Menelusuri Jejak Megalit dan Pepadun

Gunung Dempo kiblat arca-arca megalitik. blog.fitb.itb.ac.id

RUBRIK Lampung Tumbai semakin memperjelas betapa penting kajian akademis berbasis penelitian ilmiah mengenai kondisi daerah sehingga jelas betapa penting mengungkap berbagai permasalahan yang terkait dengan sejarah awal megalit yang ditemukan di tempat yang berbeda-beda di wilayah pegunungan di Lampung. Penelitian ilmiah tentunya dapat menemukan perihal pemburu dan petani yang berpindah-pindah pada zaman dulu sebagai tempat tinggal, terutama dalam pemilihan wilayah.
Sebelum memulai penelitian sejarah kehidupan orang Lampung ketika itu, tentu sangat perlu untuk membahas secara cermat dan perinci tentang kompleksitas megalit dan lokasi persembahan yang ditemukan dalam perjalanan sejarah sebelum masa kemerdekaan dan pada masa tahun 1950-an, yang juga berhubungan dengan megalit di daerah pegunungan yang telah terkenal dari dulu.
Berdasar hasil penelitian Fiedrich W Funke, ternyata megalit tersebut berpusat di tiga wilayah. Pertama, di dataran rendah Kenali di sebelah tenggara Danau Ranau. Di sana, di bagian timur pegunungan terdapat beberapa peninggalan Megalitikum di sekitar Kampung Batubrak dan Kenali.
Kedua, di lembah Wai Pitai, di bagian timur pegunungan tengah, ditemukan kompleks megalit besar Kebuntebu di lima lokasi terpisah yang membenarkan kesimpulan terhadap corak hidup kelompok suku tersebut dengan adanya lempengan batu dan menhir tinggi berbentuk obelisk yang mereka bangun. Peninggalan Megalitikum ketiga terletak di pegunungan bagian selatan, tidak jauh dari Gunung Tanggamus. Di sana, di kedua sisi Wai Ilahan atas terletak dua kompleks menhir.
Penelusuran berikutnya, di Tangkit Kuripan ditemukan jalan yang memiliki menhir di sepanjang sisinya, yang kemungkinan, berdasarkan bangunannya, dahulu terdapat lebih dari 64 tonggak batu dan kini masih terdapat 27 buah. Tak jauh dari tepi kanan Sungai Ilahan terdapat kompleks menhir Talangpadang yang telah ditemukan dan diceritakan oleh Van der Hoop beberapa puluh tahun yang lalu. Sebab, jauh sebelum itu sangatlah mustahil untuk menguraikan tempat asal megalit tersebut.
Tetapi dalam perkembangannya kini, kita tahu bahwa tak ada “pembawa budaya Megalitikum” yang membangun batu-batu ini dengan pemindahan hipotetis ke Sumatera, tetapi batu-batu tersebut dengan pasti dapat menggambarkan masyarakat Lampung, terutama orang Abung yang menghuni wilayah ini.

Relatif Sama
Penelitian berbasis hasil observasi dan wawancara memperjelas adanya megalit di seluruh wilayah pegunungan Lampung ditemukan dengan cara yang relatif sama. Penjelajahan di beberapa wilayah-wilayah tersebut sesuai yang direncanakan berdasarkan jejak keberadaan orang Lampung, khususnya suku Abung. Tidak semua penjelajahan ke dalam pegunungan yang tertutup hutan belantara berhasil dilakukan. Sebab, meski perjalanan jauh yang melelahkan menjadi sia-sia. Sering diperoleh informasi adanya “batu keramat” di suatu tempat di lembah hutan atau di punggung gunung yang berasal dari “setan” atau “orang jahat”.
Meski pegunungan ini tidak berpenghuni, suku-suku yang menghuni pesisir (Peminggir) atau Rebang-Melayu dan Ogan-Melayu berpindah ke pegunungan belantara yang tidak dapat dilalui guna membuka lahan untuk ditanami pohon kopi atau lada untuk sementara waktu. Dalam pencarian ladang baru tersebut, mereka menemukan batu-batu yang tampak aneh di tengah hutan belantara.
Hanya terdapat satu kejadian di Tangkit Kuripan, batu-batu tersebut dipindahkan. Secara umum, masyarakat merasa sangat takut terhadap batu-batu yang asal-usulnya tidak jelas tersebut. Bahkan, di Wai Pitai para transmigran dari Jawa melakukan ritual sesembahan terhadap megalit-megalit tersebut. Sebenarnya penemuan kedua kompleks menhir yang ditemukan itu, ternyata dibangun oleh suku Abung Selatan di belantara pegunungan sebelah utara Tanggamus.
Kedua kompleks tersebut berada di tepi daerah dataran rendah yang dilewati oleh aliran sungai Wai Muara Abung, Wai Negeri Abung, Wai Mintjang, dan sungai besar Wai Ilahan. Daerah ini merupakan pusat orang Abung pada mulanya di wilayah selatan.
Pada awal Juni 1953, saya singgah di dataran rendah-Semangka untuk waktu yang sebentar guna menyiapkan penelitian di wilayah Ilahan atas. n