Mi Sehat dari Bahan Alami

Sajian mi. Dok. Lampung Post

SIAPA yang tidak kenal dengan mi. Selain murah dan mudah dijumpai, jenis makanan ini banyak digemari semua kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga orang tua.
Di Indonesia, kudapan ini hadir dengan berbagai merek juga rasa. Namun siapa sangka, di balik kelezatan makanan yang mengenyangkan ini memiliki efek buruk yang dapat mengancam kesehatan manusia, seperti kolesterol, diabetes, dan gagal ginjal.
Untuk itu, dosen Politeknik Negeri Lampung, Oktaf Rina, membuat terobosan dengan membuat mi sehat berbahan alami. Yakni mi sehat yang terbuat dari sayuran, buah-buahan, dan umbi-umbian. Menurut dia, olahan berbahan dasar terigu ini merupakan solusi dari nilai praktis pengolahan produk yang dapat diandalkan dalam usaha kuliner ini.
Pengolahan mi sehat cukup mudah sehingga dapat dikerjakan tanpa harus memiliki keterampilan khusus. Salah satunya adalah mi basah yang akan menjadi salah satu komponen utama dalam usaha kuliner. Sebab, mi dapat diolah menjadi beberapa menu lain, seperti mi ayam, mi goreng, mi rebus, campuran bakso, maupun mi yang dikeringkan.
Oleh sebab itu, bisnis mi menjadi peluang yang cukup menjanjikan karena dengan bahan baku dan pengolahan yang baik akan menghasilkan mi berkualitas dan memiliki nilai gizi tinggi. Polinela sebagai institusi yang memiliki tanggung jawab terhadap masyarakat mengajukan ide suatu teknologi pengolahan mi sayur yang dapat menambah nilai gizi. Selain itu, mi yang disubstitusi dengan sayuran juga memiliki warna yang lebih menarik bagi konsumen, terutama anak-anak.
“Mi sayur dapat memberikan komponen gizi serat pangan. Selain itu, beberapa mikro nutrisi seperti mi wortel akan mengandung karoten yang baik untuk kesehatan mata,” kata dia, Rabu (15/3).

Tanpa Pengawet
Ia menyebutkan sampai saat ini sudah ada empat varian warna dan rasa, yakni mi bayam (hijau), mi oranye (wortel), mi merah/pink (buah naga), dan mi ungu (mantang ungu). Secara visual, penampilan mi akan lebih menarik daripada mi tanpa menggunakan warna.
Apalagi jika di dalam mi juga mengandung senyawa yang dapat bermanfaat bagi kesehatan, seperti vitamin dan serat dari daun bayam, vitamin (karoten) dari wortel, serta antioksidan dalam buah naga dan ubi ungu. Pengolahan makanan yang higienis juga menjamin kualitas makanan yang dihasilkan. Namun, yang lebih diutamakan adalah mi sehat ini tidak menggunakan bahan kimia, seperti micin dan pengawet, sehingga asumsi masyarakat bahwa mi adalah makanan junk food adalah tidak sepenuhnya benar.
Selain itu, teknologi pengolahan makanan juga membuka wawasan untuk mengolah produk ini menjadi mi kering yang lebih praktis untuk didistribusikan ke tempat lain maupun penyimpanan pada waktu yang lama. Proses pengeringan secara bertahap pada suhu rendah juga akan mendukung adanya kelebihan produk makanan ini.
Teknik pengeringan ini tidak memerlukan cara yang khusus karena hanya menggunakan metode pengeringan kadar air dalam bahan pangan secara fisika. Alat yang digunakan adalah oven dengan suhu yang dikendalikan pada waktu tertentu, sehingga jumlah air dalam bahan akan berkurang dan meminimumkan kerusakan pada nutrisi yang terkandung di dalam produk mi.
Saat ini baru dilakukan untuk pembuatan dua varian mi kering, yaitu mi wortel (oranye) dan mi hijau (mi bayam). Jika sudah memiliki pasar yang lebih banyak, produk ini akan dikembangkan varian lain yang berpotensi menjadi peluang usaha yang lebih besar.