Pengamalan Ibadah dalam Masyarakat Lampung

Bumi Lampung dengan keberagaman masyarakatnya. (Ilustrasi)

DALAM setiap agama, termasuk Islam, mengajarkan paling tidak lima dimensi, yaitu ritual (upacara-upacara keagamaan, ritus-ritus religius: salat, misa, atau kebaktian); dimensi mistikal (pengalaman keagamaan: keinginan untuk mencari makna hidup, kesadaran akan kehadiran Yang Mahakuasa, serta tawakal dan takwa); dimensi ideologikal (serangkaian kepercayaan yang menjelaskan eksistensi manusia terhadap Tuhan dan sesama makhluk Tuhan yang lain.

Contoh, orang Islam memandang manusia sebagai khalifah Allah fi al-ardh, dan orang Islam dipandang mengemban tugas luhur untuk mewujudkan “wahyu; titah” Allah di bumi, dimensi intelektual (pemahaman orang terhadap doktrin-doktrin agamanya, kedalaman pemahaman terhadap ajaran-ajaran agama yang dianutnya; dan dimensi sosial, yaitu manifestasi ajaran agama dalam kehidupan bermasyarakat. (Glock & Stark: 1965: 20-21).

Fakta menunjukkan di kalangan masyarakat Lampung, terutama umat Islam, masih ada yang lebih menonjolkan dimensi ritual sehingga selalu sibuk membicarakan sunah dan bidah dalam masalah ibadah, tetapi kurang peka dalam permasalahan sosial. Ada juga komunitas muslim yang lebih menekankan aspek sosial, tapi kurang menggubris persoalan intelektualisme dan ritualisme agama.
Komunitas ini kurang mementingkan segi kaifiyah ibadah, kedalaman penguasaan teks-teks agama dan hal-hal yang bersifat “dasar” lainnya. Yang lebih diutamakan adalah menciptakan suatu tatanan yang adil dan egaliter dalam umat Islam.

Banyak umat Islam yang larut dalam ritualisme agama, tetapi tidak sedikit kaum muslim yang belum sepenuhnya menjalankan aktivitas ritual: tidak salat, puasa, tidak mampu baca Alquran, apalagi teks-teks Arab dalam berbagai kitab hadis, dan lainnya yang tidak berharakat. Dikhawatirkan orang yang tidak melakukan ritual ini akan menggunakan justifikasi syariat Islam, padahal mereka tidak paham akan ajaran yang benar. Kondisi semacam itu tidak jarang menimbulkan pengamalan yang sesat dan meresahkan masyarakat.

*Dua Dimensi

Oleh karena itu, yang ideal adalah perimbangan dari dua dimensi tersebut, ritual dan sosial. Makna zulumat (kegelapan atau kezaliman) seperti disinggung di atas yang merupakan “garapan” Islam juga mengandung tiga pengertian, yaitu ketidaktahuan tentang syariat, pelanggaran atas syariat Allah, dan penindasan.
Padahal, Islam diturunkan untuk membebaskan manusia dari hidup yang berdasarkan kemaksiatan dan kemungkaran menuju ketaatan, dari kebodohan tentang syariat menuju pemahaman tentang halal-haram, dan dari hidup yang penuh beban dan belenggu menuju kebebasan. Dengan begitu, jelas Islam tidak hanya berfungsi sosial, tetapi juga berfungsi ritual dan bahkan intelektual, yang mampu membaca dan merespons dinamika perubahan.
Problem pemahaman dan pengamalan ibadah, misalnya salat, berpuasa, pernikahan (walimah al ‘urusy), kematian (pengurusan jenazah), menunaikan zakat dan berhaji, sering ada yang masih keliru dan “diperdebatkan” karena miskinnya pengetahuan mereka tentang ilmu agama Islam.
Kondisi itu tampak pada perilaku-perilaku paradoks pada kelompok-kelompok tertentu umat Islam dalam mengamalkan ajaran agamanya, baik dari aspek ibadah (muamalah, mahdhah), perlakuan terhadap teks (kitab suci: Alquran; kitab-kitab hadis), studi agama, disiplin ilmu-ilmu Islam, dan lainnya. Rendahnya pemahaman dan miskinnya pengetahuan keagamaan di kalangan umat Islam merupakan fenomena dan tantangan yang perlu dikaji dan diatasi. Sebab, sikap paradoks itu menyebabkan agama Islam kehilangan “elan vitalnya”. Padahal, Islam diturunkan untuk rahmat bagi alam, manusia dan makhluk, yang demikian universal, holistik, humanis, demokratis, nonsektarian, terbuka, rasional, dan intelektual.

* Ekspresi Syukur
Pengamalan salat di kalangan umat Islam sudah membudaya dan terlembaga, di mana mereka memahaminya sebagai “perbuatan dan ucapan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam”. Salat dikategorikan sebagai ibadah mahdhah (ibadah murni) dan diamalkan secara ritual-formal oleh kebanyakan umat Islam yang selama ini dikonotasikan “tidak peduli terhadap nilai sosial”. Padahal, sebenarnya salat bisa dijadikan sebagai wejangan pembentukan kepribadian yang didasarkan komunikasi langsung dengan Allah swt dan membuahkan hasil untuk diekspresikan secara nyata dalam perilaku sosial yang berbasis etika dan moral.
Bagi mereka yang mengamalkan salat berdasar iman dan takwa berarti percaya akan adanya Allah swt dan kebenaran ajaran-ajarannya. Sebagai manusia yang beriman, di antara mereka percaya akan keberadaan dirinya sebagai hamba Allah. Oleh karena salat dipahami sebagai bentuk penghambaan yang spesifik, dalam salat hanya diwajibkan bagi manusia beriman, bukan diperuntukkan pada hewan atau jenis alam dan makhluk lainnya, meskipun sama-sama makhluk Allah.
Pengamalan salat lebih ditekankan pada ekspresi syukur seorang hamba kepada pencipta-Nya. Tetapi bukan lantaran menghindari siksaan dan untuk memperoleh pahala dan merupakan tindakan yang logis dilakukan oleh manusia yang berakal dengan penundukan diri, yang diekspresikan dengan doa dan janji langsung dengan Allah. Dapat dicermati, pernyataan pakar ilmu agama Islam, yang menyatakan: dalam praktiknya, salat dapat dilakukan sendirian atau bersama-sama (jemaah). Nilai salat jemaah ini 27 kali lipat lebih baik dibanding sendirian.
Memang banyak nilai-nilai yang dapat diambil dari praktik salat jemaah, yang bisa dijadikan pelajaran untuk pembentukan kepribadian. Nilai yang dapat kita ambil itu, minimal ada dua, pertama, kebersamaan dan persatuan. Dari sini hendaknya dapat diambil pelajaran bahwa kebersamaan dan persatuan adalah sangat diperlukan dalam kehidupan umat. Kedua, dalam salat jemaah ada seorang imam yang harus diikuti oleh semua makmum (pengikut). Makmum tidak boleh menyalahi imam selama imamnya sesuai dengan aturan yang ada. Kalau imam ada kekhilafan, para makmum wajib menegurnya, dan makmum boleh menyendiri dari imam jika imam tidak mau ditegur (Azizy, 2000: 200). n