Mencari Sumber Air lewat Tabuh Kayu

Para penari tabuh kayu menampilkan berbagai gerakan yang rancak dan luwes saat tampil dalam pembukaan Tapis Evolution 2017 di Lapangan Korpri, Kompleks Perkantoran Pemerintah Provinsi Lampung, Sabtu (25/2/2017) lalu. LAMPUNG POST/ZAI

SEMARAK pembukaan Tapis Evolution 2017 pada 25 Februari lalu masih begitu terasa. Ratusan pasang mata yang hadir memadati Lapangan Korpri, Kompleks Perkantoran Pemerintah Provinsi Lampung, tiba-tiba berkumpul pada satu titik membentuk lingkaran tepat di depan panggung.
Satu per satu mulai mendekat ke arah panggung. Sesekali protokol Gubernur menghalau masyarakat yang mencoba untuk mendekati panggung.
Ternyata mereka ingin menyaksikan secara lebih dekat tari kolosal tabuh kayu. Barisan meja VIP sebagai tempat jamuan tamu istimewa seolah tidak dihiraukan penonton.
Tarian kreasi Lampung itu dibawakan 12 penari yang masih berusia belia, berkisar 7—12 tahun.
Dengan make up tebal dan rambut disanggul cepol ke atas, mereka menarikan berbagai gerakan dengan rancak dan luwes. Modifikasi kain tapis di pinggang sebagai seragam penari menambah kesan kompak.
Tari tradisional itu menceritakan tentang sulitnya mencari sumber air. Masing-masing penari membawa buah maja yang telah dicat berwarna hitam serta terus mengeluarkan bunyi ketika digoyangkan.
Gerakan penari yang cukup lincah sesekali membentuk segitiga, memencar ke kanan dan ke kiri. Berkumpul menjadi salah satu gerakan tarian tabuh kayu.
Berbeda dengan tarian pada umumnya yang memiliki tinggi badan sama, pada tarian ini tubuh penari sengaja tidak dibuat sama, yakni berbadan kecil dan ada pula yang berbadan tinggi. Masing-masing penari memiliki peran yang cukup penting. Anak kecil menempati posisi paling depan, sedangkan anak berbadan lebih tinggi berada di bagian belakang tengah kanan dan kiri membentuk segitiga.

Buah Maja
Tari kreasi yang berdurasi sekitar 7—10 menit tersebut menampilkan gerakan yang cukup rumit. Diiringi musik gamolan, para penari sesekali melakukan gerakan lari-lari kecil mengelilingi penari lain sambil membunyikan buah maja. Gemercik bunyi yang dikeluarkan dari dalam buah maja seolah-olah menggambarkan suara air.
Selain gerakan melingkar dan lari membentuk lingkaran, penari bertubuh mungil itu menggendong penari lainnya. Pada gerakan ini penonton dibuat cukup kagum dan semakin antusias.
Pada beberapa bagian gerakan tari, masing-masing tiga penari melakukan gerakan dengan memanggul tubuh penari lainnya sehingga membentuk segitiga dengan formasi tiga di depan, belakang, kanan dan kiri.
Menjelang akhir pertunjukan, suara ketukan musik gamolan lebih dipercepat dari sebelumnya. Begitu juga dengan gerakan para penari yang lebih aktif. Sambil berujar “kapuai, kapuai, kapuai, kapuai,” para penari terus melakukan gerakan dengan menghentakkan kaki ke lantai lebih cepat.
Di akhir pementasan, para penari membuat formasi memanjang seperti berbaris. Dilanjutkan salam khas Lampung tabik pun yang menjadi penutup penampilan penari tabuh kayu dari Sanggar Bunga Mayang.