Menyambut Tahun Baru

Susilowati (Lampost.co)

“Le, kita sudah masuk 2017 sekarang, kerasa enggak?”
“Kerasa apanya, Yun?”
“Ya kerasa perbedaanya to, Le.”
“Terasa atau tidak itu kan bergantung bagaimana kita yang memaknai to, Yun.”
“Lah makanya aku tanya, kerasa enggak kita masuk 2017?”
“Sangat terasa, Yun, karena baru kali ini aku menyambut Tahun Baru dengan khataman Alquran.”
“Kamu enggak jadi istigasah?”
“Enggak, aku ikut Kang Santri menghadiri khataman Alquran di Lampung Post. Aku terharu dengan diri sendiri, juga yang mengadakan acara, membuka tahun dengan membaca kitab suci, semoga 2017 lebih berkah dari tahun yang sudah.”
‘Amin. Wah..rugi aku enggak ikut, Le. Kenapa kita enggak mengadakan acara khataman Alquran juga ya, Le?”
“Nah, itulah menarik sekaligus mengharukannya, Yun. Ternyata khataman Alquran adalah tradisi di Lampung Post setiap malam Tahun Baru.”
“Wah cocok betul kamu ya, Le, dari kemarin sibuk membuat rencana yang pas untuk penyambutan Tahun Baru.”
“Ya, sangat cocok. Aku bener-bener menikmati dan meresapi, Yun, juga berandai-andai jika semua umat Islam menyambut Tahun Baru dengan khataman Alquran, tentu menjadi energi luar biasa untuk menghadap tahun yang akan datang.”
“Wah, suasana Tahun Baru bisa seperti hutan lebah, Le.”
“Maksudnya, Yun?”
“Bayangkan kalau setiap rumah atau setiap masjid dipenuhi dengan orang yang khataman Alquran secara serentak menyambut Tahun Baru, tentu suara orang membaca Alquran akan terdengar di mana-mana, bergema, bukan suara dari mikrofon, melainkan dari seluruh mulut umat muslim, Le.”
“Ya, Yun, dan suasana Tahun Baru jadi khidmat dan penuh dengan rahmat, karena malaikat turun untuk memberi berkah para pembaca kitab suci Alquran.”
“Sungguh luar biasa, semoga Allah menurunkan rahmat dan keberkahan bagi para penyambut Tahun Baru dengan kebaikan dan mendekatkan diri kepada-Nya.”
“Amin ya robbbal alamin. Sayangnya belum banyak orang sadar dengan apa yang dilakukan, Yun.”
“Maksudnya, Le?”
“Ya kadang orang hanya ikut-ikutan saja, ada yang merayakan Tahun Baru dengan hura-hura, ikut hura-hura, tanpa tahu maksud dan tujuannya. Kalau membaca Alquran, bagi umat Islam kan jelas tuntunannya, sehingga tidak diragukan manfaatnya, Yun.”
‘Ya, orang beda-beda memaknai Tahun baru, Le.”
“Ya, sudah bagus kalau memaknainya berbeda-beda, kalau yang membiarkan Tahun Baru berlalu tanpa makna, itu yang berbahaya.”
“Ya enggak berbahaya juga, Le.”
“Berbahaya bagi diri sendiri juga masyarakat karena tidak menyiapkan diri untuk menghadapi pedang yang siap membuat kita tidak berkutik, Yun.”
“Maksudnya?”
“Waktu bagaikan pedang, kita harus berhitung dengannya, supaya kita tidak habis ditikam, salah satunya dengan membuat rencana sebelum waktu itu datang dan tak membiarkan berlalu percuma.”