Menggali Makna Pepadun

Singgasana pepadun. tulangbawangmeggala.blogspot.com

BUDAYA Lampung sebagai bagian integral kebudayaan Indonesia di masa lalu diwarnai dualisme. Menurut Kuntowijoyo, ungkapan “desa mawa cara, negara mawa tata” menunjukkan dua subsistem dalam masyarakat tradisional. Memang sebenarnya, keduanya merupakan dua unit yang terpisah, bahkan sering saling bertentangan dan pantang memantang.
Orang Lampung sering mengidealisasikan budaya lokal sebagai kreativitas yang spontan, bicara sebagai apa adanya, bersikap dan bertindak jujur; yang justru kesemuanya itu menegaskan dualisme budaya yang dipelihara dibina dan kelembagaannya perlu diberdayakan secara terprogram dan berkelanjutan.

Falsafah Hidup
Masyarakat Lampung dalam bentuknya yang asli memiliki filsafat atau pandangan hidup, meski dari aspek penduduk terdapat ragam suku, adat istiadat dan agama yang dianut. Sebenarnya filsafat masyarakat lokal itu tidak terlepas dari nilai, norma, struktur sosial dan agama yang dianut, terutama bagi kalangan suku Lampung asli yang menganut agama Islam.
Dalam masyarakat adat terdapat ragam tradisi yang berbeda antara kelompok masyarakat yang satu dan yang lainnya. Kelompok-kelompok tersebut menyebar di berbagai tempat di daerah Lampung. Secara umum, “ada dua kelompok masyarakat adat, yaitu Saibatin dan Pepadun. Masyarakat adat Pepadun terdiri dari Abung, Pubian, Rarem Mego Pak, Bunga Mayang Sungkai, Way Kanan Lima Kebuiyan serta Melinting. Pemimpinnya disebut Penyimbang”.
Memahami filsafat masyarakat adat suku asli Lampung, disebut piil pesenggiri, yang terdiri dari juluk adek, nemui nyimah, nengah nyappur, dan sakai sambayan. Piil pesenggiri bersumber dari kitab undang-undang adat masyarakat Lampung, yaitu kitab Kuntara Rajaniti, Cempalo, dan Keterem. Filsafat hidup itu terbuka, fleksibel, dan mencakup berbagai bidang kehidupan masyarakat sehingga filsafat itu menerima masukan dari ajaran agama, ideologi, paham atau pemikiran yang dinamis dan kreatif sehingga dapat sesuai dengan dinamika pembangunan dan diterima oleh peradaban dunia.

Makna Pepadun
Sejauh ini, memahami makna Pepadun (peneliti asing sering menulis: Papadun; Papadoen) dalam masyarakat adat Lampung perlu belajar yang diawali dari mengetahui tentang pranata sosial yang bersifat dinamis. Dalam buku Mencari Jejak Masa Lalu Lampung: Lampung Tumbai yang ditulis Frieda Amran, dinyatakan: “Ketika Du Bois bertugas di Lampung, papadoen merupakan sebuah singgasana yang terbuat dari satu potong kayu. Bentuknya empat persegi panjang, yang berukuran 1,20 x 1 m di atas kaki-kaki yang tingginya tidak lebih dari 30 cm.”
Pada bagian lain, peneliti Funken menyatakan: “Pepadun kini merupakan bangku yang dibuat seperti singgasana dari kayu besar yang dihias yang boleh dibawa oleh pemiliknya pada perayaan terbuka. Perayaan yang berlangsung lama berhubungan dengan pengujian operasional suatu Pepadun yang prosesnya diatur hingga detail terkecilnya. Pada kenaikan Pepadun (bahasa Lampung: Gawi Cakak Pepadun) diperlukan penyembelihan kerbau dan biasanya makanan pesta yang mewah, bahkan pada zaman modern juga dilakukan pembagian uang untuk semua masyarakat suku. Pemilik Pepadun melepaskan namanya yang sebelumnya pada kenaikan pertama. Kemudian, ia menerima sebuah nama baru dan ditambah dengan gelar "Sutan". n