Pelacuran Keyakinan

Ilustrasi. 123rf.com

SANGAT ekstrem memang jika seseorang disebut melakukan pelacuran keyakinan. Ini melanda belahan dunia. Manusia lebih memilih siapa yang bisa memenuhi kebutuhan hidup hari ini, mulai dari kebutuhan publik hingga individu. Pertarungan Donald Trump dan Hillary Clinton dalam Pemilihan Presiden AS adalah contoh nyata.

Rakyat di negara adikuasa itu butuh kepastian, siapa yang pantas dan layak menjadi pemimpinnya. Trump tidak melahirkan politik transaksional material. Tapi yang jelas, dia membangkitkan semangat nasionalis rakyat Amerika untuk tidak dijajah bahkan harus menjajah bangsa lain.

Dalam laporan Reuters, sebuah destroyer Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) berlayar mendekati kepulauan di Laut Tiongkok Selatan yang diklaim Tiongkok sehingga memicu kapal perang Tiongkok mengeluarkan peringatan kepada destroyer agar meninggalkan wilayah perairan tersebut.

Langkah negara adidaya itu adalah upaya terbaru Washington melawan Beijing yang membatasi kebebasan berlayar di perairan strategis—dekat dengan Indonesia. Laporan dari pejabat AS itu terungkap setelah Trump memenangi pemilihan presiden. Dia membangun kedaulatan. Trump menang bukan karena politik uang, politik pangan, dan bahan bangunan.

Andaikan pemimpin itu sama dengan nakhoda. Jangan salahkan dia hari ini, jika kapal diterpa badai. Penumpang mabuk, terkulai lemas akibat amukan gelombang tinggi. Anak bangsa di negeri ini masih senang menerima mi instan, beras, karena terjerembap pencitraan pemimpin. Ketika keyakinan dilacurkan dengan uang dan sembako untuk memilih pemimpinnya.

Transaksi manual akan terjadi setiap pemilihan pemimpin. Cara seperti ini melahirkan budaya politik proletar. Anak bangsa tidak sadar! Kepercayaan berangkat dari hati nurani kalah dengan hawa nafsu. Hubungan antara pemimpin dan rakyat tak dilandasi dengan pernikahan sah. Cukup materi, sehingga tidak menumbuhkan pertautan rasa kultur bangsa yang beradab.

Hubungan kasih sayang melahirkan semangat cinta. Sebaliknya, hubungan tanpa pernikahan melahirkan anak abangan tanpa keterikatan emosional. Sebuah kerapuhan cinta yang dibangun pemimpin seperti ini. Mereka hanya untuk menyalurkan hasrat biologis demi kepuasan sesaat. Jika dilanda prahara, sikap pelacuran keyakinan itu menumbuhkan penyakit ketidakpercayaan publik kepada pemimpinnya, begitu sebaliknya.

Anak bangsa hanya memilih pemimpinnya dengan melihat kemampuan finansial dan popularitas. Jangan harap pemimpin tadi berpikir waras serta menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi rakyat. Justru menjadi bulan-bulanan. Sengkuni adalah contoh tokoh dalam cerita wayang Mahabrata. Dia dicap licik, culas, keji. Tapi, ia pintar dan banyak akalnya. ***

Cara berpolitik Sengkuni seirama dengan dogma Niccolo Machiavelli, yakni menghalalkan segala cara. Sengkuni tidak peduli aturan. Dia sesuka hati melanggar etika dan dasar-dasar rumah tangga kerajaan. Berpikir Sengkuni sangat pramagtis, dan tak gentar melangkah meski berbenturan dengan pandangan elite Kerajaan Astina.

Sengkuni dengan lantang dan tegas berani berbeda pendapat secara terbuka. Bahkan dia pun sering mengkritik sesepuh kerajaan yang berpendirian lemah. Jika dibandingkan dengan Adipati Karna, Senapati Astina, Sengkuni sering mengabaikan pertimbangan etika, nilai, dan watak kesatria. Dia menyadari bahwa kerajaan tak suka dengan sikapnya.

Dalam perang suci Baratayuda, Sengkuni meregang nyawa di tangan Pandawa, Werkudara. Itu akibat dari perbuatan hawa nafsunya. Dia berhasil memfitnah dan menjatuhkan Gandamana dari kursi patih Astina. Sengkuni juga mampu mengadu domba sehingga terjadi perang pamuksa yang menewaskan Pandu dan Raja Pringgondani Prabu Trembaka.

Tewasnya Pandu itu melapangkan perjuangan Sengkuni mengantarkan Kurawa menguasai Astina. Setelah sulung Kurawa, Duryudana, sukses naik takhta. Lalu Sengkuni menjadi patih Astina. Cerita wayang Mahabrata itu mengilhami perjalanan perpolitikan bangsa-bangsa di dunia, termasuk Indonesia. Saling menjatuhkan, menyingkirkan, fitnah, dan adu domba.

Semua dihalalkan untuk satu tujuan. Bagi Indonesia, negara yang dibangun dari rasa kepercayaan diri—menerapkan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, tak mudah rontok. Jika Pancasila ditinggalkan, negeri akan mengalami krisis kebangsaan yang berkepanjangan. Pancasila dinilai sangat ampuh menyelesaikan persoalan yang melilit bangsa.

Dalam perjalanan sejarah, Pancasila lahir di tengah abad pertarungan ideologi kapitalisme dan sosialisme. Pemikiran founding fathers negara ini merangkum ideologi untuk mengelola perbedaan antardaerah. Pancasila menjadi perekat perbedaan suku, agama, ras, dan antargolongan. Rasakan dan lihatlah apa yang terjadi saat ini? Serba tidak ada kepastian.

Pancasila sudah ditinggalkan? Iya, jawabnya. Karena Pancasila mendoktrin keberpihakan kepada rakyat dan tumpah darah Indonesia, bukan pasar bebas untuk kepentingan negara lain.

Pancasila adalah ideologi dan jati diri bangsa yang beradab. Tidak melacurkan keyakinan anak bangsa. Pancasila sangat santun dalam keberagaman beragama, bernegara. Santun berpolitik menuju kekuasaan—bukan seperti Sengkuni. ***