai duta anti-hoax, antara lain intelektual muslim Azyumardi Azra dan Komaruddin Hidayat.

Gerakan menghabisi hoax dan segala perilaku buruk di media sosial perlu didukung justru sebagai upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Mayoritas orang yang mudah terseret emosinya mengikuti hoax, men-share fitnah, antara lain akibat terlalu rendah tingkat literasinya. Lewat sosialisasi yang sabar kerendahan literasi itu, dibimbing agar semakin cerdas.
Tingkat literasi orang Indonesia, menurut hasil riset World Most Literate Nation, yang dipublikasikan pertengahan 2016, dari 61 negara yang dilibatkan dalam studi tersebut, Indonesia menempati urutan ke 60 dalam hal minat baca masyarakat. Jadi urutan kedua terbawah di dunia, setelah Botswana, Afrika.

Dengan minat baca serendah itu, Indonesia yang menurut Septiaji lima besar pengguna smartphone dunia, orang belum terbiasa mengkritisi materi untuk dengan mudah menyebar ke orang lain tanpa lebih dahulu memeriksa kebenarannya.

Namun perlu disadari, rendahnya literasi membuat sosialisasi saja tak mudah meluruskan pemahaman orang. Untuk itu, memblokir situs-situs sumber hoax, menjadi tindakan yang tepat. Selain 11 dari 200 situs bermuatan negatif diblokir terakhir, Kemenkominfo sepanjang 2016 telah memblokir 773 ribu situs bermuatan buruk.
Atau perlu lebih tegas lagi? ***