Menampuk Rezeki dari Menumpuk Bata

Junaidi (53), warga Desa Tanjungsari, Kecamatan Palas, Lampung Selatan, saat mencetak bata di kediamannya, Kamis (2/3/2017). Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Junaidi mengais rezeki dari pembuatan bata. LAMPUNG POST/ARMANSYAH

LELAKI paruh baya itu sibuk mencetak bata tepat di samping kediamannya, di Desa Tanjungsari, Kecamatan Palas, Lampung Selatan, Kamis (2/3/2017). Satu per satu bata yang telah dicetak langsung dijemurnya di bawah terik matahari.
Dengan ligat, kedua tangannya tidak henti mencetak tiap batangan batu bata. Bahkan, pria bertopi itu sedikit pun tidak memikirkan betapa kotornya kedua tangannya dengan lumpur. Begitulah cara pria itu dalam mengais rezeki.
Pria mengenakan kaus hitam itu Junaidi namanya. Dengan dibantu istrinya, Muryati (48), bersama beberapa warga setempat berduyun-duyun mencetak bata. Sesekali, Joni, begitu disapa, mencakul tumpukan tanah kemudian disiram dengan air.
Dari profesi sebagai perajin bata itu, Joni mampu memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Bahkan, biaya sekolah kedua anaknya itu dari hasil penjualan batu bata. Namun, baginya apa pun jenis usaha yang dilakoni, yang penting usaha itu halal dan mencukupi kebutuhan sehari-hari.
"Hasil dari pembuatan batu bata ini hanya bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti kebutuhan pokok di rumah. Kemudian, biaya sekolah anak sekolah masih ada yang duduk di SD dan SMA," kata bapak enam anak itu.
Penghasilan dari batu bata, menurut Joni, tidak bisa dipastikan, bergantung pada jumlah permintaan dari konsumen. Dalam setiap permintaan sebanyak 10 ribu bata, Joni mampu mendapatkan upah sebesar Rp6 juta siap antar ke lokasi.
"Itu masih kotor. Dari Rp6 juta itu masih dibagi lagi untuk biaya beli tanah, kayu bakar, dan tenaga pencetak. Dalam 10 ribu bata, keuntungannya cuma bersih Rp3 juta. Itu juga memakan waktu selama 45 hari lamanya."
Pria yang kini menginjak usia 53 tahun itu mengaku kesulitan di saat cuaca hujan. Sebab, ia tidak bisa menjemur bata hasil cetakan dalam waktu yang cepat. Joni mengharapkan perhatian khusus dari Pemkab Lamsel.
"Ya, tidak mengharap yang lebih. Saya sebagai perajin bata, kalau bisa dibantu alat mesin molen untuk mengolah tanah atau alat pencetak bata," kata dia.