Pejabat Narkoba Tak Perlu Direhabilitasi

Ketua Umum Granat Henry Yosodiningrat tampil sebagai pembicara dalam seminar tentang peredaran narkoba di hadapan ratusan anggota Persatuan Perawat Nasional Indonesia di Griya Kebun Desa Banjarejo, Kecamatan Batanghari, Lampung Timur, Sabtu (4/3/2017). L

SUKADANA -- Peredaran narkoba di Indonesia bertujuan untuk menghancurkan bangsa Indonesia. Peredaran narkoba dilakukan organisasi internasional secara konsepsional dan sistematis. Hal itu disampaikan Ketua Umum Organisasi Gerakan Antinarkoba (Granat) Henry Yosodiningrat di hadapan ratusan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Lampung Timur, bertempat di Griya Kebun miliknya di Desa Banjarejo, Kecamatan Batanghari, Lampung Timur, Sabtu (4/3/2017).
Henry Yosodiningrat juga menentang pemberian rehabilitasi terhadap pejabat pejabat yang tersandung kasus narkoba. Menurut politisi PDIP tersebut, yang perlu direhabilitasi adalah pemakai narkoba yang sudah di tingkat pecandu.
Arti pecandu, ujarnya, mereka yang ketergantungan akan zat-zat tertentu baik fisik maupun psikis. "Kalau pejabat yang direhab itu sudah unsur cari keuntungan menjualbelikan surat rehabilitasi oleh oknum tertentu. Pejabat itu bukan ketergantungan melainkan memakai untuk keperluan tertentu, dan di Lampung ini ada dua pejabat yang kena rehab dan seharusnya itu tidak terjadi," ujar Hendri yang juga sebagai anggota DPR.
Pintu masuk perdagangan narkoba bisa dikatakan memiliki sejuta pintu. Perdagangan yang paling besar sebenarnya bukan melalui pelabuhan laut.
Menurut dia, perdagangan narkoba yang melalui pelabuhan laut hanya kecohan. Pintu masuk yang paling besar, menurut pria kelahiran Krui itu, yakni pelabuhan peti kemas.
Henry Yosodiningrat menjelaskan pecandu narkoba tidak akan pernah berhenti meskipun dihukum dalam rutan selama lima tahun bahkan lebih. Dia memastikan tidak ada rumah tahanan di Indonesia yang aman dari narkoba. "Tunjukan pada saya, kalau ada rutan yang aman dari peredaran narkoba di Indonesia ini," tegasnya.
Dengan maraknya peredaran narkoba sedikitnya 50 orang per hari tewas akibat zat mematikan itu dan 6 juta anak bangsa mengalami ketergantungan narkoba, sehingga untuk memberantas narkoba tidak cukup dilakukan pihak kepolisian saja. Perlu adanya keterlibatan masyarakat dengan cara membuat suatu ormas yang bertujuan memberantas narkoba.
Menurut Henry, menghilangkan narkoba dari muka bumi itu mustahil dilakukan sehingga solusi utama melakukan pencegahan dengan sesering mungkin menyosialisasikan kepada anak bangsa berusia remaja. "Bila perlu organisasi perawat melakukan sosialisasi tentang bahayanya narkoba di sekolah-sekolah, kami mengambil contoh daging babi haram bagi muslim, sehingga mau dijual dengan harga murah tetap tidak ada yang membeli. Jika di dalam jiwa anak bangsa tertanam pikiran enggan memakai narkoba mau dijual dengan harga murah mereka tetap tidak akan membelinya," terang Henry Yosodiningrat.