Nasab-Nasib

Susilowati (Lampost.co)

"Kang, njenengan datang enggak pada pengajian Maulid Nabi di Musala AlIjtihad?"
"Emang kenapa, Le?"
"Yang ceramah ayu loh, Kang?"
"Lah, kamu ini mau mengaji apa mau nyari wong ayu toh?"
"Ya dua-duanya, Kang,"
"Enggak bisa, Le, niat mengaji itu harus lurus dan tulus, ikhlas tanpa batas, enggak ada embel-embel apa pun."
"Nah itu, Kang, tadi yang disampaikan mubalignya, saya hafal betul karena saya enggak beranjak sedikit pun dari kursi tempat mengaji."
"Kamu enggak beranjak dari kursi itu menyimak ngaji atau mengagumi kecantikan penceramahnya?"
"Walah, Kang Santri ini lo, ya kalau mau jujur, ya dua-duanya bahkan semuanya."
"Semuanya bagaimana?"
"Tadinya saya datang itu niatnya mau mengaji, mendengarkan nasihat agama, supaya kita makin mengenal dan mencintai Kanjeng Rasul. Nah pas sampai, tepatnya saat penceramah naik panggung, saya kaget. Ternyata masih muda dan cantik. Semula saya takjub dengan kecantikannya, tetapi begitu memulai ceramah, saya jadi mengagumi ilmunya, Kang. Wong wanita secantik dan semuda itu kok sudah punya ilmu tuo. Itu kan jarang terjadi, Kang?"
"Lah, kamu tahu enggak yang ceramah itu siapa?"
"Saya ingat namanya, Kang, dan selalu saya ingat, Ainun Ni'mah. Ck..cek...subhanallah, wes aaayuuu...puinter..."
"Maksudku bukan sekadar namanya, Le, tetapi juga nasabnya?"
"Lah, kalau itu saya enggak tahu, enggak sempat tanya aku. Emang putrinya siapa, Kang?"
"Gadis yang membuat kamu termangu itu, Le, putranya Mbah Kiai Samsuddin Tohir, yang juga idolamu."
"O gitu ya, Kang, pantesan, buah memang tidak jatuh dari pohonnya ya."
"Bukan sekadar itu, orang-orang bagus itu nasabnya pasti dari orang bagus juga. Seperti Rasullullah, lahir sebagai manusia pilihan, orang tuanya, kakek neneknya, buyut, canggah, wareng, gantung siwur-nya orang bagus semua, tersambung sampai ke nabi Ismail putra Ibrahim."
"Nah, itu juga tadi diceritakan, Kang."
"berarti kamu benar-benar nyimak, Le."
"Ya benar enggak si Kang."
"Maksudnya?"
"Kadang-kadang di tengah nyimak saya terkagum-kagum sama Mbak Ni'mah, Kang."
"Enggak usah mimpi kamu, Le, kamu itu siapa, mbok ya ngukur baju."
"Saya sekadar mengagumi, Kang, kagum dengan orang yang pandai agama itu kan apik to Kang?"
"Ya, apik, Le. Enggak apik jika kamu mengaggumi cewek cantik, anak ulama besar, dan keturunan ulama-ulama hebat. Mbah Kiai Samsudin itu dari awal mondok saja sudah didoakan eyangnya untuk jadi mubalig. Sekarang, Mbah Samsuddin bahkan putra-putrinya jadi mubalig kondang. Berarti nasab orang yang kamu kagumi itu bukan sembarangan, Le. Doanya langsung diijabah Allah. Lah kita?"
"Ya kita ikut mereka, Kang."
"Ya itu tepat, Le. Tetapi jangan mimpi jadi mantu ya."
"Oalah Kang-Kang, mimpi saja dilarang, nasib..nasib.