2012-11-16 16:15:00
MESUJI: Sawit Dibiarkan Membusuk di Pohon

MESUJI (Lampost.co): Harga sawit terus merosot. Karena tak menikmati keuntungan panen, sejumlah petani di Kabupaten Mesuji membiarkan puluhan ton sawitnya membusuk di pohon.

Sudah tiga hari ini, pabrik sawit di Mesuji dan sekitarnya hanya menerima tandan buah segar (TBS) Rp675 per kilogram. Padahal, dengan harga sebelumnya Rp720 per kilogram saja, petani sawit mengaku sudah tidak mendapatkan keuntungan.

“Kami bingung sawit ini mau diapakan, jika kami jual ke lapak pasti harganya Rp350 per kg, belum ongkos panen dan ongkos angkut," ujar Al, petani sawit di Kampung Simpangpematang, Kecamatan Simpangpematang. Artinya, petani tinggal menikmati hasil Rp50—Rp75 per kilogram TBS.
Kalau menjual langsung ke pabrik juga sama saja. Karena upah angkutnya lebih jauh. Selain itu, ada iuran di pabrik. Belum lagi kalau harus antre sampai berhari-hari.

"Antre di perusahaan bisa berhari-hari. Terakhir, dengan alasan mutu sawit turun akibat kelamaan antre, kami harus menerima potongan dari perusahaan sampai 15%," ujarnya.

Kondisi itu masih mendingan karena kadangkala sawit tidak jadi diterima. "Jika tidak cukup beruntung, setelah antre sampai tiga hari, sawit kami kerap dipulangkan dengan alasan mutu,” kata Al yang diamini rekannya sesama petani sawit, Parde.

Dibiarkan Membusuk
Karena itu, Al, Parde, dan sejumlah petani sawit memilih membiarkan sawitnya membusuk di kebun. "Terakhir, kemarin buah sawit saya 4 ton membusuk begitu saja di kebun. Mau bagaimana lagi, jika saya jual pun pasti rugi. Saya mengharapkan pemerintah Mesuji bisa menyelesaikan masalah saya juga kawan-kawan petani lain," ujarnya.

Ia pun mengaku tahu harga TBS yang ditetapkan Gubernur Lampung adalah Rp1.060/kg. "Tapi kami tidak berani protes ke perusahaan,” kata Al.
Harga TBS di pabrik pernah mencapai yang tertinggi dua bulan lalu, yaitu sampai Rp1.450 kg, tetapi kemudian terus turun. Pada pertengahan Oktober Rp1.300, akhir Oktober Rp1.000, awal November Rp900, sepuluh hari lalu Rp720, dan tiga hari lalu tinggal Rp675.
Permasalahan anjloknya harga TBS sawit telah diatasi dengan adanya kesepakatan antara Pemprov Lampung , pihak pabrikan (inti), dan petani sawit (plasma).

Harga rata-rata pembelian TBS sawit yang berlaku per 6 November 2012 disepakati Rp1.060,41. Namun, kesepakatan itu hanya berlaku bagi inti dan plasma saja, sedangkan petani rakyat harus menerima nasib apa adanya.

Berdasarkan data dari Dinas Perkebunan Lampung, ada lima perusahaan besar yang menjadi mitra plasma, yaitu PT Karya Canggih Mandiri Utama (KCMU) yang menjalin kerja sama dengan plasma pada lahan seluas 2.709,07 hektare (ha), PT Bangun Nusa Indah Lampung (9.331 ha), PT Sumber Indah Perkasa (8.730 ha), PT Bukit Selatan Makmur Investindo (2.176 ha), dan PTPN 7 (2.620 ha).

Sementara data pekebun nonplasma, Disbun hanya mendata jumlah pekebun rakyat kelapa sawit di Lampung sebanyak 114,596 kepala keluarga (KK) yang mencakup luas areal 80.217 ha dengan total produksi 162.943 ton/tahun.
Sebelumnya, pimpinan PT Tunas Baru Lampung (TBL) Chia Hai Chui (Acui) menyatakan pihaknya selalu berusaha semaksimal mungkin melayani masyarakat.

“Kendala kami kini adalah bagaimana caranya kami bisa menjual CPO (crude palm oil) yang tingkat keasamannya sudah melewati batas dan tidak dibeli oleh calon pembeli yang kini mencapai 2.455 ton. Kami juga tidak menyangkal bahwa tidak beroperasinya lagi PT BSMI (Barat Selatan Makmur Investindo) menjadi salah satu faktor antrean di perusahaan kami karena sawit dari BSMI sebagian lari ke kami,” kata Acui. (UAN/R-3) foto: Ilustrasi

komentar facebook