Musik Islami dan Pembangunan Lampung

Ilustrasi musik islami. 1.bp.blogspot.com

PEMAHAMAN tentang dinamika umat Islam dewasa ini, lebih khusus lagi mengenai perjalanan musik islami di Lampung, dapat diawali dari memahami dan menggerakkan pembaruan pemikiran, yang disebut sejarawan Kuntowijoyo (1987), “... lahirnya gerakan pembaruan dapat dilihat sebagai usaha untuk mencari ‘etik baru’ itu. Para pengamat sering menyebutkan adanya semacam rasionalisasi budaya Islam individu sehingga umat Islam yang hidup dalam tingkat ekonomi agraris dan prakapitalis dapat mengejar ketertinggalannya”. Tentu saja, bagi umat Islam dan para musisinya dewasa ini membutuhkan konsepsi-konsepsi “baru” (kembali ke ajaran-ajaran Islam yang benar) dalam upaya memberi muatan “pesan-pesan dakwah kontemporer” tentang cinta perdamaian; perilaku penegakan kebenaran, kejujuran, toleran; untuk pembaruan institusional, berupa tumbuhnya lembaga-lembaga baru; baik pada level individual, lembaga-lembaga, organisasi musik islami yang dikelola secara manajemen modern, yang mengedepankan pembaruan etika, moral, dan spiritual untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tentu saja, konsepsi-konsepsi baru berbasis etika itu bukan saja reaksi terhadap aktualitas, melainkan juga mampu menumbuhkan inovasi dan kreativitas berbasis realitas baru untuk menatap masa depan umat Islam yang lebih moderat.
Membangun musik islami (hadrah, kasidah, gambus, nasyid) tentu saja bukan hanya sebagai sarana untuk menanamkan kecintaan para pemuda, remaja, dan anak-anak terhadap musik islami dan melestarikan budaya Islam. Sebab, musik termasuk seni manusia yang paling tua. Bahkan, bisa dikatakan, tidak ada sejarah peradaban Islam dilalui tanpa musik, termasuk sejarah seni musik islami di Lampung. Sebab, Islam telah berkontribusi terhadap peradaban dan budaya Lampung.
Memang sebenarnya musik islami di Lampung selama ini merupakan kolaborasi dari musik dalam masyarakat Melayu, di mana seni musik ini terbagi menjadi musik vokal, instrumen, dan gabungan keduanya. Dalam musik gabungan, suara alat musik berfungsi sebagai pengiring suara vokal atau tarian.
Alat-alat musik yang berkembang di kalangan masyarakat, di antaranya canang, tetawak, nobat, nafiri, lengkara, kompang, gambus, marwas, gendang, rebana, serunai, rebab, beduk, gong, seruling, kecapi, biola, dan akordeon. Alat-alat musik di atas menghasilkan irama dan melodi tersendiri yang berbeda dengan alat musik lainnya.
Sebenarnya kata "seni" adalah sebuah kata yang semua orang dipastikan mengenalnya, walaupun dengan kadar pemahaman yang berbeda atau beragam. Konon, kata seni berasal dari kata "sani" yang artinya "jiwa yang luhur/ketulusan jiwa". Dalam bahasa Inggris dengan istilah "art" (artivisial) yang artinya adalah barang/atau karya dari sebuah kegiatan. Konsep seni terus berkembang sejalan dengan berkembangnya pemikiran, pengetahuan, kebudayaan, dan kehidupan masyarakat yang dinamis. Lebih mendasar, dapat diketahui beberapa pendapat tentang pengertian seni, di antaranya seni dipahami sebagai penciptaan benda atau segala hal yang karena keindahan bentuknya, orang senang melihat dan mendengarnya.
Sementara itu, musik sebagai salah satu media ungkapan kesenian, sebab musik mencerminkan kebudayaan masyarakat pendukungnya. Di dalam musik terkandung nilai dan norma-norma yang menjadi bagian dari proses enkulturasi budaya, baik dalam bentuk formal maupun informal. Sebab, musik itu sendiri memiliki bentuk yang khas, baik dari aspek struktual maupun jenisnya dalam wujud kebudayaan. Demikian juga yang terjadi pada seni musik islami yang berkembang dalam proses dan dinamika budaya masyarakat Lampung.
Sementara itu, perlu diketahui secara etimologi dan konseptual, musik adalah ilmu atau seni menyusun nada atau suara yang diutarakan, kombinasi dan hubungan temporal untuk menghasilkan komposisi (suara) yang mempunyai keseimbangan dan kesatuan, nada atau suara yang disusun sedemikian rupa; sehingga mengandung irama, lagu dan keharmonisan (terutama yang dapat menghasilkan bunyi-bunyi itu), sebagaimana dinyatakan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990: 602).
Berarti jelas dan dipahami, seni musik adalah cetusan ekspresi perasaan atau pikiran yang dikeluarkan secara teratur dalam bentuk bunyi. Dapat dinyatakan, bunyi (suara) adalah elemen musik paling dasar. Suara musik yang baik adalah hasil interaksi dari tiga elemen, yaitu irama, melodi, dan harmoni. Sedangkan irama adalah pengaturan suara dalam suatu waktu, panjang, pendek dan temponya.
Oleh karena itu, irama dapat memberikan karakter tersendiri pada setiap musik, termasuk seni musik islami. Jelasnya, kombinasi beberapa tinggi nada dan irama akan menghasilkan melodi tertentu. Selanjutnya, kombinasi yang baik antara irama dan melodi melahirkan bunyi yang harmoni serta dapat dinikmati oleh penggemarnya. n