Pemandian Way Belerang yang Terlupakan

Beberapa pengunjung melihat kondisi bangunan objek wisata pemandian Way Belerang di Desa Sukamandi, Kecamatan Kalianda, Lampung Selatan, Senin (6/3/2017). Objek wisata tersebut kini dibiarkan tidak terawat. LAMPUNG POST/ARMANSYAH

DUA lelaki muda itu melaju dengan santai menuju objek wisata pemandian Way Belerang di Desa Sukamandi, Kecamatan Kalianda, Lampung Selatan, Senin (6/3/2017). Dengan mengendarai sepeda motor, mereka pun masuk ke pintu pemandian air panas itu.
Sekitar pukul 10.00, suasana begitu sepi dan sunyi. Tidak begitu banyak pengunjung yang masuk lokasi objek wisata tersebut. Hanya ada beberapa pengunjung dan warga sekitar yang ada di lokasi itu. Objek Wisata itu seperti dilupakan.
Kedua lelaki itu adalah Rendi (29) dan Jojo (35). Mereka pengunjung yang sengaja berlibur di pemandian Way Belerang. Di tengah perjalanan memasuki lokasi, mereka tidak menyangka kondisi bangunan objek wisata kebanggaan warga Lampung Selatan berbeda.
Merekan mengaku miris melihat beberapa bangunan yang ada rusak parah. Atap rangka baja kamar mandi dan ruang menuju pemandian berkarat, runtuh, dan lapuk. Kemudian, lantai kolam pemandian di beberapa titik ambles dan terkelupas. Bahkan, besi cor beton lantai fondasi kolam pun banyak terlepas.
"Sangat memprihatinkan kondisi pemandian Way Belerang ini. Banyak bangunan rusak dan dibiarkan rusak. Kami khawatir besi yang ada di kolam bisa melukai pengunjung. Jelas pengunjung akan waswas," kata Jojo.
Kerusakan pada beberapa fasilitas objek wisata itu diyakini memengaruhi minat pengunjung wisatawan lokal maupun luar daerah. "Pengunjung akan berfikir dua kali kalau tahu kondisi fasilitasnya banyak rusak," ujar warga Kecamatan Palas itu.
Menurut salah seorang penjaga, bangunan yang ada di lokasi itu dibangun pada 2013. Namun, kerusakan itu telah terjadi sejak dua tahun terakhir. Ia mengaku banyaknya fasilitas rusak akibat uap dari sumber air belerang yang mengandung zat racun.
"Zat racun itu menghancurkaan atap baja ringan dan beberapa bangunan lainnya. Seharusnya, bagian atap menggunakan genting supaya bertahan lama. Jelas, tidak akan bertahan kalau pakai baja ringan," kata dia yang jati dirinya enggan disebutkan.
Menurut informasi warga sekitar, kerusakan tersebut sudah sampai ke telinga pejabat Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lamsel. Bahkan, informasinya segera diperbaiki. Namun, untuk pelaksanaannya hingga kini belum ada terealisasi.
"Kalau dengar-dengar sih Maret ini akan diperbaiki. Namun, belum bisa kami pastikan apa betul akan diperbaiki. Sebab, sebelumnya pada awal 2016, akan diperbaiki, tetapi hingga saat ini belum ada realisasinya," ujar dia.