Naluri Ibu

Sri Agustina, wartawan Lampung Post

UANGKU adalah hakku yang bisa aku gunakan semauku, buat shooping, membeli barang kesukaan, traveling, atau lainnya. Tapi, itu dulu, selagi aku lajang. Dan, begitu memiliki buah hati, tiba-tiba stigma itu berubah dengan sendirinya. Uangku buat anakku, entah membeli kebutuhan pokok seperti susu hingga popok, sampai membeli pakaian serta mainan yang meskipun sudah ada selusinan lebih.
Entahlah, keinginan membeli baju, sepatu, tas, atau akesori lainnya tiba-tiba saja lenyap. "Ah, untuk apalagi. Toh, sudah puas membeli segala yang kita inginkan sebelumnya. Lebih baik beli keperluan buat anak terkasih," begitu pikiran yang menari-nari dalam otak saya.
Kata orang, itulah naluri seorang ibu, yang lebih rela mengesampingkan keinginannya demi keutamakan buah hatinya. Mungkin, semua ibu melakukan hal itu. Mengutamakan kebutuhan sang buah hati ketimbang dirinya sendiri.
Ibu akan rela terkantuk-kantuk demi menjaga permata hatinya yang belum pulang dari aktivitasnya atau belum juga tertidur meskipun telah malam telah larut.
Saya jadi teringat polah ibuku—saya memanggilnya emak—yang belum juga tidur karena anak-anaknya belum berkumpul ke rumah dari berbagai beraktivitas. Padahal, matanya sudah begitu sayup, dan beberapa kali mulutnya menguap pertanda kantuk yang begitu kuat. "Mak, tidurlah kalau sudah ngantuk. Nanti semua pintu dikunci, lampu dimatikan kok," ucap saya.
Kala itu kakakku memang belum pulang meski jam di dinding menunjukan pukul 21.00, malam Minggu. Padahal, biasanya pukul 18.00 sudah berada di rumah. Seperti enggan mengaku kalau emak nungguin sang kakak, emak beralasan menunggu air mendidih untuk ngecor (buat) kopi kakak. "Iya nanti biar saya yang ngecorin kopi. Tidur aja, Mak, kan jam tigaan sudah kebangun lagi," pinta saya.
Si emak masih duduk sambil kepalanya terhuyung dan tersenyum. Tak lama terdengar suara kakak membuka pintu gerbang. "Nah, itu sudah datang. Ayo dicor kopinya," ucap emak. Ngobrol sebentar lalu emak pamitan untuk tidur sambil meminta tak lupa mengunci pintu dan mematikan lampu yang tak perlu.
Ya, emak memang seperti itu. Amat memperhatikan anak-anaknya. Bahkan, kadang rela menyisihkan makanan buat anak-anaknya, dengan mengatakan dirinya tak begitu doyan. Emakku memang hebat dan di usia senjanya ia tak pernah banyak mengeluh.
Semoga emak selalu sehat dan bisa melihat anak-anaknya, cucu, bahkan cicitnya tumbuh besar. Selamat Hari Ibu, Emak! ***