Menikmati Bersama-sama

Sri Agustina, (Lampost.co)

MASIH teriang dalam ingatan saya pada tahun 2013 lalu saat bertemu dengan kawan-kawan dari berbagai daerah di Jawa dalam pertemuan membahas soal konservasi satwa dan lingkungan di Cisarua. Seorang kawan dari Jawa Timur yang baru pertama kali bertemu muka mengajukan pertanyaan agak konyol. "Eh, di Lampung tuh banyak gajah, ya? Di sana ada mal, enggak?"
Dengan mimik kesal tapi sambil menahan tawa, saya jawab, "Jiahhh... makanya nyeberang geh, biar tau tuh gimana Lampung. Nih, kopinya aja sedepppp pake banget!" kata saya sambil mengangkat dua jempol tangan. Kebetulan saat itu saya memang sengaja membawa kopi asal Lampung untuk oleh-oleh rekan dan juga buat diminum bersama.
Saya pun mulai bercerita bagaimana kondisi daerah kelahiran saya kepada rekan tadi. Sambil mengaguk-angguk kepala, dia kembali berujar. "Lah, tak kira itu Lampung cuma hutan dan gajah, lo. Awaku dadi arep merono, lo," katanya dengan dialek kental.
"Yo wes, tak enteni, mengko tak jak keliling. Laute apik tenan, pokoke ora rugi sampean nek nang Lampung," ucap saya berpromosi.
***

Kini, 4 tahun berselang dari cerita di atas tadi, Bumi Ruwa Jurai mengalami perkembangan yang cukup pesat dari sisi pembangunan dan perekonomian. Kalau dulu hanya ada beberapa ruko, kini hampir di sepanjang jalan protokol telah berubah menjadi pertokoan.
Perhotelan pun tumbuh bak jamur di musim hujan. Ada di mana-mana. Kalau dulu bisa dihitung dengan jari, kini harus dibukukan, mulai dari hotel melati hingga hotel bintang skala internasional.
Tak cuma itu, pertumbuhan kendaraan yang pesat dan kerap menyumbang macet membuat pemerintah daerah juga membangun flyover atau jalan di sejumlah titik. Kini sudah ada lima flyover di Ibu Kota Provinsi Lampung. Tak kalah dengan kota besar lainnya, kan?

Pariwisata di Lampung juga bermunculan, baik yang alami hingga modern. Dan, sudah cukup dikenal ke mancanegara seperti Teluk Kiluan serta Tanjung Setia sebagai pantainya peselencar dunia.
Hal di atas jelas mengindikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi di Lampung berjalan. Sebab, tak akan mungkin investasi digelontorkan jika tidak menguntungkan bagai investor.
Begitu juga dengan Bandara Raden Inten II yang selangkah lagi menjadi bandara internasional. Plus keberadaan mega proyek jalan tol trans sumatera (JTTS) yang tengah dirampungka, membuat Lampung diperhitungkan di kancah nasional. Semua itu membanggakan.

Namun, dari pertumbuhan yang pesat itu tetap saja ada gap atau jurang yang bernama kemiskinan. Masih banyak juga daerah kumuh yang perlu mendapat perhatian dari pemerintah. Juga pengangguran tak kentara masih cukup tinggi.
Ini yang menjaadi pekerjaan rumah para pemimpin di daerah ini, yakni bagaimana pesatnya pembangunan dan perekonomian itu bisa dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk masyarakat ekonomi bawah.
Saya berharap kita semua dapat bersama-sama menikmati pembangunan ini dengan mengusung asas pemerataan dan keadilan. Sama-sama berandil dalam pembangunan, sama-sama menikmatinya. Selamat ulang tahun ke-53 Provinsi Lampung.***