Mengais Rezeki lewat Rujak Be-beg

Berjualan rujak bebeg untuk melanjutkan kehidupan. (Ilustrasi/fb)

KALIANDA--Mangkal di sudut trotoar Jalan Kota Baru Kalianda, Mubin langsung berteriak: "Rujak... Rujak... Rujak be-beg asli dari Jawa Barat," ketika ada yang melintas. Teriakan itu untuk menawarkan dagangannya dan menarik simpati pembeli.

Sejak pukul 9.00, pria 23 tahun yang mengenakan kemeja jeans biru itu telah sibuk menata dagangannya. Keceriahan dan semangat nampak dari raut muka Mubin, dengan harapan hingga sore hari dapat membawa berkah.

Mubin, si penjual rujak be-beg, setiap hari menjajakan dagangannya dengan modal dua boks berisikan aneka buah-buahan berikut beberapa bumbu dapur. Pemuda asal Brebes, Jawa Tengah itu bisa membantu kedua orang tuanya untuk menyambung kehidupan.
Pemuda kelahiran 23 Mei 1993 itu harus putus sekolah sejak 2008 silam untuk melanjutkan usaha orang tuanya, Manto (45), karena faktor ekonomi. Ia hanya engenjam pendidikan hingga bangku SMP.
"Pendidikan SMP saja, saya belum selesai. Ya, karena faktor ekonomi, mas," kata Mubin, putra pertama dari empat bersaudara itu.
Namun dibalik kegagalan itu, Mubin memiliki semangat tinggi untuk membantu kedua orang tuanya. Bahkan, ia bercita-cita ingin menyekolahkan ketiga adiknya hingga lulus keperguruan tinggi.

Berbekal dari kecekatan kedua tangannya dalam mengolah makanan dari buah-buahan itu, sedikit-demi-sedikit, Mubin mampu mengumpulkan pundi-pundi uang untuk keluarganya. Dalam penjualan rujak be-beg, ia meraup keuntungan bersih berkisar Rp40 ribu - Rp150 ribu per hari.
"Setiap hari saya berjualan rujak beg-beg. Alhamdulillah, peminat di Lamsel, khususnya di Kalianda cukup banyak. Agar para pembeli tidak bingung mencari-cari rujak beg-beg, saya harus mangkal. Tempatnya, cuma di trotoar ini bersama pedagang lainnya," kata dia.

Namun jika musim hujan, dagangannya tidak begitu laku. Sehingga, Mubin hanya mampu membawa keuntungan sedikit. "Tentunya disaat turun hujan, pembeli sangat sepi. Dan, hasilnya pun sedikit. Paling dapatnya cuma dapat Rp40 ribu - Rp50 ribu sehari," katanya.

Sejauh ini keuntungan dari penjualan rujak be-beg itu, Mubin bersama orang tuanya, sebagian telah ditabungnya. Sebagian lagi digunakan untuk kebutuhan sehari-hari mereka.