Menikmati Eksotisme Wisata Mangrove di Purworejo

Wisatawan dapat melihat ribuan burung yang sedang mencari makan dipinggir pantai mangrove Desa Purworejo Kecamatan Pasirsakti Lampung Timur. ampung Post/Agus Susanto

KELOTOK tua, dengan bunyi mesin diesel yang ndut-ndut-an atau menyendat-nyendat, polusi asap hitam mengepul, membuat penumpang menutup hidung. Tanpa pelindung atap, terik matahari memanasi tubuh penumpang perahu butut yang di dalamnya ada Bupati Lampung Timur (Lamtim) Chusnunia Chalim, Kapolres Lamtim AKBP Harsen, Kapolsek Pasirsakti AKP Kusnen, dan Sekretaris Dinas Pariwisata Estuning.
Meski panas menyengat, tidak dirasakan oleh para penumpang lantaran terhapus oleh desiran angin dari tiupan ribuan pohon mangrove yang tumbuh subur dari sisi kanan-kiri sungai. Melihat kondisi alam yang asri nan eksotis ini, semua awak kelotok sibuk dengan kamera masing-masing, tidak terkecuali Chusnunia Chalim.
Perjalanan menuju wisata mangrove dilakukan tepat pada hari libur nasional, Rabu (15/2/2017) lalu. Perahu yang ditumpangi Bupati dikawal oleh dua speed motor dari ujung sungai menuju wisata mangrove. Namun, baru separuh perjalanan, tiba-tiba perahu yang ditumpangi orang nomor satu di Lamtim itu berhenti mendadak, tapi mesin tetap berbunyi. Setelah dicek oleh sang nakhoda, ternyata macet akibat pemutar baling-balingnya lepas.
Hanya perlu waktu 10 menit untuk menyambung kembali baling-baling yang lepas tersebut. "Tidak perlu khawatir ini hanya masalah kecil," ujar sang nakhoda dengan tenang.

Dihuni Ribuan Burung
Kelotok yang berisi 10 orang itu kembali menyusuri sungai menuju wisata mangrove yang ada di Desa Purworejo, Kecamatan Pasirsakti, Lamtim. Tiba di lokasi wisata mangrove, rombongan pindah dari perahu beristirahat di gubuk yang terapung di atas bantaran sungai. Di sekeliling gubuk dipenuhi oleh 160 ribu pohon mangrove yang masih berumur sembilan bulan. Pemandangan tampak indah dengan bantaran sungai yang luasnya ratusan hektare. Ratusan burung bangau membuat pemandangan semakin asri. Burung-burung yang memiliki paruh panjang berwarna kuning tersebut berdiri di atas lumpur sambil berjalan mencari mangsa.
"Waw, ini kalau lebih diperhatikan dan dipromosikan akan menjadi lokasi wisata yang tidak semua kabupaten di Lampung memilikinya," ujar Chusnunia di atas gubuk sambil memotret sekitar.
Bupati Lamtim itu bertekad akan menjadikan lokasi mangrove sebagai objek wisata. Jika bisa berjalan dengan baik dalam pengelolaan dan pemasarannya, selain menjadi tambahan aset daerah, tentu menjadi sumber penghasilan tersendiri bagi warga Purworejo yang tinggal di sekitar lokasi mangrove.
Bupati mencontohkan jika wisata mangrove diminati banyak pengunjung, tentu pengunjung tidak akan bisa masuk ke lokasi tanpa menaiki perahu. Dengan perahu tersebut, warga bisa mendapatkan rezeki dari pengunjung. Selain itu, karena lokasinya jauh dari perkampungan, pengunjung tentu akan kesusahan mencari logistik makanan, kecuali dengan membawa dari rumah. Ini berarti warga bisa berjualan makanan di tempat ini.
"Selain bisa menikmati pemandangan alam mangrove dan berbagai jenis unggas, pengunjung juga bisa bersantai memancing di bantaran sungai yang berbatasan langsung dengan laut," ujar Chusnunia.