Pepadun Batu

Pepadun batu. 2.bp.blogspot.com

DINAMIKA masyarakat adat Lampung diakui karena adanya kelembagaan adat dan anggota dari dewan adat (Proatin; Perwatin) suku-suku asli Lampung, seperti Abung Selagai, Kunang, dan Mego Pak di Tulangbawang tengah memberikan saya informasi secara konsisten bahwa Pepadun tertua tidak dibuat dari kayu, melainkan dari batu.
Memang pada masa awal Bantam, di abad ke-16 pertengahan, kursi kehormatan dari pemimpin suku ini terbuat dari batu. Pada 27 Juli 1953 di Menggala, para penyimbang dari suku-suku di daerah timur laut Mego Pak menjelaskan kepada saya bahwa Pepadun batu ini kembali ke zaman jauh sebelum Minak Paduka Begeduh, sebelum titik balik tahun 1430, di masa tersebut suku Abung seluruhnya masih menghuni wilayah pegunungan.
Di pemukiman di dataran rendah, hanya boleh membawa kepingan kecil. Pepadun yang terbuat dari kayu muncul pada zaman Bantam sesaat setelahnya. Pengetahuan ini merupakan tradisi di suku pada zaman Minak Paduka Begeduh. Begitu pula nama "Pepadun" muncul sesaat kemudian pada zaman hubungan dengan kesultanan Banten. Pada zaman dulu, singgasana ini tidak disebut dengan nama Pepadun.
Bukti untuk penjelasan ini diberikan pada hari-hari berikut ini. Para penyimbang daerah timr laut menceritakan kepada saya mengenai Pepadun Batu yang masih digunakan. Objek ini berada di kampung Menggala. Marga dari Penyimbang Warganegara dari suku Buwei Bulan mengajukan hak kekayaan, meski marga ini menduduki Pepadun kayu yang baru. Satu dari marga lain yang membuktikan hak mereka melalui silsilah Pepadun, memperselisihkan hak ini.
Pepadun batu ini berlokasi di sebuah tempat di Menggala yang bernama Kibang Tengah. Di sana, Pepadun tersebut diletakkan di depan rumah Minak Rijow Menawang Burhanuddin di tempat terbuka.
Berdasar hasil observasi peneliti, dijelaskan bahwa kursi tersebut terdiri atas sebuah penyokong dari batu yang lebih kecil berukuran 80 x 80 cm. Di atasnya, di bagian tengah terdapat dua balok batu besar berbentuk bundar berukuran diameter 50 cm dan tinggi 50 cm. Di sekeliling batu-batu yang berukuran lebih besar ini terdapat satu lusin batu kecil.
Kedua batu utama dikerjakan dengan tangan manusia, pada batu luar yang lebih kecil ditemukan jejak pengerjaan pada permukaan yang halus. Materialnya adalah batu pasir yang keras dan kasar. Permukaan batu-batu tersebut seluruhnya rusak karena pengaruh kuat cuaca.
Sasako juga termasuk pada Pepadun batu, salah satu dari penopang belakang tersebut yang baru ada pada masa Bantam. Sasako ini terdiri atas tiga papan kayu yang memiliki panjang 1,70 m hingga 2,30 m. Lebar pada semuanya tidak lebih dari 60 cm. Papan kayu yang berat ini dipotong pada sisi depannya. Kayu ini memiliki relief berpola sulur. Pajum putih juga merupakan bagian dari Pepadun Batu, sebuah layar yang menampilkan tingkatan Pepadun Marga tertinggi melalui warna.
Generasi yang ditulis menerangkan periode waktu setidaknya 300 tahun. Dengan ini, baris pemilik Pepadun batu tersebut dimulai sekitar dari tahun 1650 M. Namun, orang Abung kelompok Mego Pak tampak sudah menghuni di wilayah Tulangbawang lebih lama. Selain itu, pemilik Pepadun batu tersebut menceritakan cerita berikut: Dahulu, Pepadun tersebut berdiri di desa lain. Di sana, datanglah perampok Bugis untuk menjarah. Pemilik Pepadun yang sebelumnya dapat melarikan diri tepat waktu. Ia membawa Pepadun tersebut, sebagai barang paling berharga di sukunya dengan perahu. Ketika ia tiba di tepi sungai dan Pepadun itu dipindahkan ke tanah, di situ Pepadun tersebut menolak untuk dinaikan ke atas tepi sungai. Setelah berusaha keras, pemilik ini sangat marah dan memukul Pepadun itu dengan tongkat. Pepadun itu melompat ke tangguk yang curam. Di atas sana, Pepadun yang terbuat dari kayu itu berubah menjadi batu.
Inti sebenarnya dari cerita ini adalah sebagai pengingat pada masa sulit bajak laut Bugis dan Melayu, terutama di sini, di Tulangbawang, tempat dulunya mereka melakukan beragam aktivitasnya. Bajak laut ini kemudian menyerbu Pepadun ini dan menghancurkannya sehingga Pepadun ini menjadi kepingan-kepingan. n