Pengaruh Seni Islam dalam Adat Lampung

Marawis, salah satu seni musik islami. mataair.or.id

KEBUDAYAAN Islam masuk seiring dengan ajaran agama dan seni musik yang dibawa penyebarnya masa lalu memengaruhi kehidupan masyarakat Lampung. Misalnya, pada awal perkembangan musik Islam hanya mengenal alat berupa rebana, rebab, seruling, dan beduk.
Namun, dalam perkembangannya dikenal kemudian berupa kasidah sehingga kasidah disebut sebagai salah satu jenis musik tertua dalam Islam. Dalam perkembangan berikutnya, masyarakat Lampung mengenal alat musik lainnya berupa gambus dan nasyid.
Bagi kalangan seniman dan peminat nasyid dipahami sebagai jenis musik yang lebih menonjolkan lirik daripada musik. Oleh karena itu, masyarakat mengenal juga musik naubah sebagai yang lebih menonjolkan unsur instrumen daripada lirik.
Dalam bidang kesenian, sebenarnya masyarakat mengenal juga berbagai seni pertunjukan tradisi, berupa seni tari dan musik, sedikit banyaknya mendapat pengaruh dan kebudayaan dan agama-agama yang sempat kontak dengan orang Lampung, meskipun kebanyakan mereka sekarang beragama Islam. Misalnya tari cangget (Martiara, 2000), yang banyak digunakan dalam masyarakat suku Lampung yang beradat Pepadun. Sedangkan tari yang serupa tapi banyak digunakan oleh masyarakat suku Lampung yang beradat Saibatin/Peminggir adalah tari nyambai (Mustika, 2013). Kedua tarian ini sekarang masih digunakan dalam upacara adat (begawi adat) di kalangan ulun Lampung.
Selain itu, ada juga seni tari tradisional bedayo Tulangbawang, yang menurut Agus Iswanto, peneliti Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta, dinyatakan: “cerita orang Menggala Tulangbawang sudah ada sejak abad ke-14, yakni ketika Lampung dimasuki pengaruh Hindu-Buddha” (Mustika, 2010: 23-28).
Dalam perkembangannya sekarang, tari ini tidak lagi digunakan sebagai tari persembahan dewa dalam upacara adat, tetapi digunakan sebagai tarian ucapan selamat datang, yang artinya ada pergeseran dari seni sakral menjadi seni profan.
Selain itu, ada juga seni tari-tarian yang juga sangat terkait dengan tradisi, yaitu tari topeng, atau yang banyak disebut orang Lampung adalah drama tari tupping di Kalianda, Lampung Selatan dan pesta sakura/sekura di Lampung Barat (Deradjat, Laksito, dan Bambang, 1992: 2).

Ritual Idulfitri
Sementara itu, menurut Wayan Mustika (2011), pesta tarian sakura ini pada awalnya adalah seni ritual, yakni ritual dalam rangka merayakan hari Idulfitri untuk saling bermaaf-maafan dan bersilaturahmi. Jenis tarian rakyat lainnya yang diperkirakan muncul seiring dengan penyebaran Islam adalah tari bedana (Taman Budaya Lampung, 2008: 3).
Bedana berarti pergaulan. Tari bedana lebih banyak digunakan oleh masyarakat Lampung beradat Saibatin. Pernah terjadi, ketika penulis menghadiri sebuah acara pernikahan salah seorang warga, penggunaan kemenyan (dupa) masih berlaku kendati dibacakan teks-teks selawat yang diiringi dengan seperangkat instrumen yang disebut dengan hadrah.
Dalam perkembangannya menarik juga mencermati perjalanan seni musik hadrah yang muncul seiring dengan masuknya Islam di Indonesia, maka cara yang paling mungkin adalah melacak dari mana Islam di Indonesia berasal. Setidaknya ada tiga pendapat mengenai dari mana Islam datang di Indonesia. Pertama, dari kawasan India, yakni Gujarat, Malabat, Bengal, Kedua, dari Persia, dan ketiga dan kawasan Arab (Azra, 2002: 24’30; Shihab, 2001: 8-12). Pendapat bahwa Islam di Indonesia dibawa oleh orang-orang Arab—bukan orang-orang India—sejak abad ke-7 dan mulai berkembang sejak abad ke-13, yang sempat singgah di wilayah-wilayah India, sebelum akhirnya sampai di Kepulauan Nusantara.
Meski secara historis, peristiwa itu penting dipertimbangkan dalam konteks perjalanan musik islami ke daerah ini. Sebab, selain pendapat atau teori ketiga ini, dapat juga menjadi jalan tengah dan perdebatan ketiga teori tersebut.
Konteks itu dapat dikaji berdasar pendapat Ismail Fajrie Alatas (2010: xxx), yang menyatakan: “salah satu dampak positif dan kemajuan rute-rute perdagangan di Samudera Hindia, kaum Sayyid asal Hadramaut mulai menyebar ke berbagai kawasan di Samudera Hindia, di antaranya Kepulauan Nusantara setelah sebelumnya menetap lama di India. Ketika bermukim di India, mereka sambil berdagang mendirikan pusat-pusat keagamaan dan tasawuf.”
Hal senada juga dikemukakan oleh Johns (1993) dan didukung oleh Azyumardi Azra (2002: 33), mengenai teori sufi sebagai pembawa Islam ke Nusantara. Jika benar demikian, meminjam teori difusi kebudayaan, maka tentu saja orang-orang Arab Hadramaut tersebut membawa kebudayaannya. Terkait bidang seni, terutama hadrah ini seperti yang digambarkan oleh Berg (2010, 81), bahwa alat rebana digunakan untuk mengiringi puji-pujian pada peringatan hari lahir Nabi Muhammad saw. Dan, puji-pujian itulah yang disebut “zikir maulid.” Puji-pujian itu tidak hanya dinyanyikan pada hari lahir Nabi Muhammad saw, tetapi juga pada segala peristiwa besar.
Penggunaan alat ini menjadi penting diperhatikan, karena menurut Sedyawati (1993: 147), jenis alat musik membranofon yang berkepala satu (hanya tertutup satu) baru dikenal setelah Islam datang, sedangkan alat membran yang lebih dikenal oleh orang-orang Nusantara-Indonesia adalah yang berkepala dua (kendang), serta alat musik kecrek, gending yang terbuat dari logam seperti dalam sistem gamelan atau alat musik Jawa.
Berarti, jenis alat membran berkepala satu itu yang menjadikan “khas.” Jadi, bisa dimungkinkan, dengan pernyataan-pernyataan di atas, alat-alat pukulan, yang juga lazim digunakan dalam kesenian hadrah diperkenalkan para pembawa Islam asal negeri Arab Hadramaut, yang singgah terlebih dahulu di India dan melanjutkan penyebarannya di bumi Nusantara.n