Mengurai Benang Kusut

Ilustrasi benang kusut kehidupan. 2.bp.blogspot.com

"Jikalau Rabbmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu dan untuk itulah Allah menciptakan mereka." (Hud: 118—119)

KITA baru saja melewati tahun 2016 dengan kompleksitas hidup yang banyak disimpulkan sebagai tahun tergerusnya toleransi dan mengancam kerukunan. Bagaimana antarsesama anak bangsa mudah menyakiti dan tertawa di atas penderitaan anak bangsa lainnya. Begitu mudah menyakiti dan menghina, begitu mudah memfitnah, mengafirkan, bidah, khurafat, dan sebentuk titel buruk lainnya yang jelas–jelas memeluk agama yang sama.
Sangat mudah ditemui antarsesama anak bangsa tidak mengenal penderitaan anak bangsa lain, asyik masyuk dengan rutunitas yang mengarahkan untuk melupakan makhluk lain di sekitarnya. Seringnya pertikaian dalam masalah sepele yang mestinya sudah selesai di bumi yang menjunjung kerukunan dan toleransi. Tapi, ternyata masih berkutat kepada hal–hal yang mestinya sudah terlewati jauh–jauh hari.
Seakan label buruk begitu mudah didapatkan hanya dengan saling menuduh dan tuding keburukan. Menganggap jelek mereka yang berbeda, baik suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) lantaran tidak tercapai dan seirama dalam menyikapi suatu permasalahan. Seakan lupa dan abai kalau tiap individu pasti berbeda, seorang anak kembar saja dapat berbeda, apalagi yang berbeda rahim dan seolah melupakan kalau perbedaan adalah rahmat Allah swt terbesar kepada hamba-Nya.
Sebagai makhluk, kita ini masih lemah, bodoh, terpecah belah, tetapi kenapa kita masih selalu merasa lebih baik? Renungkanlah (muhasabah). Coba telusuri lagi, apa kekurangan kita? Evaluasi diri, introspeksi diri. Terlalu berbahaya kalau kita selalu merasa lebih baik, tetapi sangat sedikit menelaah diri ke dalam. Apa kekurangan kita, apa ketidakkompletan kita, apa khilafnya kita. Jangan sampai Islam yang kita dakwahkan cacat gara-gara penyakit “saya lebih baik”, lalu tidak ada evalusi diri, maka yakinlah cahaya hidayah akan jauh. Bukan menghukum, tapi itulah garis hidup yang mesti dilalui sebagai makhluk yang katanya khalifah fil ardy.
Akan sia–sia jika energi dan perhatian Nusantara ini hanya kepada hal remeh-temeh dengan melupakan hakikat hidup dan menelantarkan kebaikan serta kebajikan. Rugi dan celaka tiap anak manusia lantaran menganaktirikan problem yang mestinya dituntaskannya dan kemaslahatannya akan terasa besar bagi khalayak publik. Sudah sepantasnya bangsa yang majemuk dan besar ini membuang semua embel–embel kesesatan, agar lahir keharmonisan dan pada ujungnya menjadi bangsa yang berdaulat di mata dunia.
Jalan kejayaan sebenarnya akan terbuka lebar jika kita mau berangkulan, toleransi, dan pastinya rukun dengan mengensampingkan segala perbedaan jika tidak menyangkut akidah dan tauhid. Maka, sangat boleh bahkan wajib menerapkan ajaran kemaslahatan bangsa yang dianjurkan oleh agama. Karena bangsa ini tidak mungkin ada jika tidak ada perbedaan, tidak mungkin lahir yang namanya Indonesia jika tidak ada suku, ras, agama, dan antargolongan yang berbeda.
Jadi, dengan demikian, kenapa kita musti alergi dan benci dengan yang namanya berbeda, kenapa musti takut dengan kemajemukan. Bukankah pelangi indah dengan banyaknya warna (perbedaan), bukan satu warna yang sekarang coba dimonopoli satu golongan dan cap yang pantas bagi mereka adalah golongan sesat.
Kalau kita sudah ittiba’, jalannya simpel. Ikuti saja jalan itu supaya kamu mencapai kemenangan dan kesuksesan. Kalau ittiba’, bukan hanya menang, tapi juga sukses dan mencapai angan-angan, litanaalul fauza wal falaah. Jangan mengikuti jalan yang berbeda dengan jalan ini. Kalau Nusantara ambil jalan lain, bisa disesatkan dan dipecahkan ke kiri dan ke kanan. Kalau sudah begitu, berarti kita sudah tersesat. Jalan hidup jangan dikira-kira, jangan dicoba-coba, tapi laksanakan anjuran yang terpampang jelas di depan mata.
Hikmah diraih karena berkah Allah. Difirmankan, yang artinya, “Allah memberikan hikmah kepada sesiapa yang dikehendakinya. Dan, barang siapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebaikan yang banyak.” (QS Al- Baqarah: 269). Lukman al-Hakim juga satu di antara hamba Allah yang diberi hikmah yang dari dirinya lahir banyak kebaikan dan teladan bagi kehidupan, bak pelita di tengah kegelapan.
Berilmu semestinya naik tangga menuju ilmu berhikmah bukan sekadar ilmu verbal dan instrumental. Banyak orang berilmu, tetapi ilmunya tak mencerahkan sekitar, bahkan tak mampu menerangi dirinya. Mereka yang berilmu tinggi pun tak jarang tersesat arah jalan sehingga mengalami disorientasi hidup. Timbullah kesombongan dan takabur akan ilmu yang tak mampu membawa kemaslahatan.

Mengurai Benang Kusut
Benang hidup ini sudah terlalu kusut, maka jangan dibikin kusut lagi. Tapi, bagaimana kita mampu menguraikan secara bersama–sama (gotong royong). Bangsa Indonesia sudah terlampau jauh dan mendekati jurang kehancuran, maka sudah menjadi keharusan tiap anak bangsa menguraikan menyelesaikan tiap masalah secara bersama–sama dengan menemukan jalan keluar yang baik bagi semua (problem solving). Sepatutnya dan sepantasnya membuang jauh yang namanya suuzon kepada anak bangsa lain, apalagi yang mau bekerja keras membangun Nusantara tercinta demi peradaban dan keadaban Indonesia.
Semoga Indonesia mampu keluar dari jerat hitam kemusnahan, dengan selalu menghadirkan toleransi dan kerukunan sebagai keniscayaan bangsa yang besar dan majemuk. Lupakan dan abaikan perbedaan apa lagi yang menjuruskan kerusakan bangsa. Mari ciptkan negara baldatun tayyibatun warobbun ghafur. Amin.
“(Yaitu) orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada (kehidupan) akhirat dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan (jalan yang) bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh.” (QS Ibrahim: 3). n