Menyoal PSK Berseragam

Ilustrasi prostitusi pelajar. cdn.rimanews.com

PELAKU pekerja seks komersial atau PSK ternyata telah merambah hingga sekolah. Sungguh disayangkan, seorang siswi sekolah menengah atas menjadi seorang pelacur. Bagaimana tidak, dengan beribu alasan mereka rela menjadi seorang pelacur dikarenakan sempitnya kebutuhan ekonomi. Kondisi itu mendorong dirinya untuk melakukan pekerjaan hina dan menjual kehormatannya saat masih di bangku sekolah.
Kejadian ini tidak sekali-dua kali di Indonesia khususnya Kota Bandar Lampung, bahkan sudah banyak korban pelacuran yang merenggut masa depan mereka. Akhirnya nasib yang membawanya lari dari kenyataan menuju angka kriminalitas yang semakin tinggi tiap tahunnya.
Kejahatan yang terjadi pada remaja seharusnya menjadi perhatian kita. Tidak bisa kita menganggap remeh soal ini. Bahwasannya perlu kita sadari kasus ini membawa pengaruh bagi kita, khususnya kita sebagai umat Islam ini pun sangat bertentangan dengan ajaran agama.
Alhasil, pelacuran yang terjadi di kalangan remaja berseragam ini tidak bisa dianggap remeh. Betapa tidak, remaja tunas pemuda harapan negara untuk membangun peradaban yang mulia justru telah terjun ke dalam perbuatan hina yang dilakukan tanpa rasa malu atau bersalah mencoreng dunia pendidikan dan nama baik keluarga.

Faktor Pemicu
Kita perlu mengetahui apa saja yang menjadi penyebab hancurnya kepribadian remaja kita saat ini. Banyak faktor yang mendorong remaja melakukan prostitusi, di antarnya faktor kemiskinan, gaya hidup hedonis dan permisif, sistem pendidikan, sistem sanksi yang tidak tegas, dan rapuhnya bangunan keluarga yang menjadi faktor di antaranya sebagai berikut.
Pertama, faktor kemiskinan. Kemiskinan yang melanda sebagian besar penduduk negeri dan kesenjangan antara masyarakat si kaya dan si miskin telah membuat banyak orang frustrasi dan gelap mata, sehingga terdorong untuk melakukan hal-hal yang mudah dan cepat untuk mendapatkan uang agar bisa memenuhi kebutuhan hidup. Maka, menjadi pelacur atau bisnis prostitusi adalah pilihan yang menggiurkan bagi para remaja untuk mendapat uang.
Tidak perlu kerja banting tulang, tidak perlu ijazah, tidak perlu belajar mati-matian untuk mendapatkan nilai bagus, bahkan tidak perlu pintar dalam keahlian. Asal pintar dandan, merayu, dan merelakan kehormatan, itu sudah cukup untuk bisa mendapatkan uang banyak. Begitulah kemiskinan menghantarkan orang-orang pada kekufuran jika tidak tepat dalam mennyikapinya.
Kedua, faktor gaya hidup hedonis. Merebaknya pemikiran liberalisme yang menganggap kebebasan berpendapat dan berekspresi menyebabkan para remaja bebas bergaul dengan siapa saja. Bahkan, dengan lawan jenis yang belum halal, pacaran, mengumbar kemesraan di mana-mana. Belum lagi kehidupan serbagemerlap membuat remaja semakin gemar menghambur-hamburkan uang hanya untuk mengikuti mode, fashion, hingga hidup kebarat-baratan mereka lakoni supaya dikatakan kekinian.
Remaja semakin buta akan masa depannya kelak. Mereka menganggap kesenangan hanya untuk kali ini saja yang mereka dapat. Padahal, ukuran kebahagian yang sesungguhnya yakni kesenangan yang dicapai ketika kita dapat meraih rida Allah swt.
Ketiga, peran negara yang abai. Kondisi ini memprihatinkan ketika pemerintah abai akan tindakan remaja yang semakin mengerikan, pergaulan bebas, portitusi, PSK, dsb membuat pemerintah seolah diam tanpa komentar. Mereka hanya memberikan solusi praktis, tidak paten, sehingga masalah semakin berkelanjutan hingga naik setiap tahunnya.

Angka Fantastis
Angka kampanye sekaligus praktik seks bebas sebetulnya sudah lama berlangsung dan dilakukan secara luas. Hal itu bisa dilihat dari beberapa data hasil penelitian. Misalnya, berdasarkan hasil survei Komnas Anak dan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) di 12 provinsi pada tahun 2007 terungkap sebanyak 62,7% anak SMP yang diteliti mengaku sudah tidak perawan.
Sebanyak 21,2% anak SMA yang disurvei mengaku pernah melakukan aborsi (Media Indonesia, 19/7/2008). Hasil riset Synote tahun 2004 juga membuktikannya. Riset dilakukan di empat kota yakni Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan. Dari 450 responden, 44% mengaku berhubungan seks pertama kali pada usia 16—18 tahun. Bahkan, ada 16 responden yang mengenal seks sejak usia 13—15 tahun. Sebanyak 40% responden melakukan hubungan seks di rumah. Sedangkan 26% melakukannya di tempat indekos dan 20% lainnya di hotel.
Survei Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) terhadap 2.880 remaja usia 15—24 tahun di enam kota di Jawa Barat pada 2002 juga menunjukkan angka menyedihkan. Sebanyak 39,65% dari mereka pernah berhubungan seks sebelum nikah. Perilaku seks bebas yang marak itu dipengaruhi budaya liberal. Muncul dan menyebarnya budaya liberal di Tanah Air bukanlah proses yang berlangsung alami, tetapi merupakan hasil dari proses liberalisasi budaya yang dijalankan secara sistematis dan terorganisasi.
Liberalisasi budaya juga tidak jauh-jauh dari rekayasa Barat. Budaya liberal atau budaya bebas itu bukanlah berasal dari ajaran Islam yang dianut mayoritas penduduk negeri ini. Budaya itu lebih merupakan budaya Barat yang mengusung nilai-nilai liberal yang dimasukkan (baca: dipaksakan) ke tengah-tengah masyarakat negeri ini. Jadi, berkembangnya budaya liberal di Tanah Air itu tidak lepas dari konspirasi Barat.
Ini merupakan ancaman bagi generasi muda dalam meraih kesuksesan dunia akhirat. Akhirnya, remaja lupa jati diri dan tujuan hidupnya. Maka, hanya kembali pada penerapan Islam dengan segala aturannya yang dapat mengarahkan generasi untuk kembali pada tujuan hidup yang hakiki sebagaimana melahirkan para calon generasi peradaban mulia di bawah naungan Islam.