Menggali Artefak Megalitik

Situs Megalitik Batu Bedil. Foto: Int

PERJALANAN penelususan jejak megalitik terus dilakukan. Sekitar beberapa ratus meter ke selatan dari umbul ini terletaklah hutan sekunder Batu Bedil di hutan belantara. Batu ini merupakan monolit dengan tinggi hampir dua meter dengan bagian paling lebar 70 cm dan paling kecil kurang dari 40 cm.
Batu tersebut terbuat dari pasir kapur yang tidak keras dan permukaannya telah dimakan cuaca dan tertutupi tumbuhan lumut. Batu tersebut mulai rapuh, banyak pengunjung yang mengangkat monolit itu. Batu tersebut berbentuk seperti buah pir yang memanjang atau piston kayu senjata kuno. Permukaan atasnya memanjang seperti leher botol. Bagian tengahnya tertutup rapat. Sepertiga bagian tengah ke bawahnya memiliki tonjolan di salah satu sisi, seperti perut botol anggur Chianti.
Tonjolan ini hanyalah satu sisi, sehingga bagian lainnya memiliki sisi yang lebar dan licin. Dari sini dapat dikenali bahwa monolit ini diubah. Dapat saja batu ini dulunya diletakkan di atas sisi yang licin. Jika batu ini digunakan sebagai menhir, harusnya batu di tanam di dalam tanah karena ujung bawahnya lebar dan bulat.
Setelah diteliti lebih mendalam diperoleh kejelasan, ternyata Batu Bedil ini berbeda dari batu-batu lainnya yang dibahas di sini yang memiliki permukaan yang licin dan rata. Namun, dapat meyakini jika batu ini dulunya diletakkan pada sisi yang licin sehingga kegunaannya masih belum diketahui.
Memang belum ditenemukan batu yang serupa dari semua tempat penemuan megalit yang pernah dikunjungi di Asia Tenggara. Begitu pula fungsinya masih menjadi misteri sebagai batu persembahan karena bentuknya terlalu kecil.

Batu Bedil
Jika Batu Bedil dibanding dengan megalit yang ditemukan di lingkungan tinggal Orang Abung dulu kemungkinan besar batu ini adalah sebuah menhir, steinpfost yang berdiri tegak. Orang Rebang menyebut batu tersebut dengan nama Batu Bedil = Batu senapan karena bentuk pistonnya. Batu tersebut dianggap misterius atau suci oleh semua orang. Mereka tidak mengetahui apa pun perihal usia dan siapa yang membuatnya dan membawa ke tempat ini. Seringnya, orang Rebang-Melayu Islam dan orang Semangka mengindikasikan bahwa batu ini berhubungan dengan setan.
Hal ini sangatlah mustahil bahwa sisi luar batu ini dan sisi lainnya dulu dikerjakan dengan tangan. Terlebih lagi, bagian permukaannya diratakan. Cuaca membuat perubahan jauh pada seluruh permukaannya sehingga tidak bisa dilakukan penelitian lebih lanjut. Batu ini telah kehilangan bentuk aslinya pada sisi luar karena ulah tangan manusia.
Ternyata sekitar 60 m ke arah tenggara dari lokasi Batu Bedil tersembunyi monolit lainnya di Gestruepp lebat yang disebut dengan Batu Surat oleh masyarakat Rebang. Seperti terlihat pada sketsa kompleks menhir Tangkit Kuripan, batu surat terletak di posisi khusus ke kompleks menhir besar mengapa saya menandai dengan no. 1. Posisinya berada di barisan menhir tengah dengan batu pertama nomor 5. Jaraknya dengan nomor 5 sekitar sejauh 40 m. Ketepatan jarak ini tidak diukur dengan meteran karena di antara nomor 5 dan Batu Surat terdapat hutan belantara.
Garis penghubung tepat ke arah barat-timur. Konstelasi Batu Surat ke Batu Bedil tidak dapat dijelaskan dengan perinci karena wilayah di antara kedua batu tersebut tidak dapat dilihat.
Batu Surat terletak miring, tepi depan bagian bawahnya sedikit tertutup tanah, sementara tepi belakangnya menghujam ke dalam tanah. Seluruh tepi depannya tidak terpendam, sisi belakangnya menjulang ke atas. Sisi depannya memiliki tinggi sekitar 1,60 m dan ornamen bawahnya setinggi 80 cm, dengan tinggi tanda paling atas tepat selebar 60 cm. Kekuatan rata-rata sekitar 35—40 cm. Batu terbuat dari batu kapur berpori, seperti halnya Batu Bedil.
Monolit ini dikerjakan dengan tangan seluruhnya sehingga sangatlah berbeda dengan Batu Bedil. Permukaannya yang tidak begitu rata disebabkan oleh faktor cuaca. Batu ini tertutup rata oleh lumut, juga bagian bawahnya. Untuk dapat mengamatinya dengan lebih jelas, kami menggunakan kulit pohon untuk menggosoknya. Untuk itu, tak bisa dihindari bahwa lapisan terluarnya yang termakan cuaca ikut tergosok sehingga tanda yang ada pada sisi depannya baru bisa terlihat.

Hasil Kerja Tangan
Batu yang dibuat dengan tangan ini memiliki bentuk trapeze yang tampak dari depan. Semua tepinya diasah lembut sehingga tidak terdapat bagian sudut yang tajam. Bagian ujung sisi depan dan sampingnya sangat rapuh. Sisi luarnya diasah lebih baik dari pada sisi sampingnya sehingga seperti balutan bulat.
Memang hal khusus dari Batu Surat ini selain dari bentuknya yang membedakan dengan menhir Tangkit Kuripan lainnya, yaitu bagian depannya tertutupi tanda yang berlubang. Tanda tersebut merupakan garis-garis lekuk sedalam beberapa milimeter yang lebar dan bulat sehingga tidak dapat disebut dengan "ukiran". Tanda-tanda ini seluruhnya diukir dengan alat pahat logam bulat. Sangatlah mustahil jika permukaan ini diukir dengan pen batu yang keras.
Permukaan tanda yang diukir berbentuk bulat, begitu pula tepi luarnya. Jika memperhatikan efek cuaca, hampir tidak terdapat panduan garis yang dapat diamati termasuk juga tepi luar tanda yang bulat. Banyak sekali tanda yang hilang dalam lekuk-lekuk kecil pada permukaannya sehingga mustahil untuk mengikuti tanda-tanda tersebut.
Peneliti sudah berusaha memeriksa seluruh permukaan Batu Surat dengan ujung jari. Namun, akhirnya dapat diidentifikasi garis-garis dalam tiga garis mendatar, masing-masing pada kepala, kaki, dan sekitar bagian tengah permukaan yang diukir. Lalu, dibersihkan lekuk-lekuk dengan ujung jari ke dalam garis-garis. Namun, hasilnya tidak begitu memuaskan. n