Menghindari Musibah

Isnovan Djamaludin, wartawan Lampung Post

KEKERASAN terhadap anak hingga jatuhnya korban jiwa kembali terjadi. Kali ini menimpa APA (10), seorang siswi SD di Kurungannyawa, Kecamatan Gedongtataan, Pesawaran, yang menjadi korban pembunuhan.
Gadis kecil yang dikenal pintar, religius, dan pendiam itu ditemukan sudah tak bernyawa di semak-semak pinggir sungai di Jalan Persada 2, Gang Al-Fatah, Kemiling Raya, Bandar Lampung, Jumat (17/2/2017), sekitar pukul 20.00.
Saat ditemukan kondisi korban cukup mengenaskan. Ditemukan luka tusuk di dada kiri, luka sayatan benda tajam, dan luka berat di kepala diduga akibat hantaman benda keras.
Tidak berselang lama dari penemuan korban, anggota Polsek Tanjungkarang Barat menangkap tersangka Nan yang masih berusia 14 tahun. Yang mencengangkan sekaligus tak habis pikir, tersangka merupakan teman bermain korban dan bertempat tinggal hanya berjarak sekitar 50 meter dari rumah korban.
Hasil penyelidikan sementara petugas, tersangka nekat menghabisi korban karena dendam. Tersangka mengaku kerap diejek korban dan orang tuanya.
Polisi yang memeriksa lokasi kejadian menemukan barang bukti berupa sandal jepit milik korban, jaket merah milik tersangka, serta sebilah pisau dan dua bongkah batu yang diduga digunakan Nan untuk melukai korban.
Ah, ada apa dengan negeri ini? Ada apa dengan bangsa ini? Hingga seorang anak bisa memendam dendam kesumat dan berbuat nekat menghilangkan nyawa orang lain karena sering diejek atau diolok-olok. Sebagai orang tua dan sebagai manusia, penulis coba mengambil hikmah dari peristiwa tragis ini. Bahwa seseorang harus menjaga sikap dan ucapannya.
Apalagi, sebagai orang tua yang terkadang khilaf berbuat dan berucap buruk di hadapan sang anak. Padahal, kita tahu anak merupakan peniru yang ulung.
Selain itu, sebagai orang tua, kita wajib menjelaskan kepada anak kita terkait sifat-sifat tidak baik yang mungkin didapat dari lingkungan sekitar tempatnya bermain seperti kebiasaan saling mengejek. Sebab, kita tak pernah tahu dalamnya hati seseorang.
Ajarkan kepada anak kita untuk tidak sungkan meminta maaf kepada siapa pun terkait hal-hal yang tidak baik yang mungkin telah dilakukannya. Jangan sampai kelalaian kita dalam mendidik anak soal baik dan buruk menyebabkan terjadinya musibah.
Biasakan berkomunikasi, khususnya dengan anak kita, agar setidaknya bisa diketahui masalah yang sedang dialaminya. Semoga saja dengan upaya ini anak-anak kita terhindar dari perbuatan buruk di luar tanpa sepengetahuan kita sebagai orang tua. Sebab, anak merupakan titipan Allah kepada kita sebagai orang tua yang harus dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. n